nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Selain Letkol Dono, Ini Rentetan Kasus Penembakan TNI yang Sempat Booming

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis · Kamis 27 Desember 2018 08:59 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 12 27 337 1996440 selain-letkol-dono-ini-rentetan-kasus-penembakan-tni-yang-sempat-booming-3l4CaWpWpI.jpg Penembakan (ist)

JAKARTA - Penembakan terhadap dan oleh anggota TNI yang terjadi di Jatinegara, Jakarta, pada Selasa malam, 25 Desember 2018 bukanlah kali pertama melibatkan oknum TNI.

Untuk insiden di Jatinegara, penyelidikan sementara menyimpulkan bahwa penembakan yang menewaskan seorang anggota TNI AD tersebut, pelakunya adalah "anggota TNI AU yang sedang mabuk".

Juru bicara Kodam Jaya, Kolonel Kristomei Sianturi, mengatakan ia yakin bahwa itu adalah kriminal murni karena terduga pelaku, Serda JD, sedang mabuk.

 Baca juga: Aksi "Koboi" Tentara, DPR: Penggunaan Senpi di Luar Dinas Perlu Dievaluasi

Korban diidentifikasi sebagai Letkol (TNI AD) Dono Kuspriyanto, mengenakan pakaian sipil kendati menggunakan kendaraan dinas saat kejadian.

 Penembakan

Berikut beberapa insiden yang menyita perhatian cukup besar:


Penembakan pemotor di SPBU Cibinong, Bogor

Pada 3 November 2015, anggota Batalyon Intel Kostrad di Cibinong, Serda Yoyok Hadi terhadap Marsin alias Japra (40), menembak pengendara motor di Jalan Mayor Oking Jayaatmaja depan SPBU Ciriung Cibinong.

Awalnya pelaku tak terima mobilnya diserempet oleh korban yang mengendarai sepeda motor.

Dia pun mengejar korban karena tidak berhenti atau meminta maaf dan kemudian menembak korban di kepala di depan SPBU di Cibinong, Bogor.

 Baca juga: Penembak Letkol Dono Sempat Kabur Naik Ojek

Pelaku, menurut pengamat militer dari Institute For Security and Strategic Studies (ISESS), Khairul Fahmi, diproses sampai ke pengadilan militer tingkat pertama.

"Tapi apakah kemudian hukumannya ditegakkan atau apakah ada proses banding kita tidak pernah mendapat informasinya," ungkap Khairul Fahmi.

Penembakan mobil Jazz di Jagorawi

Sebelum kasus Cibinong, pada Agustus 2015 juga sempat terjadi penembakan TNI ke warga sipil akibat persoalan kendaraan. Kali ini, korban mengendarai mobil Jazz di tol Jagorawi dari Bogor menuju Jakarta.

Pelaku, anggota TNI berinisial W, kesal karena korban, berinisial S, menyalip mobil pelaku di tol. Pelaku mengejar mobil korban dan menembak mobil sedan berwarna putih itu.


Penyerangan Lapas Cebongan

Penyerangan ke Lapas Cebongan, Yogyakarta, terhadap empat orang tahanan terjadi pada 23 Maret 2013.

 Baca juga: TNI AU Sebut Pelaku Penembakan dan Letkol Dono Tak Saling Kenal

Para korban adalah tahanan titipan Mapolda DIY Yogyakarta yang ditangkap karena mengeroyok hingga meninggal anggota Kopassus Grup II Kandang Menjangan Kartasura, Serka Heru Santoso, dua hari sebelumnya.

Testimoni sejumlah saksi di pengadilan mengatakan bahwa para pelaku dengan penutup wajah datang pukul 01:30 WIB dini hari dan melumpuhkan sipir serta petugas keamanan sebelum menerobos ke sel tempat para korban berada dan menembak mati mereka.

Pembunuhan berlangsung dalam waktu kurang lebih 15 menit.

Dalam vonis, majelis hakim mengatakan Serda Ucok membunuh para korban karena dendam. Serka Heru Santoso pernah menyelamatkan nyawanya saat bertugas di Papua.

Serda Ucok Tigor Simbolon yang merupakan eksekutor utama divonis 11 tahun, sedangkan Serda Sugeng Sumaryanto delapan tahun dan Koptu Kodik enam tahun.

Ketiganya dipecat dari TNI. Atas vonis tersebut, mereka menyatakan akan mengajukan banding.

Bukannya melindungi, mengapa justru 'meneror' masyarakat?

 

TNI yang harusnya melindungi warga justru sering kali berakhir "menghabisi" warga. Pengamat Khairul Fahmi menilai bahwa "ada persoalan psikis terkait dengan senjata api" di tubuh militer.

"Memegang senjata api itu meningkatkan rasa percaya diri mereka, meningkatkan keyakinan bahwa mereka kuat, berkuasa, menakutkan," papar Khairul Fahmi.

 Baca juga: Oknum TNI AU Tembak Letkol Dono Sebanyak Enam Kali

"Itu yang mungkin dirasakan para pemegang senjata api sehingga ketika terjadi situasi-situasi yang merugikan mereka, mereka cenderung mudah marah, bereaksi negatif."

Untuk prosedur penggunaaan senpi sendiri, seperti siapa saja yang layak dan bagaimana penggunaannya, menurut Khairul sendiri sudah cukup memadai.

"Yang lemah ini pengawasannya, terhadap bagaiaman senjata api itu digunakan, boleh dibawa atau tdak, bagaimana penggunaannya dalam situasi tertentu", ujar Khairul.

 Baca juga: Pelaku Penembakan Letkol Dono di Jatinegara Dalam Keadaan Mabuk

"Para pimpinan-pimpinan satuan memang kurang peduli terhadap bagaimana anggota-anggotanya atau bawahan-bawahannya melakukan upaya pengamanan terhadap penggunanaan senjata api ini," tambahnya.

"Ini sebuah persoalan yang harus diperbaiki di lingkungan TNI. Bgaiamana doktrin, proses pembinaan mereka sehingga jangan sampai terjadi berulang terus," pungkasnya.

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini