nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

ITS Jadi Kampus Pengembang Ilmu Permukaan Bumi di Indonesia

Rany Fauziah, Jurnalis · Senin 03 Desember 2018 15:52 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 12 03 65 1986184 its-jadi-kampus-pengembang-ilmu-permukaan-bumi-di-indonesia-epkU6UsKil.jpg Ilustrasi: Reuters

SURABAYAInstitut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya mengembangkan Topography Augmented Reality (Top-AR). ITS pun menjadi satu-satunya kampus dalam mengembangkan TOP-AR di Indonesia yang terdaftar di laman University of California Davis.

Melansir dari laman ITS, Senin, (3/11/2018), Topografi merupakan suatu studi terperinci mengenai bentuk dan fitur permukaan bumi. Namun hingga kini, media pembelajaran terhadap ilmu ini masih ditunjang oleh perangkat dua dimensi. Tak lagi ragu, para pelajar hanya dapat melihat modelnya secara imajiner.

Baca Juga: Mengolah Limbah Jadi Bahan Baku Beton, Ini Cara Kerjanya

Top-AR sendiri merupakan sebuah sistem yang memperlihatkan degradasi warna sebagai representasi perbedaan ketinggian, bentuk, kerapatan garis kontur, serta simulasi gerakan air di muka bumi. “Produk ini ideal untuk digunakan sebagai alat pembelajaran langsung tentang ilmu kebumian,” ungkap Agung.

Dia melanjutkan, sistem ini bekerja dengan cara memindai pergerakan pasir melalui sensor, kemudian mentransfer hasil pindaian tersebut ke komputer. Hasilnya adalah bentuk visualisasi warna dan garis kontur yang telah diproses oleh komputer. “Sistem ini memungkinkan pengguna dapat membuat model permukaan topografi secara real time,” tuturnya.

Baca Juga: Mau Jago Berbahasa Inggris? Coba Main Game Besutan Mahasiswa Ini

Menjadi satu-satunya pengembang TOP-AR di Indonesia yang terdaftar di laman University of California Davis, Agung mengaku prototype ini sudah pernah dipamerkan di beberapa acara yang dihelat Departemen Teknik Geomatika, sejumlah seminar internasional geospasial, hingga bahkan telah dipesan oleh museum PT Timah Indonesia di Pangkal Pinang.

Di akhir kata, Agung menegaskan masih akan terus mengembangkan sistem tersebut bersama tim. “Ini masih versi 1.0, ke depannya akan diperbaiki dengan beberapa hal agar tingkat akurasi serta visualisasinya lebih baik,” kata lulusan Universite de La Rochelle Prancis ini.

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini