nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kampus Harus Punya Inkubator Bisnis

Koran SINDO, Jurnalis · Senin 17 Desember 2018 13:09 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 12 17 65 1992318 kampus-harus-punya-inkubator-bisnis-hVSep1Gysp.jpeg Milenial (Ilustrasi: Shutterstock)

JAKARTA – Pemerintah mendorong setiap kampus membuka Inkubator Bisnis Teknologi (IBT). Hal ini penting sebab hasil penelitian kampus idealnya bisa bermanfaat praktis bagi masyarakat dan industri.

Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohammad Nasir mengatakan, jika perguruan tinggi memiliki riset serta membuat prototipe dan inovasi, maka perlu ada yang diterapkan pada industri. Hal itu tentu akan berguna bagi masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan proses inkubasi. “Sehebat apa pun penelitian, sehebat apa pun inovasi, jika tidak diinkubasi ke industri akan tidak ada artinya,“ katanya pada Forum Nasional Inkubator Bisnis Teknologi di Jakarta, kemarin. Ke depannya, Menristekdikti berupaya akan mendorong setiap perguruan tinggi harus memiliki inkubasi bisnis. Tujuannya mengembangkan inovasi agar bisnis tidak hanya dilakukan konvensional, tapi berbasis teknologi.

Dia menyatakan, perguruan tinggi tidak hanya menjual barang dari luar ke kampus. Menurut dia, proses ini bukanlah suatu inkubasi, tetapi perlu inovasi yang dihasilkan kampus dan itu berbasis teknologi. IBT merupakan lembaga intermediasi yang bertujuan menumbuh kembangkan wirausaha pemula berbasis teknologi selama periode waktu tertentu. Dalam sambutannya, Menristekdikti menyampaikan pentingnya mempertemukan antara inventor, inovator, dan inkubator, karena negara bisa dikatakan maju jika UMKMnya di atas 5%, sedangkan Indonesia baru 1,6%. “Ini masih jauh dari yang kita harapkan. Karena itu, sesuai amanat Presiden, kita perlu menggenjot inovasi menjadi industri,” ucapnya.

Baca Juga: Soft Skill Jadi Modal Penting untuk Generasi Z

Sampai dengan tahun 2018, Kemenristekdikti telah memperkuat kelembagaan 44 IBT serta menumbuhkan lima IBT baru di luar Pulau Jawa yang masih kekurangan. Dirjen Kelembagaan Iptek dan Dikti Patdono Suwignjo mengatakan, IBT ini penting dalam pengembangan perusahaan pemula berbasis teknologi (PPBT) di Indonesia sehingga perlu penguatan kelembagaan dalam peningkatan fungsi utamanya. Sementara itu, Rektor Universitas Prasetiya Mulya Djisman Simandjuntak menjelaskan, kampusnya menginisiasi program studi baru, yaitu program MM New Ventures Innovation (NVI).

“Program ini merupakan fondasi untuk membentuk pola pikir terstruktur yang dibutuhkan, khususnya untuk mengambil keputusan strategis yang cepat dan inovatif dalam bisnis startup sehingga dapat memberikan manfaat besar bagi masyarakat,” katanya. Selain itu, tahun ini pihaknya juga menginisiasi hadirnya Collaborative STEM Laboratories untuk mendorong terciptanya iklim kolaborasi antara sains, teknologi, dan kewirausahaan. Dia mengatakan, untuk meningkatkan kualitas para lulusan, kerja sama dengan berbagai kalangan pun terus digalakkan tahun ini meliputi kalangan industri, institusi pendidikan, hingga institusi pemerintahan.

kampus

Dia mengatakan, dalam menghadapi era disrupsi teknologi tersebut, tuntutan perguruan tinggi akan semakin besar. Tidak lagi hanya menghasilkan lulusan yang menguasai kompetensi konvensional, tapi harus bisa beradaptasi dengan perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelegence). “Terutama pekerjaan yang standar dan berulang-ulang akan tergantikan oleh mesin. Institusi pendidikan sebagai lini terdepan dalam peningkatan kualitas generasi penerus harus mampu beradaptasi dengan cepat, menyesuaikan dengan keterampilan yang wajib di miliki di masa depan,” katanya.

Perguruan tinggi harus mampu membuka diri pada era baru , terutama dalam menyesuaikan kurikulum agar merujuk pada perkembangan zaman. Sebab menurut Djisman, tantangan di masa depan akan semakin kompleks. Ia bahkan memprediksi lowongan pekerjaan pada masa depan akan sangat berbeda jauh dengan lowongan-lowongan pekerjaan seperti saat ini. Oleh karena itu, perguruan tinggi juga harus berkolaborasi dengan semua pihak guna menyiapkan lulusan yang mampu menghadapi kompetensi masa depan.

“Ke depan kita akan melihat bahwa lowongan yang ada saat ini akan diambil alih mesin. Kita akan berhadapan dengan risiko yang belum kita kenal,” katanya.

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini