nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Ombudsman RI Duga UGM Lakukan Maladministrasi Terkait Kasus Pemerkosaan Mahasiswi

Agregasi KR Jogja, Jurnalis · Minggu 11 November 2018 13:09 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 11 11 510 1976218 ombudsman-ri-duga-ugm-lakukan-maladministrasi-terkait-kasus-pemerkosaan-mahasiswi-QtX6y7GIxz.jpg

YOGYAKARTA - Kasus pelecehan seksual yang menimpa mahasiswa UGM akan terus didalami oleh Ombudsman Republik Indonesia (ORI). ORI bakal melakukan investigasi dan klarifikasi lantaran diduga adanya potensi maladministrasi yang dilakukan UGM berupa penundaan penanganan kasus, sehingga kasus ini menjadi berlarut-larut.

Anggota ORI, Dr Ninik Rahayu mengatakan, seharusnya penanganan kasus ini bisa diselesaikan sejak lama karena kasusnya sudah terjadi saat kegiatan kuliah kerja nyata (KKN) di pertengahan 2017.

"Saya menduga ada potensi malaadministrasi karena berlarutnya kasus ini," kata Ninik Rahayu di Kantor ORI Perwakilan DIY, Sabtu 10 November 2018.

Dari data-data yang diperoleh ORI terkait kasus ini, Ninik menduga dalam program KKN UGM, mahasiswa maupun dosen pembimbing tidak dibekali materi khusus tentang upaya perlindungan terhadap korban saat terjadi kekerasan seksual maupun fisik di lokasi KKN. Hal itu terlihat dari respons yang gagap dari koordinator tim KKN dan dosen pembimbing yang justru membawa penyelesaian kasus secara kekeluargaan, agar kasus tidak mencuat.

(Baca Juga: Dekan Fisipol: UGM Jangan Tutupi Kasus Pemerkosaan Mahasiswi saat KKN)

Alhasil, upaya yang dilakukan dinilai belum adil, karena pelaku hanya ditarik dari lokasi KKN, sedangkan penyintas (korban) dibiarkan sendiri tanpa pendampingan. Ninik juga menilai sejumlah rekomendasi yang telah diberikan oleh tim independen yang dibentuk UGM sendiri belum sepenuhnya dijalankan oleh pihak rektorat yang mengakibatkan penanganan kasus itu berlarut hingga saat ini.

"Rekomendasi (tim independen) belum dijalankan secara serius sehingga kasus itu viral setelah ada pemberitaan dari Balairung Press (Badan Pers Kampus UGM)," katanya.

Dosen Fisipol UGM Pipin Jamson mengatakan, sebagai bentuk dukungan terhadap penyintas dalam mendapatkan keadilan, mahasiswa Fisipol UGM dan pihak-pihak yang peduli dengan penyintas mengadakan aksi dukungan melalui hastag #kitaAGNI. Menurut Pipin, dari aksi itu, ada 1.600 orang yang memberikan dukungan langsung dan 3.150 yang memberikan dukungan secara online lewat ugm.id/dukungadni.

(Baca Juga: Bagaimana Universitas Menangani Kekerasan Seksual?)

Menurut Pipin, tuntutan #kitaAGNI sangat tegas, di antaranya menuntut UGM memberikan pernyataan publik yang mengakui bahwa tindak pelecehan dan kekerasan seksual dalam bentuk apapun, terlebih perkosaan merupakan pelanggaran berat. Kemudian menuntut UGM untuk mengeluarkan sivitas akademika UGM yang menjadi pelaku pelecehan dan kekerasan seksual serta memberikan teguran bahkan sanksi bagi sivitas akademika yang menyudutkan penyintas pelecehan dan kekerasan seksual.

"Penyintas sendiri menginginkan agar Rektorat UGM melakukan tindakan tegas dengan mengeluarkan dan memberikan catatan buruk untuk pelaku," katanya.

(aky)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini