nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

4 Alat Deteksi Dini Tsunami di Pantai Selatan Jateng Rusak

Taufik Budi, Jurnalis · Senin 31 Desember 2018 02:44 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 12 31 512 1997909 4-alat-deteksi-dini-tsunami-di-pantai-selatan-jateng-rusak-tVef6mQiKi.jpg Tsunami Selat Sunda. (Foto: Ist)

SEMARANG – Empat alat pendeteksi dini bahaya atau early warning system (EWS) tsunami di wilayah Pantai Selatan Jawa Tengah dinyatakan tidak berfungsi alias rusak. Maka itu, masyarakat di sekitar garis Pantai Selatan Jateng diminta waspada terhadap gelombang tinggi.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jateng, Sarwa Pramana, mengatakan peralatan pendeteksi dini bencana tersebut kebanyakan korslet akibat korosi. Penyebab korosi yakni air laut yang merusak bagian receiver atau penerima sinyal.

loading...

"Karenanya sirine tak berfungsi normal," kata Sarwa, Minggu 30 Desember 2018.

(Baca juga: Pengungsi Terdampak Tsunami di Lampung Selatan Sebanyak 7.880 Orang)

Beberapa EWS yang rusak itu berada di beberapa daerah pesisir Pantai Selatan seperti Cilacap, Kebumen, Purworejo, dan Wonogiri. Khusus di Xilacap membutuhkan dua EWS karena terdapat dua kecamatan yang berada persis di pinggir pantai.

Dampak tsunami Selat Sunda. (Foto: BBC News Indonesia)

"Early warning system tsunami ada di Cilacap, Kebumen, Purworejo, satunya di Wonogiri. Wonogiri masih kurang. Yang paling banyak dibutuhkan seharusnya Cilacap, karena ada dua kecamatan yang posisinya di bibir pantai. Ini yang perlu diantisipasi," terangnya.

(Baca juga: Kesaksian Wanita Hamil 8 Bulan Selamat dari Terjangan Tsunami Selat Sunda)

Sarwa berharap EWS yang rusak bisa segera diperbaiki atau diganti dengan baru. Sebab, daerah-daerah tersebut langsung berhadapan dengan perairan Samudera Hindia dan rawan terhadap terjangan ombak besar. Jika suatu saat terjadi gempa besar, maka langkah utama adalah mengevakuasi warga terlebih dahulu.

"Jawa Tengah harus bisa mengambil inisiasi pada saat nanti diwarnai gempa 6,7 SR, terjadi tsunami atau tidak, masyarakat harus kita tarik (evakuasi)," tukasnya.

"Risikonya hanya satu, kita ngopeni (memenuhi) kebutuhan dasar masyarakat. Kalau hanya semalam tidak masalah Pemerintah Daerah Jawa Tengah bisa, untuk meminimalisasi risiko nyawa (korban jiwa),” pungkasnya.

(han)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini