nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Dilarang Masuk AS, Seorang Ibu dari Yaman Tak Bisa Temui Anaknya yang Sedang Sekarat

Indi Safitri , Jurnalis · Selasa 18 Desember 2018 18:22 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 12 18 18 1993014 dilarang-masuk-as-seorang-ibu-dari-yaman-tak-bisa-temui-anaknya-yang-sedang-sekarat-PtRGqQpjuF.jpg Abdullah Hassan. (Foto: CBS)

OAKLAND - Seorang ibu dari seorang anak laki-laki yang sedang sekarat di California dilarang bertemu dengan putranya karena aturan di Amerika Serikat (AS) yang melarang pengunjung dari Yaman, negara asal sang ibu.

Abdullah Hassan, seorang anak berusia dua tahun lahir dengan penyakit otak parah sehingga dokter mengatakan dia mungkin tidak dapat bertahan hidup.

Kerabat Hassan mengatakan, ibunya ingin bertemu dengan putranya untuk terakhir kali sebelum mereka mencabut alat pendukung kehidupannya. Namun, menurut sang ayah, ibu Hassan tidak dapat datang ke AS karena larangan perjalanan yang diterapkan oleh Pemerintahan Presiden Donald Trump.

BACA JUGA: Larangan Warga AS Berkunjung ke Korut Resmi Berlaku

Meski lahir di Yaman, Abdullah dan ayahnya adalah warga negara AS.

"Yang diinginkannya adalah memegang tangannya untuk terakhir kalinya," kata Ali Hassan, ayah dari Abdullah kepada San Francisco Chronicle pada Minggu sebagaimana dilansir BBC, Selasa (18/12/2018).

Ali mengatakan, putranya mungkin akan meninggal jika dibawa ke Mesir, di mana ibunya saat ini tinggal.

BBC melaporkan, ibu Abdullah, Shaima Swileh, saat ini sedang berupaya mendapat pengecualian dari Departemen Luar Negeri AS untuk dapat melakukan perjalanan ke AS sesegera mungkin.

Sebagaimana diketahui, segera setelah menjabat, Presiden Donald Trump memberlakukan larangan perjalanan ke AS, terutama pada negara-negara bermayoritas Muslim. Perintah eksekutif itu telah melalui beberapa kali perubahan sebelum disahkan oleh Mahkamah Agung AS pada musim panas itu.

Aturan itu melarang warga negara Iran, Korea Utara, Venezuela, Libya, Somalia, Suriah dan Yaman memasuki AS.

Saad Sweilem, dari Dewan Hubungan Amerika-Islam, yang mengadvokasi keluarga Abdullah untuk bersatu kembali, mengatakan bahwa pelarangan terhadap Shaima untuk bertemu Abdullah adalah hal yang kejam.

Keluarga Hassan datang ke California pada awal 1980-an, tetapi mempertahankan hubungan dekat dengan keluarga di negara asal mereka, Yaman.

Putra mereka, Abdullah didiagnosa mengidap hypomyelination, penyakit otak yang telah mempengaruhi kemampuannya untuk bernafas. Ketika Abdullah berusia delapan bulan, keluarga itu pindah dari Yaman ke Kairo untuk melarikan diri dari perang sipil yang pecah di negara itu.

Sekira tiga bulan yang lalu, Ali membawa putranya ke AS untuk melakukan pengobatan dengan harapan bahwa istrinya akan segera bergabung dengan mereka.

Tapi setelah dokter di Oakland, California, memberitahunya bahwa kondisi anak laki-laki itu sudah tidak dapat ditolong lagi, keluarganya mengajukan permohonan agar sang ibu bisa pergi ke AS.

Namun, mereka menerima surat penolakan dari departemen luar negeri, terkait dengan larangan perjalanan yang diberlakukan oleh Presiden Trump.

Seorang pejabat departemen luar negeri yang tidak ingin disebutkan namanya menolak untuk membahas kasus spesifik karena undang-undang kerahasiaan.

Tetapi pejabat mengatakan kepada BBC bahwa mereka telah melakukan "segala upaya untuk memfasilitasi perjalanan yang sah oleh pengunjung internasional".

"Kami juga berkomitmen penuh untuk mengelola undang-undang imigrasi AS dan memastikan integritas dan keamanan perbatasan negara kami."

(dka)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini