Eksistensi Pramuka dalam Pengentasan Hoaks dan Rendahnya Literasi

Feby Novalius, Okezone · Jum'at 14 Desember 2018 14:42 WIB
https: img.okezone.com content 2018 12 14 65 1991285 eksistensi-pramuka-dalam-pengentasan-hoaks-dan-rendahnya-literasi-bBHGNTPvDk.jpg Anak Pramuka (Foto: Okezone)

PADA hakikatnya untuk membekali setiap individu dalam menambah wawasan yakni melalui menulis dan membaca atau yang lebih dikenal sebagai literasi. menurut UNESCO, terdapat kurang lebih 750 juta orang dewasa dan 264 juta anak putus sekolah memiliki kemampuan literasi yang terbilang rendah.

Lalu bagaimana dengan Indonesia? berdasarkan data statistik pada 2017 dari total 61 negara, Indonesia berada di peringkat 60 atau dua peringkat dibawah Thailand yang menduduki posisi 59. Data tersebut membuktikan bahwa minat baca dan tulis masyarakat Indonesia sangat rendah, ini harus menjadi perhatian khusus pasalnya perkembangan internet sudah pesat, padahal indonesia merupakan negara dengan angka penggunaan internet yang tinggi.

Hasil survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada tahun 2017, pengguna internet di Indonesia mencapai 143,26 juta jiwa. Hal ini menunjukkan bahwa internet sudah menjadi kebutuhan masyarakat yang tidak dapat dipisahkan. Pengguna internet berdasarkan rentang usia masih didomiasi oleh usia produktif 19-34 tahun yatu sebesar 49,52%. Sedangkan, Penggunaan aplikasi layanan inernet publik masih berkutat pada layanan chatting dengan presentase 89,35% yang diikuti sosial media yakni 87,15%.

Baca Juga: Literasi Digital Bagi Ibu Rumah Tangga

Kasus penyebaran hoaks melalui media sosial memang sudah menjamur lama. Media sosial menjadi tempat untuk penyebaran karena dinilai efektif berdasarkan pengguna teknokogi. Survey Daily.id menyimpulkan setidaknya ada tiga aplikasi media sosial yang paling banyak digunakan untuk menyebarkan hoax, yaitu Facebook sebesar 82,25%, WhatsApp 56,5%, dan Instagram sebesar 29,48%.

Bersama dengan perkembangan teknologi yang kian pesat, Pramuka ikut andil dalam menyajikan informasi yang terpercaya. Melalui semboyan Setiap Pramuka adalah Kantor Berita yang dicanangkan oleh ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka mempunyai tujuan yang salah satunya adalah Pramuka mempunyai kesadaran sebagai pemilik, pemimpin redaksi, sekaligus wartawan bagi akun media sosialnya masing- masing. Jadi setiap pramuka mempunyai tanggung jawab sosial dengan akun media sosialnya.

Baca Juga: Hilangnya Sopan Santun Siswa

Dengan semboyan tersebut, Pramuka diharapkan ikut serta aktif dalam perkembangan teknologi khususnya media sosial yang menjadi pionir dalam penyedia berita positif. Seperti tupoksi dalam semboyan tersebut yang mana pramuka mempelajari dan menerapkan apa yang boleh dan dilarang di media sosial, untuk kemudian menyadari bahwa konten yang diunggah akan dilihat, dipahami dan dimengerti oleh orang banyak, sehingga harus bertanggung jawab terhadap isi dan dampaknya.

Tupoksi yang kedua yaitu pramuka memproduksi konten sesuai minat, bakat dan nilai-nilai kebajikan. Konten yang dimaksud bisa berupa tulisan, foto, video, poster, infografis, meme, GIF, dll. Tupoksi ini seharusnya mampu menjadikan pramuka lebih kreatif dalam mengolah berita mulai dari konten yang tidak melulu soal kegiatan pramuka namun bisa menyasar lebih luas berita yang dikonsumsi masyarakat umum. Selain itu, pramuka bisa mengkreasikan layout yang enak dipandang, sehingga menambah perhatian masyarakat untuk membaca.

Semboyan tersebut tanpa disadari juga sebagai pengentas rendahnya angka minat baca di Indonesia, karena apabila semakin banyak konten positif yang disebar di media sosial, maka wawasan yang bermanfaat akan selalu tersedia. Hal yang strategis untuk menjadikan bangsa mempunyai sumber daya yang unggul dengan meningkatkan kesadaran masyarakat yang melek informasi.

Apabila ligkungan yang telah terbangun dengan kebiasaan membaca melalui sosial media ini digalakkan, maka indeks minat baca Indonesia dalam kurun waktu tertentu bisa meningkat. Dengan bekal pengetahuan yang mumpuni maka semakin berkarakterlah masyarakat Indonesia.

Terlebih untuk pramuka golongan penegak hingga pandega yang memang pada masa usia produktif haruslah mampu menjaga eksistensi semboyan tersebut. Golongan ini harus mampu aktif dan produktif dalam partisipasinya mejadi anggota pramuka, melalui jurnalistik.

Langkah yang dapat diambil dalam menyajikan berita yaitu 1) Penentuan pertanyaan mendasar tentang hal yang ingin dicari informasinya; 2) mendesain perencanaan proyek seperti apa berita akan di sajikan; 3) menyusun jadwal selama proyek dilaksanakan ; 4) monitoring anggota dan kemajuan proyek yang dilakukan pembina gugus depan, sehingga kerjasama tetap terlaksana; 5) menguji hasil dengan mempublikasikan berita melalui sosial media atapun di unggah kedalam website.

Bagi pembina gugus depan, gunakan reward kepada pramuka yang sudah berhasil menerbitkan berita sehingga lebih giat lagi untuk selalu menyajikan berita untuk masyarakat. Kerangka kerja yang diterapkan yang sudah tersebut di atas melatih anggota dalam bertukar pikiran untuk menentukan masalah atau informasi yang akan diberitakan, selain itu dapat melatih untuk bekerja secara kelompok yang menjadikan anggota aktif untuk berinteraksi sosial dan juga mengasah kemampuan pada dunia jurnalis yang mampu membawa perubahan.

Untuk itu, pramuka harus teteap menjaga dan mengimpelentasikan semboyan yang telah dicanangkan. Dengan bermodalkan semboyan Setiap Pramuka Adalah Kantor Berita, pramuka mampu menghadirkan konten positif dan terpercaya untuk mengentaskan kasus hoaks dan meningkatkan minat baca masyarakat.

Awal Faizin, Laki-laki yang lahir di Purbalingga, 10 September merupakan Mahasiswa Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Semarang. Aktif pada kegiatan kepramukaan dan juga merupakan anggota Pramuka Wijaya Guguslatih Ilmu Pendidikan.

 

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini