nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Sisi Positif di Balik kata 'Anak Broken Home'

Kamis 27 Desember 2018 17:04 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 12 27 65 1996723 sisi-positif-di-balik-kata-anak-broken-home-JeHXKaxklr.jpg Ilustrasi: (Foto: Blackristianews)

JAKARTA - Banyak orang yang belum mengetahui apa arti sebenarnya dari sebuah kata 'broken home'. Istilah broken home dapat diartikan sebagai keadaan keluarga yang tidak harmonis karena adanya suatu masalah. Salah satu contohnya adalah jika seorang suami dan istri yang mengalami perceraian. Banyak sekali penyebab perceraian dari sebuah rumah tangga, salah satunya adalah mulai tidak harmonisnya hubungan antara seorang suami dan istri, yang membuat mereka sering bertengkar di depan maupun di belakang anak.

Baca Juga: Kita Muda, Kita Peduli

Perceraian orangtua ini sangat berdampak besar bagi kehidupan sang anak, banyak dampak yang ada mulai dari dampak positif hingga negatif. Mulai dari anak merasakan kurangnya kasih sayang dari orangtua, sedih berlarut karena tidak tega melihat sang ayah dan ibu bertengkar terus menerus, dan ada juga yang menjadi benci kepada kedua orangtuanya. Tumbuh dan berkembang di dalam keluarga yang bisa dibilang 'broken' bukanlah hal yang bisa dipilih oleh seorang anak. Tentu juga bukan hal yang mudah untuk dihadapi si anak. Sebab, anak broken home tumbuh di keluarga yang sering mengalami pertengkaran antar orangtua, bahkan sampai ada yang melakukan kekerasan. Menurut mereka, keadaan seperti itu sudah dianggap biasa bagi, karena saking sering nya melihat kondisi seperti itu di rumah. Akibatnya, terkadang anak menjadi tidak betah di rumah dan cenderung selalu sedih jika keadaan rumah sedang tidak baik. Hal ini bisa menyebabkan trauma dan stres yang mendalam kepada anak broken home. Tidak semua anak bisa menghadapi keadaan seperti itu dengan lapang dada, ada anak yang bisa menerima dan mengikhlaskan keputusan kedua orangtuanya untuk bercerai namun ada juga yang belum bisa menangani permasalahan seperti ini.

Baca Juga: Jadi Mahasiswa Kupu-Kupu Itu Pilihan

Hidup di lingkungan keluarga yang keras seperti itu terkadang membuat anak broken home cenderung mempunyai kepribadian seperti di bawah ini:

1. Introvert (tertutup)

Beberapa anak broken home terkadang menutup diri dikarenakan mereka terlalu banyak memendam dan berpikir bahwa tidak semua orang dapat mengerti isi hati mereka. Jadi, mereka lebih cenderung Introvert dibanding anak-anak yang lain.

2. Suka Overthinking

Dikarenakan suka memendam dan tidak dapat mengeluarkan isi hati nya, menyebabkan anak broken home mempunyai sifat overthinking.

3. Lebih Sensitive

Anak broken home cenderung mempunyai hati yang peka dan sangat sensitive terhadap apapun yang sedang mereka rasakan

Adanya kepribadian di atas yang dimiliki anak broken home sangat memungkinkan anak broken home mencari pelarian ke hal-hal negatif seperti pergaulan bebas, bermabuk-mabukan dan lain-lain, sehingga dapat menyebabkan anak bisa menjadi stress, depresi dan melakukan hal-hal yang tidak diinginkan seperti self-harm, melakukan tindak bullying terhadap orang lain, dan lain-lain. Maka, dari situlah tidak sedikit orang yang berpikir bahwa anak broken home adalah anak yang akan membawa pengaruh buruk bagi lingkungan sekitarnya dan berpikir bahwa anak broken home adalah anak yang tidak pernah diurus oleh orangtuanya, hancur, liar, tidak terkontrol, dan tidak terarah. Secara tidak langsung, pandangan atau stigma negatif yang ada di kalangan masyarakat itu membuat mereka semakin tidak percaya diri dan menutup diri, mereka seperti membatasi hubungan untuk berteman dengan orang lain, berprestasi, dan berkembang. Mereka cenderung berpikir bahwa mungkin memang takdir mereka tidak bisa bangkit dari masa lalu mereka yang kelam dan mengubah masa depan mereka menjadi lebih baik. Namun, apakah anak broken home akan selalu seperti itu? Selalu disangkut pautkan dengan stigma negatif? dan tidak bisa untuk mengubah hidup menjadi lebih baik?

Menurut penelitian American Psychological Association, anak yang mengalami broken home lebih cenderung menunjukkan masalah-masalah perilakunya. Namun, hal itu bukan berarti semua anak broken home mengalami masalah perilaku serta dinilai buruk dan hancur. Nyatanya, berdasarkan penelitian selama 20 tahun, sekitar 80% orang-orang yang berasal dari keluarga broken home dapat beradaptasi dengan baik dan memperlihatkan efek positif dalam hal pendidikan, kehidupan sosial, dan kesehatan mental.

Baca Juga: Literasi Digital Bagi Ibu Rumah Tangga

Banyak juga dampak positif yang dapat diambil di balik terjadinya broken home ini terhadap anak. Contohnya seperti di bawah ini:

1. Menjadi anak yang lebih dewasa dan kuat

Hidup di keluarga yang broken ini justru membuat anak akan semakin mandiri, kuat dan dewasa. Karena masalah yang mereka alami ini bisa membuat mereka semakin mengerti tentang arti dari kehidupan dan membuat mereka kuat untuk menghadapi masalah di ke depannya yang dimana dapat membentuk mereka menjadi dewasa lebih awal.

2. Adanya rasa ingin mengubah hidup di masa depan

Belajar dari masalah yang mereka alami tentu saja mereka tidak ingin seperti orangtua mereka, mereka tidak ingin jatuh ke lubang yang sama. Maka dari itu, anak broken home cenderung memiliki rasa motivasi dan semangat yang tinggi karena mereka tidak ingin anak mereka nanti merasakan hal yang sama juga dengan apa yang anak broken home rasakan saat kecil.

3. Lebih menghargai dan mengerti tentang keluarga

Anak broken home cenderung memiliki rasa empati yang tinggi terhadap keluarga karena masa lalu yang pahit membuat mereka sangat peka terhadap hal-hal yang berkaitan dengan masalah keluarga. Dan tentu saja mereka akan semakin mengerti seberapa penting keluarga di dalam hidup mereka.

keluarga

Anak broken home tidak selalu identik dengan stigma negatif seperti yang ada di kalangan kita saat ini. Sering kali anak broken home dianggap berlebihan jika mengekspresikan kesedihannya karena keluarga, hal itu bisa menyebabkan bertambahnya rasa depresi dan bisa mengakibatkan stres terhadap anak broken home. Di sini, yang anak broken home butuhkan bukanlah perhatian khusus atau diperlakukan khusus, yang mereka butuhkan adalah bagaimana cara menyikapi keadaan ini dan membantu mengubah pola pikir mereka bahwa hal seperti broken home ini adalah bukan suatu hal yang perlu disedihi berlarut-larut, bantu mereka untuk bangkit lagi dari masalah yang mereka alami ini, dengarkan cerita-cerita yang ingin mereka ceritakan, jangan biarkan mereka memendam terlalu larut karena itu bisa menyebabkan dendam, kesedihan mendalam dan bisa sampai mengganggu keadaan hati mereka.

Maka dari itu, jangan jadikan broken home alasan untuk menjadi anak yang tidak terarah atau hancur masa depan nya, jadikan broken home sebagai acuan dan semangat untuk mengubah hidup menjadi lebih baik ke depannya, belajar menerima masalah broken home ini dan berpikir positif tentang ini semua, di balik semua ini pasti akan ada hikmah yang bisa diambil dan dipelajari untuk masa depan, jadikan ini sebagai motivasi untuk berkeluarga nantinya di masa depan, ambil hal positif dari permasalahan ini, buang hal negatif dan jadikan hal negatif ini sebagai pembelajaran untuk di masa yang akan datang. Banyak hal positif yang bisa dambil dari permasalahan broken home ini, tergantung bagaimana cara kalian menanggapi dan menghadapi masalah ini. Broken home is not an excuse to make your dreams and life broken too. Jangan takut dan bersedih, karena kalian tidak sendiri.

(Audrey Ardianto, Jurusan Public Relations, Fakultas Komunikasi, Angkatan 2017, London School of Public Relations)

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini