nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

JK: Pemerintah Tak Selalu Melanggar HAM, tapi juga Jadi Korban

Selasa 11 Desember 2018 22:03 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 12 11 337 1989906 jk-pemerintah-tak-selalu-melanggar-ham-tapi-juga-jadi-korban-lB6BnZfhuc.jpg Wapres RI, HM Jusuf Kalla (Foto: Okezone)

JAKARTA - Wakil Presiden RI, HM Jusuf Kalla menyebut peristiwa pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang terjadi di Tanah Air tidak semuanya merupakan kesalahan pemerintah. Sehingga pemerintah harus bertanggungjawab terhadap peristiwa tersebut.

"Tidak asal ada kejadian, selalu pemerintah yang salah. Pemerintah (dianggap) tidak mau memperhatikan. Pemerintah itu selalu berusaha menyelesaikan, tetapi justru dilawan oleh kekuatan yang ingin melanggar HAM, seperti apa yang terjadi di Papua," kata JK saat menghadiri Peringatan Hari HAM Sedunia ke-70 di Kementerian Hukum dan HAM Jakarta, dikutip dari Antaranews, Selasa (11/12/2018).

JK mengatakan, peristiwa penembakan oleh kelompok bersenjata, di Kabupaten Nduga, Papua, merupakan pelanggaran HAM yang dilakukan terhadap masyarakat sipil dan aparat pemerintah.

Penembakan kelompok sipil bersenjata secara kejam itu menewaskan puluhan pekerja PT Istaka Karya, staf Balai Besar Pembangunan Jalan Nasional Wilayah Papua, serta anggota TNI AD, Sertu Handoko. Korban bukanlah pihak yang melakukan perlawanan terhadap kelompok sipil bersenjata yang menewaskan mereka.

"Apa yang terjadi pekan lalu di Papua itu juga suatu pelanggaran HAM, yang jadi korban adalah aparat pemerintah, setidak-tidaknya aparat dari perusahaan pemerintah, juga tentara jadi korban," tuturnya.

Oleh karena itu, JK kembali menegaskan bahwa tidak semua insiden pelanggaran HAM merupakan kesalahan pemerintah. "Oleh karena itu, kita harus obyektif untuk itu semuanya. Bahwa pemerintah, tidak hanya aparat pemerintah, tidak semuanya melanggar HAM. Tapi justru menjadi korban dari pelanggaran HAM," tegas JK.

Wapres JK

Sementara itu, dalam peringatan Hari HAM Internasional, Komisi Nasional (Komnas) HAM menuntut Pemerintah menuntaskan sejumlah kasus dugaan pelanggaran HAM berat di masa lalu.

Sejumlah kasus tersebut antara lain peristiwa 1965/1966, peristiwa penembakan misterius (petrus) 1982-1985, kasus penculikan aktivis tahun 1997-1998, tragedi Trisakti, Semanggi I dan II tahun 1998, peristiwa Talangsari tahun 1989, kerusuhan Mei 1998 dan peristiwa Wasior Wamena pada tahun 2000-2003.

Komnas HAM telah menyerahkan berkas penyelidikan terhadap kasus tersebut ke Kejaksaan Agung RI sejak 2002, namun tidak ada tanggapan serius dari Pemerintah untuk menyelesaikan lewat jalur hukum. Komnas HAM menilai ketidakjelasan atas penyelesaian kasus-kasus pelanggaran HAM yang berat adalah bentuk dari pengingkaran atas keadilan.

(put)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini