Kampanye Kubu Jokowi Dinilai Lebih Menjaga Toleransi

Muhamad Rizky, Jurnalis · Selasa 11 Desember 2018 20:20 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 12 11 605 1989926 kampanye-kubu-jokowi-dinilai-lebih-menjaga-toleransi-FZxLEQSPev.jpg Pihak LIPI (Foto: Muhamad Rizky/Okezone)

JAKARTA - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Amin Mudzakkir menilai pasangan Capres Cawapres Joko Widodo-Ma'ruf Amin selalu menjaga nilai toleransi dalam berkampanye. Hal itu dinilai berbeda dengan kubu Prabowo-Sandiaga Uno.

"Saya kira sejauh ini Jokowi-Maruf jauh lebih tegas dalam hal ini ya. Artinya mereka selalu menyatakan bahwa kita melihat politik secara lebih baik, artinya jangan gunakan agama ujtuk kepentingan politik dalam hal ini jauhi pikiran yang sempit, jauhi sektarianisme, radikalisme," kata Mudzakkir usai menjadi narasumber diskusi yang digelar Balad Jokowi-Ma'ruf di Kawasan Setiabudi, Kuningan, Jakarta, Selasa (11/12/2018).

Sementara untuk kubu Prabowo, Mudzakkir menilai justru menggunakan agama untuk kepentingan politik. Ia mengambil contoh kasus reuni 212 di Monas beberapa waktu lalu yang dianggap menjadi 'panggung' bagi Prabowo.

"Kita tahu dalam banyak hal justru sebaliknya kubu pak Prabowo ini menggunakan agama sebagai kepentingan politik. 212 saya lihat mereka tampil di situ dan itu bagian mobilisasi untuk kelompok Prabowo," paparnya.

Baca Juga: Kubu Jokowi Sebut Jokowi Apps Dimensi Baru Kampanye Capres

Jokowi

Kampanye seperti itu menurutnya memengaruhi kaum milenial yang kerap menerima informasi di media sosial meski hal itu tidak berhubungan langsung. Untuk itu dirinya justru khawatir dengan tingginya pengguna media sosial jika diisi dengan informasi dengan hal tersebut.

Mudzakkir mengatakan, kalangan milenial secara tidak sadar bahwa aktivitas mereka masuk ke dalam 'isu kampanye' yang digencarkan masing-masing kubu pasangan calon pendukung capres dan cawapres.

"Bagi saya penggunaan media sosial itu sebuah pertanyaan. Apa yang mereka konsumsi itu, apa yang mereka lakukan di situ? Jangan-jangan aktivitas-aktivitas yang sifatnya negatif seperti sharing berita hoaks, berita-berita ujaran kebencian," tambahnya.

(edi)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini