nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

2 Warga Depresi Berat Akibat Terjangan Puting Beliung di Cirebon

Fathnur Rohman, Jurnalis · Minggu 30 Desember 2018 22:05 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 12 30 525 1997877 2-warga-depresi-berat-akibat-terjangan-puting-beliung-di-cirebon-9fnKMGTQlC.jpg Dampak terjangan puting beliung di Cirebon. (Foto: Fathnur Rohman/Okezone)

CIREBON – Angin puting beliung menerjang wilayah Desa Pangurangan Kulon, Kecamatan Panguragan, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, pada Minggu sore tadi. Selain merusak sekira 165 bangunan dan merobohkan satu sekolah, kejadian tersebut membuat dua warga mengalami depresi berat.

Koordinator Lapangan BPBD Kabupaten Cirebon Fauzan mengatakan, hingga kini pihaknya masih melakukan penyisiran, baik mendata kerusakan maupun mencari warga yang menjadi korban dari angin puting beliung tersebut.

"Saat ini kami sedang melakukan penyisiran di lokasi kejadian," ujar Fauzan ketika dikonfirmasi Okezone, Minggu (30/12/2018).

(Baca juga: Cirebon Diterjang Puting Beliung, 1 Balita Tewas hingga 165 Bangunan Hancur)

Fauzan menerangkan, sebagian warga yang menjadi korban terjangan puting beliung sudah dibawa ke tempat yang aman di Masjid Baiturahman serta beberapa posko lainnya. "Korban puting beliung sudah diungsikan ke Masjid Baiturahman," jelas Fauzan.

Ia menambahkan, saat ini para korban sangat butuh keperluan logistik, seperti makanan cepat saji dan obat-obatan. "Di sini membutuhkan keperluan logistik dan beberapa obat untuk para korban," ungkapnya.

(Baca juga: Dahsyatnya Puting Beliung Melanda Batam, Penerbangan Terganggu)

Sementara Prakirawan BMKG Stasiun Jatiwangi, Ahmad Faa Iziyn, mengimbau kepada masyarakat agar menghindari awan hitam yang tampak rendah dan berpotensi menjadi angin puting beliung.

"Jika melihat ada awan hitam yang menjorok ke bawah seperti belalai gajah, sudah pasti itu puting beliung, jadi segeralah menghindar," ucap dia.

Seperti diketahui, kecepatan angin puting beliung yang menerjang wilayah Panguragan tersebut berkisar 80–100 kilometer per jam. Kejadian seperti itu disebut bisa terjadi di kemudian hari.

(han)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini