PM Petahana, Sheikh Hasina Raih Kemenangan Telak dalam Pemilu Bangladesh

Indi Safitri , Okezone · Senin 31 Desember 2018 11:49 WIB
https: img.okezone.com content 2018 12 31 18 1998059 pm-petahana-sheikh-hasina-raih-kemenangan-telak-dalam-pemilu-bangladesh-Mm6VkTWKQC.jpg PM Bangladesh, Sheikh Hasina. (Foto: Reuters)

DHAKA - Perdana Menteri Bangladesh, Sheikh Hasina akan menjalani masa jabatan keempatnya menyusul kemenangan telak dalam pemilihan umum Bangladesh pada Minggu, 31 Desember. Kemenangan itu diwarnai protes dan penolakan pihak oposisi yang menyebutnya “menggelikan” dan menuduh telah terjadi kecurangan dalam pemilihan.

Protes dan penolakan itu juga menyebabkan pecahnya bentrokan yang menewaskan sedikitnya 17 orang.

Diwartakan AFP, mengutip Sekretaris Komisi Pemilihan Umum, Helal Udding Ahmed, pada Jumat (31/12/18), Partai Liga Awami yang berkuasa yang dipimpin Hasina dan partai-partai sekutunya memenangkan 288 kursi dari 300 kursi di parlemen, sementara oposisi utama hanya memperoleh enam kursi.

BACA JUGA: Pemilu Bangladesh Dinilai sebagai Referendum

Pemerintah Hasina telah mengambil tindakan keras terhadap oposisi, aliansi yang dipimpin oleh Partai Nasional Bangladesh. Pihak oposisi mendesak komisi pemilihan Bangladesh untuk membatalkan hasil pemilu dan menggelar pemilihan baru.

"Kami menuntut pemilihan baru diadakan di bawah pemerintahan netral sedini mungkin," ujar Pimpinan Aliansi Oposisi, Kamal Hossain.

Kekerasan mematikan dan persaingan sengit yang merusak kampanye pemilu meluas hingga hari pemungutan suara, meskia pihak berwenang telah memberlakukan keamanan ketat dengan menerjunkan 600.000 tentara, polisi dan pasukan keamanan lainnya di seluruh negeri.

Menurut pihak kepolisian, tiga belas orang tewas dalam bentrokan antara pendukung Liga Awami dan pendukung BNP, sementara tiga pria lainnya ditembak oleh polisi yang sedang menjaga tempat pemungutan suara. Seorang anggota polisi tambahan juga dilaporkan tewas dibunuh oleh aktivis oposisi bersenjata.

Hasina yang saat ini berusia 71 tahun, telah disanjung karena mendorong pertumbuhan ekonomi di negara Asia Selatan yang miskin itu selama satu dekade berkuasa dan karena menyambut para pengungsi Rohingya yang melarikan diri dari penumpasan militer di negara tetangga, Myanmar.

Tetapi kritikus menuduhnya otoriter dan melumpuhkan oposisi, termasuk saingan beratnya dan pemimpin BNP, Khaleda Zia yang menjalani 17 tahun penjara dengan tuduhan korupsi.

Aliansi oposisi pada Minggu menuduh partai Hasina menggunakan kotak suara dan cara ilegal lainnya untuk mendapatkan hasil pemilu.

Juru bicara BNP, Syed Moazzem Hossain Alal mengatakan adanya "kejanggalan" di 221 dari 300 kursi yang diperebutkan.

BACA JUGA: Aksi Kekerasan Terkait Pemilu di Bangladesh Tewaskan 17 Orang

"Pemilih tidak diizinkan masuk ke bilik. Terutama pemilih perempuan dipaksa memilih kapal," kata Alal, merujuk pada lambang Liga Awami yang bergambar kapal.

Juru bicara komisi pemilihan Bangladesh, S.M. Asaduzzaman mengatakan kepada AFP bahwa badan itu "menerima beberapa tuduhan penyimpangan" dan sedang diselidiki.

Hasina tidak segera menanggapi tuduhan tetapi mengatakan menjelang pemungutan suara bahwa semua akan berjalan dengan bebas dan adil.

Pemungutan suara di ibukota Dhaka sebagian besar damai karena konvoi tentara dan pasukan paramiliter yang berada di jalan-jalan di mana sebagian besar kegiatan lalu lintas dilarang.

Namun, pemilih di daerah provinsi melaporkan intimidasi.

Seorang pemilih, Atiar Rahman, mengatakan dia dipukuli oleh aktivis partai yang berkuasa di distrik pusat Narayanganj.

“Mereka mengatakan kepada saya untuk tidak mengganggu, ‘Kami akan memberikan suara Anda atas nama Anda,” ujarnya kepada AFP.

Pihak oposisi mengatakan kerusuhan itu digerakkan untuk menghalangi pemilih, dan pihak pengawas melaporkan tingkat partisipasi yang rendah di seluruh negeri.

Korban tewas pada Minggu menjadikan 21 jumlah korban resmi untuk kekerasan pemilu sejak pemungutan suara diumumkan pada 8 November.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini