Fenomena Post Truth di Era Derasnya Informasi

Andrea Heschaida Nugroho, Okezone · Kamis 15 November 2018 18:27 WIB
https: img.okezone.com content 2018 11 15 65 1978383 fenomena-post-truth-di-era-derasnya-informasi-Nc9hmBK0BQ.jpeg Universitas Tarumanagara (Foto: Andrea/Okezone)

JAKARTA - Post truth dalam komunikasi yang terjadi dalam penyebaran informasi ternyata memiliki dampak bagi pendengarnya. Fenomena itu diungkap menyusul derasnya informasi di era kecanggihan teknologi.

“Post truth merupakan dampak bagi pendengarnya. Ini iklan, ini juga post truth. Ini berbagai teknik dari post truth, yaitu yang terpenting adalah bukan menangkap yang diharapkan tetapi dari mana harapan itu diarahkan kepada emosi salah satunya kebencian,” jelas Pengajar Filsafat Etika dan Politik Universitas Tarumanagara Romo Dr J Haryatmoko dalam Konferensi Nasional Komunikasi Humanis (KNKH) dengan tema “Etika Komunikasi Bisnis di Era Kontemporer” di Auditorium M, Gedung Utama Universitas Tarumanagara, Jakarta Barat, Kamis (15/11/2018).

Baca Juga: Orasi Ilmiah di Untar, Sekjen Kemenprin Beberkan Arah Industri Indonesia di Era Industri 4.0

Haryatmoko juga mengungkapkan, bahwa ada salah satu teknik post truth yang seringkali dilakukan oleh jurnalisme di Indonesia, yaitu penulisan headlines yang menjebak dan mencari sensasi.

“Headlines itu menjebak dan mencari sensasi. Ada saya pernah lihat YouTube atau berita judulnya lain dengan isinya,” ungkapnya.

Nezar juga menceritakan bagaimana aplikasi sosial media terutama WhatsApp sangat efektif dalam penyebaran hoax hingga memakan korban di Meksiko.

untar

“Dan, WhatsApp jauh lebih efektif dalam penyebaran hoax, dan dampaknya juga luar biasa ada yang positif, ada yang negatif. Seperti kita begitu banyak dengar yang negatif, seperti pemberitaan BBC satu pekan yang lalu, tentang dampak penyebaran isu penculik anak di Meksiko yang mengakibatkan dua orang tidak bersalah dibakar hidup-hidup,” pungkasnya.

Sekadar diketahui, Universitas Tarumanagara mengangkat tema Etika Komunikasi Bisnis di Era Kontemporer, karena hak publik untuk mendapatkan informasi yang benar sering tidak diindahkan dalam hal politik, ekonomi, dan budaya, juga banyaknya hoax yang beredar karena kurangnya etika berkomunikasi.

Baca Juga: Wisuda 1.565 Mahasiswa, Rektor Untar: Lulusan Harus Kerja Efektif dan Efisien

Acara ini dibuka oleh Wakil Rektor Universitas Tarumanagara Gatot P Soemartono, dan Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi Riris Loisa, dan diisi oleh Pengajar Filsafat Etika dan Politik Romo Dr J Haryatmoko, Ketua Dewan Pers Yosep Stanley Adi Prasetyo, Praktisi Periklanan Janoe Arijanto, dan Dosen Fasilitator Komunikasi Politik Universitas Tarumanagara Dr. Eko Harry Susanto.

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini