nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Guru Tidak Tetap Jadi Andalan Gantikan PNS yang Pensiun

Koran SINDO, Jurnalis · Rabu 28 November 2018 13:10 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 11 28 65 1983954 guru-tidak-tetap-jadi-andalan-gantikan-pns-yang-pensiun-AdtvjBNPWR.jpg Ilustrasi: (Foto: Okezone)

SEMARANG Guru tidak tetap (GTT) masih jadi andalan menggantikan guru pegawai negeri sipil (PNS) yang semakin banyak pensiun.

Ditambah minimnya jumlah peserta yang lolos tes CPNS formasi guru SMA/SMK. Menurut Kabid Pembinaan SMK Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jateng Hari Muryanto, berdasar perbandingan GTT dan guru PNS, jumlahnya hampir sepertiga bahkan lebih. Dia menyebutkan, guru PNS di SMA berjumlah 13.700 orang, sedangkan jumlah GTT mencapai 4.182 orang. Kemudian, guru PNS di SMK berjumlah 10.683 orang dan guru GTT 5.760 orang. Di SLB, jumlah guru PNS 1.483 orang dan GTT 421 orang. Tiga jenjang pendidikan tersebut, sesuai UU 23/2014 tentang Pemerintahan Daerah, menjadi kewenangan Pemprov Jateng.

Baca Juga: 2019, Guru Wajib Mengajar 8 Jam Sehari

“Tahun ini ada formasi CPNS (guru), namun yang lolos passing grade sedikit. Misalnya dapat tambahan guru, tapi akan ada yang pensiun 700 orang guru. Kami juga peroleh informasi, jika guru SD mencapai 800 orang yang pensiun perbulannya,” ujar Heri Muryanto saat berbicara dalam Diskusi Prime Topic MNC Trijaya FM bertema Tantangan Pendidik di Era Milenial di Lobby Gets Hotel Semarang kemarin. Dengan begitu, Pemprov Jateng berupaya meningkatkan kualitas GTT dan memberikan gaji standar UMK + 10% bagi yang memenuhi syarat jam mengajar.

guru

Namun, diakui Heri, dilihat dari keseluruhan guru yang mengajar belum semuanya sesuai kualifikasi. “Saat ini guru yang berpendidikan S-1 di SMA 86,15%, di SMK 70,24%, dan di SLB 77,03%,” sebutnya. Heri merinci, apabila dirata-rata, berkisar 75% guru yang berpendidikan S-1. Sisanya masih lulusan D-2 atau D-3 dan bahkan Sekolah Pendidikan Guru (SPG). Ketua DPRD Jateng Rukma Setyabudi menegaskan bahwa guru tidak boleh hanya sebagai pengajar, namun juga pendidik. “Guru harus memberikan materi pelajaran dan juga pendidikan budi pekerti sehingga anak tak hanya pintar soal kognitif, tapi juga memiliki tata krama dan sopan santun,” tegasnya.

Baca Juga: Tukin Rp2,9 triliun Belum Cair, Guru Madrasah Diminta Bersabar

Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) berharap pemerintah provinsi dan kabupaten/kota terus mendorong kesejahteraan guru. Hal tersebut menjadi salah satu faktor pendorong peningkatan profesionalisme guru. “Ya, idealnya gaji GTT dua kali lipat UMK karena tuntutan GTT tinggi, harus S- 1,” ungkap Wakil Sekretaris PGRI Jateng Maryanto.

(Ahmad Antoni)

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini