nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Penipuan Investasi Bodong, WN Nigeria Jadi Buronan Polisi

Herman Amiruddin, Jurnalis · Sabtu 05 Januari 2019 09:54 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 01 05 340 2000267 penipuan-investasi-bodong-wn-nigeria-jadi-buronan-polisi-9I8FO0nhjc.jpg Foto: Okezone

MAKASSAR - Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Dit Reskrimsus) Polda Sulawesi Selatan membongkar sindikat kasus penipuan online jaringan Internasional melibatkan warga negara Nigeria.

Warga Negara Asing (WNA) asal Nigeria bernama Chiko kini dalam pengejaran aparat kepolisian republik Indonesia. Ia ditetapkan sebagai daftar percarian orang (DPO), karena berperan sebagai otak penipuan daring (online) jaringan Internasional.

Petugas pun mengamankan salah satu jaringannya yakni tersangka bernama Hanni Armita (35) warga asal Bengkulu yang dibekuk di sebuah apartemen di Jakarta pada 20 Desember 2018 lalu

Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Dicky Sondani mengatakan, kasus penipuan itu bermula saat korban penipuan memberikan laporan penipuan di Polda Sulsel.

 peniap

Dari keterangan korban Martinus Musu warga Toraja itu ke Polda Sulsel mengaku dijanjikan Rp2 Miliar jika mentransfer uang ke pelaku.

Diketahui, pelaku Chiko menginvite korban melalui akun Facebooknya. Selanjutnya kemudian pelaku berkenalan dengan korban dan melakukan chating selama beberapa pekan.

 (Baca juga: Tipu Ratusan Konsumen soal Rumah Subsidi, Bos Pengembang di Tangsel Ditangkap)

Dari percakapan di media sosial itu pelaku bermaksud hendak berinvestasi di Indonesia senilai 1,2 juta USD. Selanjutnya pelaku menyampaikan bahwa uang tersebut akan dikirim ke alamat korban. Beberapa hari kemudian korban dihubungi oleh orang yang berbeda yang mengaku anggota pelaku yakni atas nama Tuti Hariyani, Maria dan Jenieva Putri Angreni.

"Saat korban dihubungi oleh anggota pelaku tersebut korban diminta untuk mengirimkan sejumlah dana sebagai uang pajak dan uang administrasi," kata Dicky kepada Okezone, Sabtu (5/1/2019).

 peni

Saat korban terperdaya, pelaku Hanni Arnita yang bertugas menghubungi korban untuk meminta uang pajak dari korban yang disetor ke sejumlah rekening. Sehingga korban mentransfer uang berkali-kali ke rekening bank yang berbeda beda milik kedua pelaku dengan total mencapai kurang lebih Rp655 juta.

"Korban kirim uang itu, sekian ratus juta untuk lunasi dulu pajaknya. Dimintai terus sehingga tidak terasa uang yang dikirim sudah Rp655 juta," ujar Dicky

 (Baca juga: Intel Kejari Batam Tangkap Buronan Kasus Penipuan)

Bersama pelaku turut disita barang bukti yang digunakan untuk melancarkan aksinya berupa 11 unit HP, 1 unit laptop, 6 buku tabungan, 4 lembar uang kertas dollar dan 2 lembar kartu ATM.

Kini pelaku harus mempertanggungjawabkan perbuatannya dengan Pasal 28 Ayat (1) Jo Pasal 36 Jo Pasal 51 Ayat (2) dan atau Pasal 35 Jo Pasal 51 Ayat (1) UU RI Nomor 19 tahun 2016 Tentang Perubahan atas UU RI Nomor 11 tahun 2008 tentang ITE Jo Pasal 55 KUHP.

(wal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini