nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

China Larang Warganya Selenggarakan Pernikahan Mewah

Indi Safitri , Jurnalis · Selasa 04 Desember 2018 16:51 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 12 04 18 1986733 china-larang-warganya-selenggarakan-pernikahan-mewah-Ob6qrsE4ZQ.jpg Ilustrasi.

BEIJING - China telah menyerukan diakhirinya upacara pernikahan yang mewah seiring dengan peningkatan kampanye pemerintah terhadap pameran kekayaan dan kemewahan.

Kementerian urusan sipil China mengatakan , pernikahan harus "mengintegrasikan nilai-nilai inti sosialis dan budaya tradisional China" dan menghindari apa pun yang mewah. Pada konferensi tentang reformasi pernikahan yang digelar akhir pekan lalu, para pejabat menekankan perlunya memasukkan "Pemikiran Xi Jinping," ideologi politik presiden China, ke dalam pernikahan dan perencanaan pernikahan.

Kementerian akan meminta pemerintah setempat untuk membuat aturan "etiket pernikahan", mengikuti contoh satu wilayah China yang sudah membatasi tamu hingga 200 dan tidak mengizinkan hadiah senilai lebih dari 60.000 yuan (sekira Rp 125 juta), juga secara eksplisit melarang hadiah rumah dan mobil.

Pernikahan telah lama menawarkan kesempatan bagi orang China untuk memamerkan kekayaan mereka dalam budaya di mana "menyelamatkan muka" adalah hal yang sangat penting. Semakin mewah pernikahan, semakin mahal hadiah yang harus diberikan.

Kritik Pemerintah China terhadap fenomena ini bertepatan dengan rilisnya film Crazy Rich Asian, sebuah komedi romantis dengan aktor dan aktris Asia di mana pasangan menghabiskan USD40 juta (sekira Rp 571 milliar) dalam pernikahan mereka. Begitu mewahnya adegan pernikahan film tersebut, beberapa orang berspekulasi mungkin tidak akan pernah bisa melewati sensor Partai Komunis.

Para kritikus China menyasar materialisme yang dipelihatkan dalam film itu. mereka melihat Crazy Ricah Asian sebagai film yang "kelihatannya seperti film tentang orang Asia, tetapi semangatnya adalah orang Amerika.”

Diwartakan Stuff, Selasa (4/12/2018), pihak berwenang baru-baru ini mengambil tindakan keras yang bertujuan mengurangi "harga pengantin," yang semakin meningkat di China sejak empat dekade terakhir. "Kebijakan satu anak" yang diterapkan China telah menyebabkan sedikitnya jumlah perempuan di negara itu.

Tahun lalu, Dengzhou, sebuah kota di provinsi Henan, membatasi biaya untuk pengantin perempuan sebesar 30.000 yuan (sekira Rp62 juta).

"Pembalikkan mahar" ini biasanya termasuk biaya pernikahan yang mahal dan pembayaran tunai untuk pengantin dan keluarganya. Nilainya meningkat secara signifikan di daerah pedesaan di mana ketidakseimbangan gender lebih besar daripada di kota-kota.

Pihak berwenang juga prihatin bahwa tradisi menjahili mempelai pria dan wanita awalnya dianggap untuk mengusir roh jahat menjadi tidak terkendali. Seorang pria ditabrak mobil pekan lalu ketika dia mencoba melarikan diri dari perploncoan sebelum pernikahan yang membuatnya terikat dan dipukuli.

(dka)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini