nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pihak Bertikai dalam Perang Yaman Sepakati Gencatan Senjata di Swedia

Indi Safitri , Jurnalis · Jum'at 14 Desember 2018 17:45 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 12 14 18 1991395 pihak-bertikai-dalam-perang-yaman-sepakati-gencatan-senjata-di-swedia-rzTmAFu83K.jpg Sekjen PBB, Antonio Guterres (tgh) bersama dengan Menteri Luar Negeri Yaman, Khaled al Yaman (kiri) dan Pimpinan Delegasi Houthi Mohammed Abdul-Salam dalam perundingan di Swedia, 13 Desember 2018. (Foto: Reuters)

RIMBO – Pihak-pihak yang berseteru di Yaman pada Kamis sepakat untuk berhenti berperang memperebutkan kota pelabuhan Hodeidah yang dikuasai kelompok Houthi dan menarik pasukan mereka dari wilayah konflik tersebut. Kesepakatan itu adalah terobosan signifikan pertama bagi upaya perdamaian yang dipimpin PBB untuk menyelesaikan konflik yang telah berlangsung selama selama lima tahun di Yaman.

Pada penutupan pembicaraan damai sepekan yang berlangsung di Swedia, Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres mengatakan kerangka kerja untuk negosiasi politik akan dibahas pada putaran pembicaraan berikutnya yang direncanakan digelar pada akhir Januari, antara Houthi yang berhaluan Iran dan pemerintahan Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi yang didukung Saudi.

BACA JUGA: Pembicaraan Perdamaian Yaman Akan Dimulai di Swedia Pada Kamis

Negara-negara Barat telah menekan kedua belah pihak untuk menyetujui langkah-langkah membangun kepercayaan untuk membuka jalan bagi gencatan senjata yang lebih luas dan proses politik untuk mengakhiri perang yang telah menewaskan puluhan ribu orang.

Konflik telah mendorong Yaman, negara termiskin di Semenanjung Arab ke ambang bencana kelaparan. Program Pangan Dunia mengatakan kesepakatan Hodeidah merupakan suatu dorongan yang sangat dibutuhkan dalam tugasnya memberi makan 12 juta warga Yaman yang kelaparan.

Kaum Houthi menguasai sebagian besar kota, termasuk ibu kota Yaman sendiri, Sanaa, di mana mereka menggulingkan pemerintah Hadi pada tahun 2014. Sekarang ini berbasis di pelabuhan selatan Aden.

“Anda telah mencapai kesepakatan di pelabuhan dan Kota Hodeidah, di mana akan terlihat pemindahan pasukan dari pelabuhan dan kota, serta pembentukan gencatan senjata di semua kegubernuran,” ujar Guterres.

“PBB akan memainkan peran utama di pelabuhan," tambahnya pada konferensi pers di Rimbo, di luar Stockholm.

Diwartakan Reuters, Kamis (13/12/18), Utusan PBB, Martin Griffiths mengatakan kedua pihak akan melakukan penarikan pasukan "dalam beberapa hari" dari pelabuhan yang merupakan titik masuk utama untuk sebagian besar barang impor komersial dan pasokan bantuan ke Yaman. Penarikan pasukan itu akan diikuti penarikan dari Kota Hodeidah, di mana pasukan koalisi berkumpul di pinggiran kota.

BACA JUGA: Pemberontak Yaman Terbuka untuk Pembicaraan Lebih Lanjut

Pasukan Houthi juga akan mundur dari pelabuhan Salif yang dipergunakan untuk biji-bijian, dan Pelabuhan Ras Isa, yang digunakan untuk minyak. Pendapatan dari tiga pelabuhan akan masuk ke cabang bank sentral di Hodeidah.

Sesuai dengan kesepakatan, Komite Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan termasuk kedua pihak akan mengawasi gencatan senjata dan penarikan. Hal tersebut akan dipimpin oleh PBB dan dilaporkan setiap minggu ke Dewan Keamanan PBB.

Pengawas internasional akan dikerahkan di Kota Hodeidah dan tiga pelabuhan tersebut. Semua angkatan bersenjata juga akan ditarik kembali sepenuhnya dalam 21 hari sejak gencatan senjata mulai berlaku.

(dka)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini