nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Mahasiswa Latih Masyarakat Konversi Biomassa Jadi Energi

Rany Fauziah, Jurnalis · Kamis 29 November 2018 13:38 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 11 29 65 1984494 mahasiswa-latih-masyarakat-konversi-biomassa-jadi-energi-6XeRN4Nygh.jpg Foto: Reuters

BANDUNG - Di tengah maraknya cadangan energi yang semakin menipis, maka kondisi tersebut harus segera mendapatkan solusi.

Hal itu mendorong mahasiswa ITB untuk melakukan pengembangan teknologi konversi biomassa menjadi bioenergi kepada masyarakat dari bahan pelet kayu (proses pemadatan kayu dan memiliki potensi yang baik sebagai substitusi bahan bakar fosil).

Dilansir dari laman Institut Teknologi Bandung, Rabu, (28/11/2018), konsumsi BBM di Indonesia saat ini mencapai kurang lebih 1,6 juta barel per hari dan diprediksi akan terus meningkat seiring dengan semakin berkembangnya kegiatan ekonomi dan bertambahnya jumlah penduduk.

 Baca Juga: Bangga, Mahasiswa Indonesia Pertahankan Juara Kompetisi Cyber Security

Tingginya angka tersebut karena semua sektor pembangunan di negeri ini membutuhkan energi. 85% dari kebutuhan tersebut masih bergantung pada BBM.

Cadangan energi yang semakin menipis, khususnya BBM, maka kondisi tersebut harus segera dicarikan solusi. Dalam situasi seperti ini, pemahaman terhadap pola konsumsi energi yang dilakukan oleh masyarakat, khususnya masyarakat di pedesaan adalah suatu keharusan dan menjadi hal yang sangat penting dilakukan.

Dosen Kelompok Keahlian (KK) Teknologi Kehutanan, Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati ITB melakukan pelatihan pengembangan teknologi konversi biomassa menjadi bioenergi kepada masyarakat. Program Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (PPM) tersebut dilakukan di kampus ITB Jatinangor beberapa waktu yang lalu, 28-29 September.

 Baca Juga: Hadapi Revolusi 4.0, Mahasiswa ITB Kembangkan Sistem Blockchain

Diikuti oleh 25 orang perwakilan masyarakat dari delapan desa di sekitar hutan pendidikan Gunung Geulis ITB Kabupaten Sumedang, Jawa-Barat. Kedelapan desa tersebut meliputi tiga desa di Kecamatan Jatinangor (Desa Jatiroke, Jatimukti dan Cisempur), empat desa di Kecamatan Cimanggung (Desa Mangunarga, Cikahuripan, Cinanjung dan Sawahdadap) dan satu desa di Kecamatan Tanjungsari (Desa Raharja).

Topik pelatihan yang diangkat yaitu "Pemanfaatan Serbuk Gergajian Kayu Hutan Rakyat sebagai Bahan Baku Pembuatan Pelet Kayu untuk Energi Alternatif Masa Depan."

Dalam pelaksanaan PPM tersebut, setiap desa diwakili oleh tiga orang peserta yang merupakan perwakilan dari karang taruna, petani, tokoh masyarakat, serta ditambah perwakilan dari forum komunikasi Gunung Geulis.

 Baca Juga: Amazon 'Gembleng' Ilmu Cloud Computing bagi 600 Mahasiswa di ITB

Pelatihan dilakukan kepada masyarakat di sekitar hutan pendidikan Gunung Geulis ITB karena didasari oleh kajian yang menunjukkan bahwa sebagian masyarakat pada delapan desa tersebut masih menggunakan kayu bakar untuk keperluan memasak sehari-hari dan di sisi lain potensi biomassa terutama limbah kayu dalam bentuk serbuk gergajian kayu, cabang dan ranting serta serasah jumlahnya sangat besar.

Ketua tim PPM Sutrisno menyatakan bahwa pelet kayu (wood pellet) merupakan energi biomassa yang berasal dari proses pemadatan kayu dan memiliki potensi yang baik sebagai substitusi bahan bakar fosil seperti minyak bumi, batu bara dan gas alam.

Bahan baku untuk pembuatan pelet kayu umumnya berasal dari limbah industri pengolahan kayu yang dapat berbentuk serbuk gergajian kayu (sawntimber dust), serpihan kayu (wood chips) atau serutan kayu (wood shavings).

"Pelet kayu merupakan salah satu contoh penggunaan sumberdaya hayati sebagai bioenergi, lebih tepatnya sebagai bahan bakar. Energi yang dihasilkan dari pelet kayu dapat digunakan untuk memenuhi berbagai kebutuhan rumah tangga maupun industri rumah tangga, mulai dari memasak sampai kebutuhan untuk pembangkit tenaga listrik," kata Sutrisno.

Sutrisno menambahkan, besarnya potensi sumberdaya hayati yang kita miliki, menjadi peluang yang sangat besar bagi pengembangan energi alternatif pelet kayu sebagai bioenergi. Pengembangan bioenergi dari pelet kayu dapat dimulai dari merubah perilaku pengguna energi di masyarakat, khususnya di pedesaan untuk menuju kepada terwujudnya desa mandiri energi. Konsep pengembangan desa mandiri energi dilakukan dengan mempertimbangkan berbagai aspek antara lain potensi desa, kesejahteraan masyarakat dan kelestarian lingkungan.

Setelah mengikuti kegiatan para peserta mengaku memiliki cara pandang baru dalam pengelolaan energi terbarukan. Mereka berharap kegiatan PPM perlu ditindaklanjuti di lapangan melalui bantuan peralatan untuk produksi pelet kayu oleh ITB kepada masyarakat dan bimbingan aplikasi teknologi pelet kayu sebagai modal dalam upaya peningkatan kesejahteraan mereka.

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini