Share

Kenakan Rompi Kuning Seperti Demonstran Prancis, Pengacara Mesir Ditahan

Thasyanur Azizah, Okezone · Kamis 13 Desember 2018 16:01 WIB
https: img.okezone.com content 2018 12 13 18 1990788 kenakan-rompi-kuning-seperti-demonstran-prancis-pengacara-mesir-ditahan-TL8B86Pbed.jpg Foto: Reuters.

KAIRO – Pegiat hak asasi manusia (HAM) setempat melaporkan bahwa seorang jaksa Mesir telah memerintahkan penahanan terhadap seorang pengacara selama 15 hari setelah sebuah foto yang beredar memperlihatkan pengacara itu mengenakan rompi kuning mirip dengan yang dikenakan para pengunjuk rasa di Prancis.

Pengacara itu ditangkap di Alexandria di saat pihak berwenang menghalangi penjualan rompi kuning oleh para pedagang menjelang peringatan pemberontakan Mesir 2011 yang akan jatuh pada 25 Januari. Pelarangan penjualan rompi itu diduga dilakukan agar warga Mesir tidak meniru aksi para demonstran yang melakukan unjuk rasa dan kerusuhan di Prancis.

BACA JUGA: Demonstrasi "Rompi Kuning" Timbulkan Bencana Ekonomi di Prancis

Rompi kuning yang merupakan rompi penanda keamanan bagi para pekerja industri telah menjadi lambang demonstrasi selama empat pekan terakhir di Negeri Mode itu.

Sejak Abdel Fattah al-Sisi terpilih sebagai presiden pada 2014, telah terjadi beberapa tindakan penindasan terhadap oposisi politik dan pembangkang. Para pegiat mengatakan, jumlah kasus serupa adalah yang terparah dalam beberapa dekade terakhir.

Demonstrasi besar-besaran yang terjadi di Prancis sejak 17 November memaksa Presiden Emmanuel Macron membatalkan rencana kenaikan pajak bahan bakar dan memberikan kenaikan upah bagi rakyat miskin.

Jaksa penuntut umum di Alexandria memerintahkan penahanan pengacara hak asasi bernama Mohamed Ramadhan setelah ia memublikasi foto dirinya mengenakan rompi kuning sebagai bentuk solidaritas untuk para demonstran Prancis. Pihak berwenang menganggap foto tersebut sebagai hasutan untuk menggelar protes serupa di Mesir.

Aktivis Mahienour El Masry mengatakan bahwa Ramadan dituduh telah "menyebarkan berita palsu" dan "menyebarkan ideologi kelompok teroris".

Dua sumber keamanan mengatakan Ramadhan ditemukan telah memiliki delapan rompi seperti itu. Namun kantor kejaksaan Alexandria belum berkomentar mengenai hal itu.

Di pusat kota, para pedagang Kairo mengatakan bahwa mereka telah berhenti menjual rompi ke para pelanggan yang datang.

"Mereka membuat kami menandatangani pernyataan bahwa kami tidak akan menjual rompi kuning," kata seorang pedagang yang menolak menyebutkan namanya kepada Reuters, Kamis (13/12/2018). "Siapa pun yang menjual sekembar rompi pun akan menempatkan dirinya dalam masalah besar."

Dia mengatakan, sekarang rompi yang harganya hanya sekira USD1 itu hanya jadi pajangan toko saja.

Seorang karyawan di toko lain di pusat kota mengatakan pembatasan menjual rompi sudah dimulai pada 8 Desember dan akan berlanjut hingga 25 Januari, tepat pada peringatan delapan tahun pemberontakan rakyat yang menggulingkan presiden saat itu Hosni Mubarak.

Sumber dari aparat keamanan mengatakan, pelarangan penjualan rompi-rompi tersebut bukan menunjukkan rasa takut otoritas Mesir, melainkan sebuah bentuk kehati-hatian.

Di toko ketiga, seorang pekerja mengatakan rompi hanya bisa disediakan untuk pesanan komersial.

Sumber-sumber keamanan menegaskan bahwa pihak berwenang telah mencegah para pemasok keamanan industri menjual rompi kuning.

"Ini adalah masalah hati-hati, bukan rasa takut," kata salah satu sumber, ketika ditanya apakah pihak berwenang takut terhadap protes menjelang peringatan pemberontakan 25 Januari.

Di sisi lain, seorang aktivis yang dihubungi oleh Reuters mengatakan protes spontan seperti yang terjadi di Prancis saat ini tidak mungkin terjadi di Mesir.

"Gerakan politik oposisi tidak memiliki kehadiran di lapangan dan partai politik saat ini adalah bagian dari rezim," kata aktivis, yang dipanggil dengan nama Mustafa itu.

"Yang lebih penting, lokasi semua aktivis telah diketahui, entah mereka di penjara atau di rumah dengan tunduk pada pengawasan polisi."

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini