nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Prancis Bergolak, 125.000 Demonstran Turun ke Jalan Menjarah Toko

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis · Minggu 09 Desember 2018 10:30 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 12 09 18 1988764 prancis-bergolak-125-000-demonstran-turun-ke-jalan-menjarah-toko-4vwIF9RXmf.JPG Kerusuhan terjadi saat demonstran berompi kuning berunjuk rasa di Paris, Prancis (Foto: AP)

PARIS - Polisi menembakkan peluru karet dan gas air mata untuk menghalau pengunjuk rasa anti-pemerintah di seluruh wilayah Prancis. Aksi unjuk rasa itu berujung ricuh.

Otoritas rumah sakit di Paris menyebut 126 orang terluka di kota itu, tetapi tidak ada yang serius. Setidaknya tiga orang petugas polisi juga terluka.

Diperkirakan 125.000 demonstran turun ke jalanan di seluruh negeri pada Sabtu siang dan 10.000 di antaranya di Paris, yang ditandai dengan kerusakan paling parah. Di ibukota Prancis itu para penjarah menghancurkan etalase-etalase toko dan membakar sejumlah mobil penduduk.

Hampir 90.000 petugas dikerahkan di berbagai kota di Prancis untuk mengantisipasi bentrokan, dan 8.000 di antaranya dikerahkan di Paris, lengkap dengan 12 kendaraan lapis baja.

Pasukan 'rompi kuning' itu awalnya menentang kenaikan pajak bahan bakar tetapi sejumlah menteri mengatakan gerakan itu telah dibajak oleh para pengunjuk rasa dengan ideologi kekerasan. Dalam sebuah pidato televisi Sabtu malam, Perdana Menteri Edouard Philippe mengatakan para casseurs (pembuat onar) masih merajalela.

Ia menyerukan dilanjutkannya dialog antara pemerintah dan demonstran untuk menyelesaikan konflik. "Dialog telah dimulai. Sekarang kita perlu membangun kembali persatuan nasional," katanya, seperti dilansir dari BBC Indonesia, Minggu (9/12/2018).

Pekan lalu, ratusan orang ditangkap dan puluhan terluka dalam bentrokan di Paris yang beberapa di antaranya merupakan bentrokan jalanan terburuk di ibukota Prancis selama beberapa dekade.

Demo Paris

Selain Paris, demonstrasi juga berlangsung di berbagai kota lain seperti Lyon, Bordeaux, Toulouse, Marseille, dan Grenoble. Di beberapa kota lain, berlangsung demonstrasi lain, terkait isu perubahan iklim. Meriam air, gas air mata dan peluru karet digunakan petugas untuk menangani pengunjuk rasa.

Rekaman video menunjukkan seorang demonstran terkena peluru karet di badannya saat berdiri di hadapan sejumlah polisi dengan tangan mengacung terkepal. Setidaknya tiga wartawan juga terkena peluru karet.

Saat malam tiba, para pengunjuk rasa berkumpul di Place de la République, sementara polisi dengan perlengkapan lengkap berjaga dalam jumlah besar di Champs-Elysées. Enam pertandingan sepak bola Ligue 1 Prancis ditunda. Menara Eiffel, Museum Louvre, Musée d'Orsay, dan tujuan wisata lainnya pun ikut ditutup.

Walikota Anne Hidalgo menerbitkan seruan untuk menjaga Paris pada hari akhir pekan ini karena Paris adalah milik semua orang Prancis.

Sentimen anti-pemerintah di Prancis mengilhami unjuk rasa sejenis di negara-negara tetangga. Sekitar 100 orang ditangkap di Brussels. Di ibukota Belgia itu sejumlah demonstan melempari polisi dengan batu pengeras jalan, kembang api, petasan dan berbagai benda lainnya. Di Belanda, protes berlangsung di luar gedung parlemen di Den Haag, diikuti sekitar 100 peserta.

Salah satu pengunjuk rasa, Christophe Chalencon berharap Presiden Emmanuel Macron berani berbicara kepada rakyat Prancis. "Berani berbicara sebagai seorang ayah, dengan cinta dan rasa hormat dan bahwa dia akan mengambil keputusan yang berani," kata Chris.

Peringkat kepercayaan terhadap Presiden Macron saat ini telah jatuh di tengah krisis. Beberapa kalangan mengkritiknya karena kurang menunjukkan sikap kuat. Pada Jumat lalu, ia mengunjungi barak polisi di pinggiran Paris untuk menunjukkan dukungannya kepada aparat.

Demo Paris

Pemerintah Prancis mengklaim akan membatalkan kenaikan pajak bahan bakar dan tidak akan menaikkan harga listrik dan harga untuk 2019. Namun masalahnya, unjuk rasa ini telah merembet ke berbagai masalah lain.

Memenuhi salah satu tuntutan bisa jadi tidak cukup, karena pengunjuk rasa lainnya memiliki kepentingan berbeda dan tuntutan lain pula. Sebagian menuntut kenaikan upah, penurunan pajak, pensiun yang lebih baik, persyaratan lebih mudah untuk masuk universitas dan bahkan pengunduran diri sang presiden. Kini bahkan ada yang menjuluki Macron sebagai presiden bagi orang-orang kaya saja.

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini