nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Dorong Potensi Desa, Tim ITB Buat Pemetaan Udara

Rany Fauziah, Jurnalis · Minggu 30 Desember 2018 17:41 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 12 30 65 1997829 dorong-potensi-desa-tim-itb-buat-pemetaan-udara-RorAOdNidN.jpg Pemetaan Udara Desa (Foto: ITB)

BANDUNG – Tim Keahlian Inderaja dan Sains Informasi Geografis, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian bersama Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) ITB melakukan kegiatan program pengabdian kepada masyarakat untuk Citarum Harum.

Berbeda dengan pengabdian masyarakat pada umumnya, kali ini bentuk kontribusi yang diberikan adalah berbasis aspek geospasial.

loading...

Dipimpin langsung oleh Prof. Ketut Wikantika, yang juga Ketua Kelompok Keilmuan Penginderaan Jauh dan Sains Informasi Geografis, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian, ITB melakukan Pembuatan Peta Foto Udara di Desa Cinangsi Cianjur.

Manfaat Peta Desa

Menurut Prof Ketut Wikantika, sudah selayaknya desa manapun di seluruh Indonesia perlu menyusun peta desanya. “Melalui peta foto udara ini kita dapat melihat secara lengkap aspek geografis, topografis, kependudukan serta aspek lainnya sehingga kita dapat mengetahui lokasi, kondisi, objek-objek serta status pembangunan desa secara komprehensif,” ucapnya, dilansir dari laman ITB, Minggu (30/12/2018).

Baca Juga: Lakukan Survei, Peneliti Dari ITB Temui Fakta Baru soal Gempa Palu

Lebih lanjut dia mengatakan peta desa yang dihasilkan akan memberikan manfaat yang luas dalam jangka pendek maupun panjang. Dengan memetakan objek yang ada di desa tersebut, dapat diketahui berbagai informasi keruangan seperti kondisi daerah pertanian seperti sawah beserta status pertumbuhannya, kebun kelapa sawit, rumah penduduk beserta sebarannya, juga semua aset dan potensi desa tersebut. Hal ini kemudian dapat dijadikan sebagai referensi utama geospasial dalam pengembangan desa tersebut ke depannya.

“Nantinya, hal ini juga berguna untuk melihat ancaman bencana seperti apa yang ada di desa serta bagaimana mengembangkan potensi-potensi yang dimiliki desa ke depannya,” lanjutnya.

Baca Juga: Kiat Membangun Startup dari Hari Tjahjono, Bos Abyor International

Dia mencontohkan, dalam hal mitigasi bencana, peta tersebut dijadikan referensi dalam menentukan zona rawan banjir jika terjadinya hujan dengan insensitas tinggi, daerah rawan longsor, dan untuk evakuasi ketika terjadi bencana. Dalam pembangunan infrastruktur peta desa juga sangat berguna seperti dalam perencanaan jaringan irigrasi. Dimana aspek topografis pada peta dapat ditentukan beda tinggi antar titik sehingga dapat direncanakan ke arah mana air akan dialirkan.

Begitu luasnya manfaat dari peta desa ini sehingga memiliki urgensi dalam pengadaannya. Kemudian ia juga menambahkan bahwa dari berbagai macam masalah yang ada nantinya peta desa ini dapat dijadikan sebagai salah satu sumber atau landasan dalam pengambilan kebijakan.

Penyerahan Peta

Sebelum peta foto udara ini diserahkan secara resmi pada hari Jumat (21/12/2018), pengambilan data sudah dilakukan pada hari Minggu. Pengambilan data foto udara Desa Cinangsi dilakukan oleh Tim ITB menggunakan drone dengan lama terbang sekitar lima puluh menit untuk memetakan desa dengan luas lebih dari 600 hektar tersebut.

Pengambilan data foto hingga menjadi sebuah peta desa melewati beberapa tahapan yang terdiri atas persiapan, pengambilan data, penyusunan mozaik foto, hingga akhirnya menjadi sebuah peta. Proses tersebut membutuhkan waktu beberapa hari saja sebelum akhirnya diserahkan secara resmi ke aparat desa.

Pembuatan peta dengan metode pemotretan udara dengan drone ini dipilih oleh nya karena memiliki banyak keunggulan, di antaranya biaya pengerjaan relatif murah, dan pengolahan data yang tergolong mudah sehingga waktu pengerjaan pun juga singkat. Pengolahan data yang sedemikian rupa akhirnya juga membuat peta ini dapat dilihat secara stereo berbentuk tiga 3 (tiga) dimensi.

Pada hari penyerahan peta foto tersebut juga dilakukan rangkaian kegiatan pelatihan singkat pemotretan dengan drone untuk warga sekitar serta aparat desa. Terlihat kepala dan aparat desa antusias dalam pelaksanaan kursus tersebut. Prof. Ketut Wikantika berharap nantinya program ini dapat dilaksanakan secara berkelanjutan hingga nantinya bisa dilakukan updating atau pembaharuan terhadap informasi geospasial desa.

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini