nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Literasi Digital Bagi Ibu Rumah Tangga

Feby Novalius, Jurnalis · Rabu 05 Desember 2018 18:29 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 12 05 65 1987289 literasi-digital-bagi-ibu-rumah-tangga-c2HByu9rCi.jpg Ilustrasi

HOAX atau yang sering kita kenal dengan sebutan berita bohong merupakan tindakan yang meresahkan masyarakat belakangan ini. Berita bohong sangat mudah berlalu lalang melintas melalui status, chatting group, maupun chat secara personal di media sosial.

Penyebaran berita bohong memiliki peran besar dalam persatuan dan kesatuan bangsa, sehingga apabila tidak ditangani serius dapat mengikis disintegrasi bangsa secara perlahan, dalam contoh kasus yaitu tersebarnya baliho dengan ungkapan “PDI-P Tidak Butuh Suara Umat Islam”.

Baliho tersebut telah ramai diperbincangkan diberbagai media sosial seperti facebook, whatsapp, twitter dan lain sebagainya. Namun, ternyata baliho tersebut merupakan baliho palsu yang telah diedit oleh seseorang sebelumnya, sehingga banyak kontra yang mempermasalahkan baliho tersebut.

Baca Juga: Heboh Mobil Masuk Kuburan Gara-Gara Sopir Digoda Kuntilanak, Ternyata Hoaks

Setelah diusut, ternyata penyebar berita bohong tersebut adalah seorang ibu rumah tangga asal Bandung. Ibu rumah tangga berinisial RN tersebut menyebarkan berita bohong melalui status pada akun facebooknya. Hal ini diketahui setelah polisi mengusut kasusnya.

Dikutip dari portalmongondow.com, saat ini kepolisian mengekspos sejumlah penyebar hoax yang sudah ditangkap. Di antaranya, pria yang berinisial D yang ditangkap di Pasuruan (kasus penculikan anak), EW di Jakarta Selatan (penculikan anak), RA di Jakarta Pusat (penculikan anak), dan JH di Purwakarta (penculikan anak).

Selanjutnya ibu rumah tangga berinisial DN di Cengkareng (penculikan anak), ibu rumah tangga N di Sukabumi (penculikan anak), ibu rumah tangga A di Pangandaran (kecelakaan Lion Air), ibu rumah tangga O di Blitar (penculikan anak), ibu rumah tangga TK di Tasikmalaya (penculikan anak), ibu rumah tangga S di Bandung (Lion Air), ibu rumah tangga N di Makassar (penculikan anak), dan US di Makassar (penculikan anak).

Maraknya penyebaran berita bohong yang tersebar melalui dunia maya dapat berbuntut masalah besar. Dalam contoh seperti kasus penyerangan FPI terhadap warga, padahal sebenarnya berita tersebut adalah berita bohong, namun minimnya wawasan literasi digital di kalangan masyarakat membuat banyak yang membagikannya dengan caption seolah menggambarkan kebenaran berita tersebut.

Dalam kasus lain seperti viralnya berita mengenai salah satu warung bakso terkenal di salah satu kota di Indonesia yang libur berjualan, di kabarkan bahwa pemilik bakso tersebut menggunakan daging tikus dalam pembuatan bakso, sehingga sang pemilik ditahan oleh kepolisian. Padahal dalam kasus nyata, sang pemilik libur karena membantu mempersiapkan pernikahan anaknya.

Baca Juga: Dituding sebagai Anak DN Aidit, Muannas Alaidid Polisikan 40 Akun Medsos

Berkaitan dengan kasus di atas, banyak warga yang beradu argumen di sosial media, masing-masing memiliki ambisi yang besar untuk mempertahankan pendapatnya. Hal ini jika dibiarkan lebih lanjut, maka akan membuahkan masalah besar seperti penyerangan, pembunuhan, distoleransi dan lain sebagainya yang sebenarnya memiliki potensi besar dalam memecah belah persatuan bangsa.

Berkaca dari kasus-kasus yang terjadi di atas, ternyata mayoritas tersangkanya adalah ibu rumah tangga (dikutip dari Koran Sindo). Hal ini membuktikan bahwa perlu diadakannya literasi digital agar bisa memiliki kompetensi mengolah informasi dan pengetahuan dalam sebagai kecakapan hidup. Hal ini penting karena berita bohong memiliki peran besar dalam persatuan dan kesatuan bangsa. Maka dari itu, diperlukan pendidikan untuk ibu-ibu agar dapat lebih selektif dalam mengolah informasi sebelum membagikan berita tersebut.

Salah satu hal yang bisa dilakukan yaitu dengan mengadakan pelatihan literasi digital melalui Pembinaan Kesejahteraan Keluarga(PKK), hal ini akan lebih efektif apabila sistem pendidikan dilakukan dengan sistem Top Down.

PKK memiliki 10 program pokok, salah satu poin yang akan dioptimalkan kali ini yaitu program keenam mengenai pendidikan dan keterampilan. Sistem pendidikan bisa dilakukan oleh Menteri Sosial dengan menggandeng dinas sosial daerah agar pendidikan literasi digital dapat segera dilaksanakan. Dengan kemampuan literasi digital yang dimiliki, masyarakat diharapkan agar lebih selektif dalam mengelola informasi yang didapat, dan lebih mengutamakan klarifikasi terlebih dahulu sebelum menyebarkan sebuah informasi.

Penggalakan tagar #SaringBeforeSharing harus lebih gencar dilakukan kepada seluruh lapisan masyarakat tanpa harus menunggu kasus-kasun lain yang diakibatkan perpecahan kesatuan bangsa.

Penulis: Mahasiswa Kurikulum dan Teknologi pendidikan UNNES Tirami Widyawati

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini