TKN: Pentingnya Membangun Demokrasi yang Membawa Kegembiraan

Muhamad Rizky, Okezone · Senin 31 Desember 2018 01:01 WIB
https: img.okezone.com content 2018 12 31 605 1997898 tkn-pentingnya-membangun-demokrasi-yang-membawa-kegembiraan-WLa07Eb5ck.jpg Refleksi akhir tahun Jokowi App. (Foto: Ist)

JAKARTA – Tim Kampanye Nasional Joko Widodo-Ma'ruf Amin telah meluncurkan aplikasi Jokowi App di Jakarta pada Sabtu 17 November 2018. Selama lebih dari 1,5 bulan sejak diluncurkan, Jokowi App telah menarik perhatian publik yang besar.

Selain untuk menangkal hoaks, Jokowi App juga memuat seluruh kegiatan kampanye nasional Jokowi-Kiai Ma'ruf. "Peluncuran Jokowi App adalah bagian dari gerakan untuk mewujudkan pilpres sebagai pesta demokrasi yang menggembirakan bagi rakyat, bukan untuk menakut-nakuti," kata Direktur Program TKN Jokowi-Amin, Aria Bima, dalam acara refleksi akhir tahun Jokowi App, di Jakarta, Minggu 30 Desember 2018.

Pria yang akrab disapa Bimo ini membeberkan bahwa Jokowi App terdiri dari enam kanal yakni Lebih Dekat Jokowi, Kerja Jokowi, Lebih Dekat KH Ma'ruf Amin, Indonesia Maju, Sudut Pandang, dan Suaraku. "Semua ini adalah bagian dari upaya membangun gerakan kampanye yang lebih bijaksana dan lebih cerdas dalam membangun demokrasi kita," ujarnya.

(Baca juga: PDIP: Elektabilitas Jokowi Unggul karena Kepuasan Publik)

Deputi I Kepala Staf Presiden, Darmawan Prasojo, mengapresiasi peluncuran Jokowi App yang dilakukan TKN Jokowi-Ma'ruf Amin. Ia mengaku telah men-download dan meng-install aplikasi Jokowi App. Darmawan terkesan dengan beberapa video yang tayang dalam Jokowi App, seperti pembangunan jalan Trans-Papua.

"Kami pernah mendapati kenyataan ada seorang ibu membutuhkan tiga hari perjalanan menuju Wamena. Apabila menggunakan pesawat kecil, harga tiketnya bisa mencapai Rp15 juta. Kini dia cuma membutuhkan waktu 4 jam dengan ongkos Rp500 ribu," ujar pria yang akrab disapa Darmo tersebut.

Sekjen Ikatan Sarjana NU (ISNU), Muhammad Kholid Syeirazi, mengatakan perkembangan demokrasi akhir-akhir ini membuat dirinya geram. Sebab, perdebatan yang berkembang justru persoalan keislaman Jokowi atau Prabowo.

"Seharusnya perdebatannya bukan soal itu, tetapi gagasan mengenai persoalan publik yang penting. Seperti, divestasi Freeport atau pengelolaan Blok Rokan. Perdebatan soal agama harusnya sudah selesai sejak 1945," ujarnya.

(Baca juga: Refleksi Akhir Tahun 2018, PKB: Tidak Ada Kriminalisasi Ulama di Era Jokowi)

Sementara Deputi II Kepala Staf Kepresidenan, Yanuar Nugroho, mengatakan perubahan paradigma yang mendasar dari pemerintahan Presiden Jokowi dibanding sebelumnya adalah kesadaran untuk membangun Indonesia dari pinggir. Konsep Indonesia-Sentris yang digaungkan Presiden Jokowi merupakan kunci untuk menyelesaikan ketimpangan antarwilayah.

"Presiden Jokowi juga menekankan pentingnya reformasi birokrasi. Karena birokrasi ibarat mesin bagi mobil. Tanpa mesin yang mumpuni, meski memakai bodi mobil Ferrari, tidak akan melaju kencang," tuturnya.

Baik Darmo maupun Yanuar berharap keberadaan Jokowi App mampu mengomunikasikan capaian yang telah dilakukan selama empat tahun kepada masyarakat. Termasuk, memaparkan visi misi Jokowi-Ma’ruf Amin untuk menjalani periode kedua 2014–2019 apabila kelak terpilih.

Aplikasi Jokowi App sendiri mendapat respons yang antusias dari publik. Dalam pekan pertama sejak diluncurkan, Jokowi App menjadi trending nomor satu di Google Play atau Play Store dalam aplikasi ponsel pintar berbasis Android.

(han)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini