nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Slogan "SMK BISA!" Benarkah Lulus Bisa Langsung Kerja?

Jum'at 07 Desember 2018 20:40 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 12 07 65 1988338 slogan-smk-bisa-benarkah-lulus-bisa-langsung-kerja-nX7NUFmMtS.jpg Ilustrasi: Siswa SMK (Foto: Okezone)

7 JUTA Orang Indonesia menganggur, paling banyak lulusan SMK. Hal tersebut membuat saya terkejut, karena saya benar-benar tidak menyangka bahwa sekolah menengah kejuruan (SMK) yang saya kira selama ini menjadi pencetak tenaga kerja siap pakai, justru menjadi pencetak pengangguran yang paling tinggi dibandingkan dengan tingkat pendidikan lainnya.

Lulusan SMK kan secara otomatis sudah mempunyai keahlian? Seperti ahli mesin, komputer, otomotif, listrik, tata boga, dan jenis keahlian lainnya. Dari hal tersebut harusnya setelah lulus sekolah bisa langsung bekerja. Beda halnya dengan yang lulusan SMA, di mana mereka yang pada dasarnya tidak dibekali oleh keahlian-keahlian khusus karena memang lebih banyak ke teori dibandingkan prakteknya.

Baca Juga: Tak Mampu Bayar Biaya Sekolah, SMKN 9 Merangin Tahan Ijazah Lima Siswanya

Tapi nyatanya data Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2018, menyatakan bahwa tingkat pengangguran lulusan SMK sebanyak 8,92%, sementara lulusan SMA 7,19%. Tapi pada Agustus 2018, tingkat pengangguran dari lulusan SMK naik menjadi 11,24%, sementara tingkat pengangguran dari kalangan SMA juga mengalami sedikit kenaikan menjadi 7,95%.

Dari hal tersebut menimbulkan tanda tanya besar, sebenarnya apa yang sedang terjadi dan mengapa semua ini bisa terjadi? Apakah karena lulusan SMK yang ternyata tidak siap pakai, sehingga sekolah belum mampu menerjemahkan apa yang sebenarnya dunia industri butuhkan, atau ini semua terjadi karena kesalahan oleh individual siswa yang kurang serius dalam mengikuti pembelajaran? Tentunya ini tidak sesuai dengan slogan “SMK Bisa!”

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy menyampaikan bahwa kurikulum di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) harus diselaraskan dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri (DU/DI) sebagai bagian dari agenda utama revitalisasi SMK.

 smk

Revitalisasi SMK bertujuan untuk mengubah pola pikir yang sebelumnya hanya bertujuan untuk mencetak lulusan saja tanpa memperhatikan kebutuhan pasar kerja berganti menjadi paradigma mencari segala sesuatu yang berhubungan dengan pasar kerja.

Revitalisasi SMK diharapkan mampu memberikan dampak positif terhadap peningkatan mutu SMK dengan dua orientasi baru. Pertama, mengantisipasi datanya gelombang Revolusi Industri 4.o dengan segala teknologi desruptif yang menyertainya, dan kedua yaitu orientasi pengembangan keunggulan potensi wilayah sebagai keunggulan nasional untuk menciptakan daya saing bangsa. Pilar pertama memperkokoh jalinan SMK dengan dunia usaha dan industri abad XXI, pilar kedua mendongkrak keunggulan lokal menjadi keunggulan global.

Baca Juga: Pengangguran Turun, Partisipasi Kerja Lulusan SMK Tembus 13,7 Juta Orang

Dapat dilihat dari berbagai faktor penyebab terjadinya lulusan dari SMK banyak yang menganggur, seperti kurikulum yang digunakan untuk SMK masih belum sesuai dengan kebutuhan dunia usaha dan industri, kurangnya lapangan pekerjaan bagi lulusan SMK, kurangnya fasilitas kerjasama sekolah dengan dunia usaha, masih minimnya pengkajian dan pengendalian terhadap program keahlian yang ada di SMK, dan juga dilihat dari kurangnya motivasi setiap individu siswa untuk belajar.

Terdapat enam isu strategi yang menjadi prioritas revitalisasi SMK, yakni penyelarasan dan pemutakhiran kurikulum, inovasi pembelajaran, pemenuhan dan peningkatan profesionalitas guru dan tenaga kependidikan, dan kemitraan sekolah dengan dunia usaha/dunia industri (DU/DI) dan perguruan tinggi, standarisasi sarana dan prasarana utama, dan penataan/pengelolaan kelembagaan.

Penyelarasan dan pemutakhiran kurikulum SMK memprioritaskan kesesuaian perkembangan teknologi dan kesesuaian dengan kebutuhan riil dunia industri. Peningkatan kebekerjaan lulusan SMK akan didorong melalui pemberian sertifikasi kompetensi lulusan melalui Lembaga Sertifikasi Profesi Pihak Satu (LSP-P1). Selain itu, perluasan teaching factory di SMK dirancang agar mendorong inovasi dan produktivitas lulusan SMK.

(Linda Putri Palupi-Universitas Negeri Semarang)

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini