Presiden Dinilai Diam soal Muslim Uighur, PDIP: Tak Mungkin Pak Jokowi Tidak Pro Kepada Umat Muslim

Harits Tryan Akhmad, Jurnalis · Kamis 20 Desember 2018 16:38 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 12 20 605 1993965 dinilai-diam-soal-muslim-uighur-pdip-enggak-mungkin-pak-jokowi-tidak-pro-kepada-umat-muslim-RQM2cVFMOv.jpg Presiden Joko Widodo dan Calon Wakil Presiden Maruf Amin (Foto: Okezone)

JAKARTA - Hingga saat ini Presiden Joko Widodo bungkam atas perilaku diskriminatif pemerintah China terhadap etnis minoritas Muslim Uighur. Kubu Prabowo-Sandi pun menyayangkan sikap Jokowi yang masih belum berkomentar lantaran dianggap memiliki kedekatan dengan China.

Merespon hal itu, Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Hukum Trimedya Panjaitan mengatakan tak mungkin Presiden Jokowi tidak pro terhadap umat muslim.

“Ya enggak mungkin lah kalau dikaitkan bahwa pak Jokowi tidak pro kepada umat muslim,” ungkap Trimedya di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Kamis (20/12/2018).

Ia meyakini bila Jokowi akan memberikan statement mengenai pembantaian itu. Dikarenakan ketika permasalahan mengenai Yerusalem dahulu Jokowi pun menegaskan Indonesia mengecam pengakuan Amerika Serikat terhadap Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

“Karena jangankan itu, soal Yerusalem saja yang jelas lebih serius karena pasti berhadapan dengan Amerika pak Jokowi enggak takut. Apalagi soal soal itu,” bebernya.

Trimedya

Baca Juga: Din Syamsuddin Minta OKI untuk Selamatkan Umat Islam Uighur

Diakui Trimedya bila saat ini schedule eks Gubernur DKI Jakarta itu tengah padat melakukan kunjungan. Faktor itulah sampai sekarang Jokowi belum melontarkan statement itu.

“Kalau lihat kegiatan beliau, kalau kita pantau kan cukup padat jadi belum disampaikan. Saya yakin suatu saat pak Jokowi akan menyampaikan itu,” tukas dia.

Juru bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, KH Irfan Yusuf (Gus Irfan) mengaku kecewa bila sikap pemerintahan Joko Widodo bungkam atas perilaku diskriminatif pemerintah China terhadap etnis minoritas Muslim Uighur. Menurutnya, sikap diam pemerintah karena tersandera akibat banjir utang dan investasi China di Indonesia.

"Pemerintah sekarang itu tersandera oleh gelombang investasi dan utang itu, sehingga tidak berani menyuarakan sesuatu yang berkaitan dengan China," kata Gus Irfan

(edi)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini