nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Potret Toleransi dalam Perayaan Natal di Kota Wali

Fathnur Rohman, Jurnalis · Selasa 25 Desember 2018 22:03 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 12 25 525 1995882 potret-toleransi-dalam-perayaan-natal-di-kota-wali-92Ib6XyU1i.jpg Perayaan Natal di Kota Cirebon (Foto: Fathnur/Okezone)

CIREBON - Sudah 9 tahun lebih, Paulina Mbura mengadu nasib di Kota Cirebon, Jawa Barat. Wanita yang berasal dari Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) itu terpaksa harus memendam kerinduannya untuk merayakan Hari Raya Natal bersama keluarga besar di Kampung halamannya.

Dengan logat khas seperti pada umumnya masyarakat NTT, Paulina mengungkapkan, saat pertama kali merayakan Natal di Kota Cirebon, dirinya sempat merasa kesulitan untuk menemukan sebuah Gereja di Kota dengan luas 37,36 kmĀ² tersebut.

"Pertama kali merayakan Natal di Kota Cirebon, saya sempat kebingungan untuk menemukam sebuah Gereja, " kata Paulina kepada Okezone, saat ditemui di Jalan Tambas 1, Gunung Jati, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Selasa (25/12/2018).

Walaupun dirinya sempat kesulitan menemukan Gereja, wanita keturunan Suku Rote tersebut mengaku, bahwa ada warga sekitar yang membantunya untuk mencari Gereja.

"Sempat susah cari Gereja, kebetulan ada orang Cirebon yang juga pelanggan saya. Dia itu muslim, tapi justru membantu saya mencari Gereja untuk Natal pertama disini," ungkapnya.

Ditambahkannya, walaupun Cirebon dikenal sebagai Kota dengan nilai historis Islam yang sangat tinggi, namun ia bisa dengan mudah beradaptasi.

"Saya akrab dengan warga Muslim di sini, apalagi teman saya ada yang dari daerah Talun. Mereka itu sangat ramah sekali," ujarnya.

Paulina sempat bercerita, selama 9 tahun menetap di Kota Wali tersebut, ia tidak pernah merasakan diskriminasi dari lingkungan sekitarnya. bahkan ia mengaku nyaman tinggal di Cirebon.

"Ada kejadian lucu waktu saya pertama datang kesini, saya sempat dijahili oleh teman saya dari Bandung. Ia mengatakan kepada saya jika Keraton Kasepuhan saat malam hari akan menghilang. Saya percaya saja, karena orang baru. Tapi akhirnya saya sadar jika saya dibohongi, " jelasnya.

Walaupun tahun ini dirinya tak bisa merayakan Natal bersama keluarganya, ia tetap bahagia, karena ada teman seperantauan yang sudah ia anggap sebagai keluarga keduanya.

Sementara itu, dikesempatan yang berbeda, Haryono lelaki yang 5 tahun sudah bergelut di Organisasi Pemuda Lintas Agama (Pelita) menuturkan, jika ia sangat senang bisa berteman baik dengan Biarawati Santa Maria di Kota Cirebon.

"Tadi saya diundang kesana, kami saling bercengkrama satu sama lain," ujar Haryono kepada Okezone, seusai menghadiri acara di Biara Santa Maria, Kota Cirebon, Jawa Barat. Selasa (25/12/2018).

Menurut Haryono, walaupun banyak yang menyebut Kota Cirebon sebagai zona merah, atau kawasan yang rendah akan toleransi umat beragama, pada kenyataannya kabar tersebut tidak benar. Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa masyarakat masih menjungjung tinggi nilai keberagaman.

"Kita lihat sejarah, Cirebon didirikan oleh berbagai ras dan suku. Jadi toleransi itu sudah ada sejak dulu. Walaupun dicap sebagai zona rawan, sebenarnya masyarakat malah saling menghargai satu sama lain, " jelasnya.

Di perayaan Natal tahun ini, secara pribadi ia berharap, agar masyarakat tidak termakan oleh opini yang menyesatkan. Pasalnya banyak isu-isu sensitif yang berkembang sekarang, apalagi tahun politik akan semakin dekat.

"Kemarin banyak Demo dari beberapa kelompok yang dianggap radikal. Namun itu hanya bagian kecil saja. Masyarakat jangan sampai terbawa oleh opini yang berkembang, " tuturnya.

Baik Haryono maupun Paulina, keduanya memiliki keinginan yang sama, yakni kerukunan umat beragama di Kota Cirebon bisa terjaga, agar kedepannya semua orang bisa bahu-membahu membangun kawasan Cirebon lebih baik lagi, tanpa memandang agama atau darimana ia berasal.

(kha)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini