nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Jaksa Ajukan Banding atas Vonis Caleg David Rahardja

Fakhrizal Fakhri , Jurnalis · Kamis 22 November 2018 22:06 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 11 22 338 1981486 jaksa-ajukan-banding-atas-vonis-caleg-david-rahardja-xcYQSG1Y8v.jpeg Caleg David Rahardja menjalani persidangan (Foto: Fakhrizal Fakhri)

JAKARTA - Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) DKI Jakarta memastikan jaksa penuntut umum (JPU) akan melakukan banding atas vonis ringan David Rahardja. David Rahardja merupakan caleg DPRD DKI Jakarta yang divonis melakukakan pidana pemilu dengan hukuman 6 bulan penjara dengan masa percobaan 10 bulan, dan denda Rp5 juta.

Majelis hakim juga menyatakan caleg yang bertarung di Dapil Jakarta II itu tak perlu menjalankan masa pidananya lantaran diberikan hukuman dengan masa percobaan selama 10 bulan.

"JPU Fedrik Adhar dan Erma Octora menyatakan akta banding dan Minggu depan akan mengajukan memori banding ke Pengadilan Tinggi DKI Jakarta," kata Komisioner Bawaslu Jakarta Utara, Benny Sabdo, Kamis (22/11/2018).

(Baca Juga: Caleg David Rahardja Divonis Hukuman Percobaan karena Pidana Pemilu)

Sebelumnya, Benny memaparkan, pihaknya masih pikir-pikir apakah menerima vonis hakim atau melakukan banding. Pasalnya, Gakkumdu Bawaslu Jakarta Utara terdiri dari tiga unsur yakni Bawaslu, Polri, dan Jaksa.

"Nah, kami nanti akan membahas secara lebih dalam lagi tapi yang jelas jaksa hari ini mengatakan masih pikir-pikir. Pikir-pikir itu artinya bisa melakukan upaya hukum bisa juga menerima," ucapnya.

(Baca Juga: Sasar WNI ABK, PPLN Buenos Aires Gelar Sosialisasi Pemilu 2019 di Atas Kapal)

Ilustrasi

Gakkumdu Bawaslu Jakarta Utara juga masih memiliki waktu selama tiga hari sebelum mengambil upaya hukum selanjutnya terhadap David Rahardja. Menurut Benny, pengusutan kasus pelanggaran pemilu oleh caleg agar memberikan efek jera kepada caleg lainnya yang bertarung di Ibu Kota.

"Ya tentu kasus ini menjadi pelajaran kita bersama ya bahwa politik uang itu memang menjadi pelanggaran yang berat. Artinya ini juga menjadi musuh bersama menjadi sebuah kejahatan demokrasi," ujarnya.

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini