nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Cerita Mantan Guru Bahasa Inggris soal Kebiasaan Aneh Putra Mahkota Arab Saudi

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis · Senin 10 Desember 2018 11:39 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 12 10 18 1989096 cerita-mantan-guru-bahasa-inggris-soal-kebiasaan-aneh-putra-mahkota-arab-saudi-FCt6QLzpqW.JPG Putra mahkota Kerajaan Arab Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman (Foto: Reuters)

LONDON - Nama Mohammed Bin Salman (MBS) baru dikenal dunia saat dia dinobatkan sebagai putra mahkota Arab Saudi dan kerap menerbitkan aturan-aturan kontroversial. Wartawan BBC Arabic, Rachid Sekkai, sempat mengajarinya Bahasa Inggris, sewaktu masih kecil. Dia mengisahkan kembali pengalamannya.

"Waktu itu, saya masih berprofesi sebagai guru di sekolah elite Al-Anjal di Jeddah. Saat saya menerima telefon di awal tahun 1996. Gubernur Riyadh, Pangeran Salman bin Abdul Aziz Al-Saud dan keluarganya, pindah sementara ke kota pelabuhan itu dan mereka butuh guru bahasa Inggris," ungkap Rachid mengawali ceritanya, dikutip dari BBC Indonesia, Senin (10/12/2018).

Mereka lanjut Rachid, kemudian memboyongnya ke Istana untuk menjadi tutor pribadi bagi anak-anaknya seperti Pangeran Turki, Pangeran Nayef, Pangeran Khalid dan tentu saja Pangeran Mohammed bin Salman.

"Saya waktu itu tinggal di sebuah apartemen di pusat kota. Setiap hari, seorang sopir akan menjemput saya pada pukul 07.00 dan mengantar saya ke Al-Anjal. Setelah saya selesai mengajar di sekolah, sopir akan mengantar saya ke istana," tuturnya.

Setelah melewati gerbang yang dijaga ketat, mobil yang mengantar Rachid melewati barisan rumah-rumah mewah dengan taman cantik yang dirawat oleh pekerja berseragam putih. Di dekat rumah-rumah itu, ada lapangan parkir luas dengan sederet mobil mewah. Itu adalah pertama kalinya ia melihat Cadillac berwarna merah muda.

Setelah tiba di bangunan utama Istana, Rachid didampingi oleh Direktur Istana, Mansoor El-Shahry, seorang pria paruh baya yang merupakan orang dekat dan favorit Pangeran Mohammed. Mohammed dulu lebih tertarik menghabiskan waktu dengan para penjaga di Istana, ketimbang mengikuti pelajaran. Sebagai anak tertua, dia sepertinya punya lebih banyak kebebasan untuk melakukan apa saja yang diinginkannya.

"Kemampuan saya dalam memonopoli perhatian para pangeran yang lebih muda akan berakhir saat Mohammed muncul. Saya masih ingat saat dia menggunakan walkie-talkie di kelas, yang dia pinjam dari salah satu penjaga. Dia akan menggunakannya untuk melontarkan lelucon dan candaan untuk saya kepada para saudaranya, ataupun para penjaga," kenang Rachid.

Ilustrasi Pangeran MBS

Kini, pangeran berusia 33 tahun itu menjabat sebagai menteri pertahanan dan putra mahkota Kerajaan Arab Saudi. Sejak dinobatkan sebagai pengganti sang ayah tahun lalu, MBS memposisikan dirinya sebagai pemimpin yang moderat dan ingin memajukan negaranya menjadi lebih modern. Menghadapi kritik tajam dari pihak oposisi yang lebih konvensional, MBS menggempur dengan reformasi ekonomi dan menerapkan aturan-aturan baru yang lebih 'liberal' di negara yang sangat konservatif.

Gebrakannya itu mendulang banyak pujian, tapi juga memicu kritik, terutama soal pelanggaran terhadap hak asasi manusia, termasuk perang yang tak kunjung berakhir di Yaman dan pembunuhan wartawan kenamaan Jamaal Khashoggi di konsulat Saudi di Turki, Oktober lalu. Atas kasus Khashoggi, Arab Saudi telah mendakwa 11 orang dan membantah keterlibatan sang putra mahkota.

"Di satu kesempatan, saya pernah dibuat terkejut oleh MBS, saat dia mengatakan pada saya, bahwa ibunya mengatakan saya adalah seorang gentleman sejati. Padahal saya tidak pernah bertemu dengan sang putri. Wanita bangsawan Saudi tidak pernah memperlihatkan diri di hadapan orang asing dan para perempuan yang kerap saya temui di Istana adalah seorang pengasuh asal Filipina," ungkapnya.

Rachid mengaku cepat akrab dengan para pangeran. Kendati mereka hidup di lingkungan Istana, mereka tak ubahnya seperti siswa-siswa yang lain, penasaran untuk belajar hal baru namun masih ingin bermain. Suatu hari, Direktur Istana, Mansoor El-Shahry memintanya untuk bertemu Pangeran Salman, yang ingin tahu perkembangan akedemik putra-putranya.

"Saya pikir ini adalah kesempatan baik untuk melaporkan kenakalan Pangeran Mohammed. Saya menunggu di luar kantor Pangeran Salman, bersama dengan tutor-tutor para pangeran lainnya, yang sudah jauh lebih familiar dengan protokol kerajaan dibanding saya," paparnya.

Ketika sang pangeran muncul, para tutor itu kata Rachid, langsung berdiri dan dirinya menyaksikan dengan takjub saat mereka, satu persatu, mendekati sang gubernur, membungkuk, mencium tangannya, menjelaskan perkembangan akademik secara singkat dan kemudian pergi.

Saat giliran Rachid tiba, pihak kerajaan tidak bisa memaksa dirinya untuk ikut membungkuk. Rachid mengaku belum pernah melakukannya hingga dirinya hanya bisa terpaku.

"Hal yang kemudian saya lakukan adalah meraih tangan sang calon raja Saudi dan menjabatnya erat. Saya ingat raut wajahnya yang terkejut. Namun dia tampaknya tidak mengambil pusing soal protokol kerajaan saya yang berantakan," celotehnya.

"Saya juga tidak menyebutkan kenakalan Pangeran Mohammed di kelas, karena pada saat itu, saya memutuskan berhenti dan kembali ke Inggris.

Tidak lama setelah itu, Direktur Istana El-Shahry memberi saya teguran keras karena gagal mengikuti etiket kerajaan," tambahnya lagi.

Selain Pangeran Khaled, yang kini menjabat sebagai duta besar Arab Saudi untuk Amerika Serikat, para pangeran lain yang diajar Rachid memilih menjauh dari mata penasaran publik. Kini, Rachid bisa kembali mengingat episode singkat yang luar biasa itu sekaligus menyaksikan mantan muridnya menapaki panggung dunia.

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini