nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Diduga Sakit Hati, Pria Australia Jebak Orang Lain Jadi Tersangka Teroris

ABC News, Jurnalis · Rabu 05 Desember 2018 07:09 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 12 05 18 1986962 diduga-sakit-hati-pemuda-australia-jebak-orang-lain-jadi-tersangka-teroris-WdWMYyoG8F.jpg Arsalan Khawaja (kanan), saudara dari pemain kriket Usman Khawaja, ditangkap karena menjebak orang lain dalam rencana teror yang menarget mantan PM Malcolm Turnbull dan mantan Menlu Julie Bishop. (Facebook)

NEW SOUTH WALES - Kepolisian New South Wales (NSW) Australia menangkap Arsalan Khawaja atas tuduhan menjebak orang lain sebagai perencana serangan teror terhadap mantan PM Malcolm Turnbull dan mantan Menlu Julie Bishop.

Arsalan (39 tahun) merupakan saudara seorang pemain kriket terkenal Usman Khawaja.

Polisi mengatakan, Arsalan ditahan bukan karena tuduhan akan melakukan serangan teror, melainkan karena menjebak Muhammad Nizamdeen dengan motif sakit hati akibat bertengkar soal perempuan.

Nizamdeen (25 tahun) kini telah kembali ke Sri Lanka setelah mendekam sebulan lebih dalam tahanan.

Dalam persidangan pada Oktober lalu, polisi tak dapat membuktikan Nizamdeen sebagai pemilik catatan rencana serangan teror.

Buku catatan yang kini jadi pusat penyidikan polisi ditemukan di kantor gedung perpustakaan Universitas NSW awal tahun ini.

Di dalamnya, terdapat rencana untuk membunuh politisi Australia, serta menyerang Sydney Opera House dan Harbour Brigde.

Sejak awal Nizamdeen telah membantah segala tuduhan yang dialamatkan pada dirinya. Dia menuding penyelidikan polisi sebagai "kekanak-kanakan, memalukan, dan bias".

Asisten Komisaris Kepolisian NSW Mick Willing menyatakan, polisi menyesalkan keadaan yang menyebabkan Nizamdeen menjadi tersangka dan harus mendekam sebulan lebih dalam tahanan.

"Kami akan menuntut dia (Arsalan) dengan tuduhan mengatur rencana dengan perhitungan, dengan motif sebagian karena sakit hati," jelas Willing.

Willing tetap bersikukuh membela tindakan polisi kepada mantan tersangka Nizamdeen, meski tuduhan terhadapnya tak terbukti dalam persidangan.

"Kami tidak boleh terlena karena ancaman teroris di negara ini sangat nyata. Bentuk kejahatan ini sering mengharuskan kita untuk campur tangan sejak dini," katanya.

Ditanya apakah polisi akan meminta maaf kepada Nizamdeen, Willing mengaku tidak berwenang menjawab masalah tersebut mengingat proses hukum masih berjalan.

Namun, Willing mengungkapkan, polisi telah menawarkan untuk menanggung seluruh biaya peradilan Nizamdeen. Nizamdeen sedang kuliah PhD sekaligus bekerja sebagai analis bisnis pada bagian TI Universitas NSW saat ditangkap polisi.

Berbicara di Kolombo, Sri Lanka pada November lalu, Nizamdeen menyatakan tidak akan pernah kembali ke Australia karena kejadian yang menimpa dirinya ini telah menghancurkan masa depannya.

Mantan tersangka teroris Muhammad Nizamdeen mengecam tindakan polisi yang menangkapnya tanpa bisa membuktikan tuduhan rencana serangan teroris. (Facebook)

"Saya dinyatakn bersih dari segala tuduhan. Saya berharap media dan masyarakat Sri Lanka membantu memulihkan kehidupanku yang hancur," ujarnya.

Asisten Komisaris Kepolisian Federal Australia Ian McCartney menilai penyelidikan kasus ini cukup unik. "Mengandung kompleksitas," katanya.

Namun, dia menyatakan pihaknya mendukung para penyelidik dan keputusan yang mereka ambil saat menangkap Nizamdeen.

(Baca Juga : Jalan di Brisbane Sempat Ditutup Akibat Ancaman 2 Pria Bersenjata)

Willing menambahkan pihaknya sedang mengevaluasi penanganan yang mereka lakukan dalam kasus ini.

Dari stadion Adelaide Oval, pemain kriket Usman Khawaja menyatakan kasus ini merupakan urusan polisi.

"Dengan pertimbangan proses hukum, tidak sepantasnya saya memberikan komentar," katanya.

"Saya mohon hargai privasi saya dan privasi keluarga saya," ujar Usman Khawaja.

(Baca Juga : Ribuan Siswa di Australia Turun ke Jalan Protes Lambannya Penanganan Krisis Iklim)

(erh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini