nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Lakukan Survei, Peneliti Dari ITB Temui Fakta Baru soal Gempa Palu

Rikhza Hasan, Jurnalis · Jum'at 23 November 2018 15:51 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 11 23 65 1981822 lakukan-survei-peneliti-dari-itb-temui-fakta-baru-soal-gempa-palu-4TaP4qP6zZ.jpg Kampus ITB (Foto:Okezone)

JAKARTA - Tim peneliti dari Institut Teknologi Bandung (ITB) melakukan join survei ke lokasi bencana yang berada di Palu, Sulawesi Tengah pada 13-18 November 2018 lalu. Pada penelitian kali ini ITB bekerja sama dengan Pusat Studi Gempa Bumi (PusGen), Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman Kementerian PUPR, Himpunan Ahli Teknik Tanah Indonesia (HATTI), dan Geotechnical Extreme Event Reconnaissance (GEER) dari Amerika.

Tim peneliti ITB yang mengikuti survei ialah Ketua KK Geoteknik ITB, Masyhur Irsyam dan dari Pusat Penelitian Mitigasi Bencana (PPMB) ITB, Nuraini Rahma Hanifa. “Tujuan survei kali ini adalah untuk memahami fenomena likuifaksi yang terjadi pada gempa Palu 2018. Kemudian memahami penyebab ground failure dan extreme ground displacement di Balaroa, Petobo, Jono Oge, Lolu, dan Sibalaya,” ujar Masyhur Irsyam, dikutip dari situs ITB, Jakarta, Jumat (23/11/2018).

Baca Juga: Kiat Membangun Startup dari Hari Tjahjono, Bos Abyor International

"Melakukan investigasi kondisi geoteknik di daerah-daerah tersebut, mengupdate progress dan mengumpulkan data penyelidikan tanah yang telah berjalan selama ini, mengajak ahli-ahli geoteknik setempat, nasional dan luar negeri untuk bertemu dan berdiskusi di lapangan, serta memperkuat jaringan penelitian di dalam dan luar negeri," ujar Masyhur.

Pada survei ini ditemukan bahwa mekanisme likuifaksi yang terjadi berbeda-beda, meskipun ada kemiripan di Petobo, Jono Oge, Lolu dan Sibalaya, serta lokasi-lokasi tersebut dekat dengan secondary fault. Sedangkan di Balaroa terletak dekat main fault Palu Koro dan kemungkinan fenomena yang terjadi di Balaroa berbeda dibandingkan dengan empat tempat lainnya.

ITB

Keberadaan primary fault Palu Koro sudah dipetakan, sedangkan secondary fault ini perlu diinvestigasi lebih lanjut. "Dari temuan lapangan, di perkiraan likuifaksi terjadi di semua kondisi extreme di atas," tambah Masyhur.

Anggota survei yang terlibat terdiri atas Sukirman (Universitas Tadulako), Widjojo Adi Prakoso (UI/HATTI), Paulus Pramono Rahardjo (UNPAR/HATTI), Idrus M. Alatas (HATTI), Didiek Djarwadi (HATTI), Dandung Sri Harninto (HATTI) serta mitra Internasional dari GEER yaitu Joe Wartman (University of Washington), Ben Mason (Oregon Sate University/ Team Leader), Aaron Galiant (University of Maine), Jack Montgomery (Auburn University), Daniel Hutabarat (alumni Teknik Sipil ITB). Selain itu juga Ramli Nazir dari Universiti Teknologi Malaysia.

Baca Juga: ITB Buat Desain Penataan Ulang di Wilayah Lombok

Saat ini, dijelaskan Nuraini Rahma Hanifa dari PPMB-ITB, tim sedang menyusun laporan bersama, dan merencanakan penelitian lanjut yang lebih detail dengan melibatkan praktisi maupun mahasiswa program doktor. Juga akan melibatkan promotor yang dikenal luas secara international sebagai ahli likuifaksi, termasuk ahli geoteknik dari Jepang melalui kerjasama pemerintah dengan JICA.

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini