nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

LIPI Punya 3 Profesor Riset Baru, Siapa Saja?

Antara, Jurnalis · Rabu 12 Desember 2018 12:55 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 12 12 65 1990181 lipi-punya-3-profesor-riset-baru-siapa-saja-H0eMs16l3r.jpg LIPI (Foto: Kemenristekdikti)

JAKARTA - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengukuhkan tiga Profesor Riset baru dari bidang keilmuan kimia bahan alam, pemrosesan mineral, serta politik dan pemerintahan Indonesia.

Ketiga peneliti yang dikukuhkan Dewan Majelis Pengukuhan Profesor Riset yang diketuai oleh Profesor Bambang Subiyanto yang juga merupakan Wakil Kepala LIPI di Jakarta, Rabu, adalah Dr. Andria Agusta dari Pusat Penelitian Biologi LIPI, Dr. Eko Tri Sumarnadi Agustinus (Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI) dan Dr. Firman Noor (Pusat Penelitian Politik LIPI).

Dalam orasi pengukuhan profesornya Andria Agusta menyatakan pentingnya pengembangan jamur endofit untuk mendukung kemandirian antibiotika di Indonesia. 

"Dengan kondisi alam yang ideal untuk tempat tumbuh dan berkembangnya mikroba, sampai saat ini belum satupun antibiotika yang secara resmi dihasilkan oleh mikroba yang berasal dari Indonesia. Bahkan sampai saat ini, Indonesia masih dihadapkan ketergantungan yang nyaris secara total terhadap bahan baku obat impor," ujar Andria, seperti dikutip Antara.

Baca Juga: Hasil Riset LIPI Minim Digunakan Industri

Menurut dia, peneliti perlu melihat bahwa rakyat membutuhkan bahan baku obat yang berasal dari sumber daya hayati Indonesia guna menciptakan kemandirian.

"Pemerintah juga perlu memprioritaskan penelitian-penelitian dan alokasi dana penelitian untuk menemukan obat antiinfeksi. Tidak hanya antiinfeksi oleh bakteri patogen, akan tetapi juga antiinfeksi yang disebabkan oleh organisme lainnya seperti malaria, tuberculosis ataupun infeksi yang disebabkan oleh virus," lanjutnya.

Sedangkan Eko Tri Sumarnadi Agustinus mengungkapkan perlunya rekayasa benefisiasi mineral untuk mineral bukan logam dan batuan marginal.

Baca Juga: "Industri RI Tak Cuma Tukang Jahit, Ada Juga Pelopor"

"Rekayasa benefisiasi bermanfaat untuk meningkatkan nilai tambah terutama mineral bukan logam dan batuan marginal, termasuk diantaranya mineral ikutan produk pertambangan, material buangan atau limbah industri yang dipandang sudah tidak ada manfaatnya lagi," ujar Eko.

Eko menjelaskan rekayasa benefisiasi juga diharapkan dapat menghasilkan produk jadi yang dapat digunakan di berbagai bidang. "Misalnya untuk baju antipeluru, media tanaman, bantalan rel, sampai dinding beton geopolymer untuk partisi".

Sementara, Firman Noor mengatakan persoalan partai politik dalam kehidupan demokrasi di era reformasi. "Di awal reformasi harapan dan optimisme untuk mendapatkan kehidupan demokrasi yang lebih baik, dengan partai sebagai pilar utamanya terasa menguat. Namun ternyata peran partai hingga kini belum seutuhnya efektif". 

Dirinya menjelaskan hal tersebut disebabkan karena persoalan institusional, kultural, legal-formal, hingga struktural.

Firman mengatakan perlu serius membangun partai dan melembagakannya dengan sebaik-baiknya. Pendidikan politik harus menjadi prioritas agar tercipta nilai-nilai budaya politik yang kompatibel dengan demokrasi, selain penciptaan dan penguatan civil society untuk berperan secara kritis mengawasi eksistensi partai.

Dia juga mengatakan perlu membangun seperangkat aturan main yang benar-benar dapat mendorong partai untuk memainkan perannya sebagai penyalur aspirasi rakyat dan kontrol terhadap pemerintah.

"Dan yang terakhir adalah perbaikan sistem kepartaian yang diharapkan dapat mengarah pada terciptanya partai-partai modern yang siap mendukung penguatan demokrasi di Indonesia," katanya.

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini