nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Jangan Takut, Driver Ojol Lihat GPS Tak Bakal Ditilang

Taufik Budi, Jurnalis · Sabtu 05 Januari 2019 18:05 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 01 05 512 2000342 jangan-takut-driver-ojol-lihat-gps-tak-bakal-ditilang-Xl7T9jIhGi.jpg Driver Ojek Online Mengendarai Sambil Melihat GPS (foto: Fardiansyah/Okezone)

SEMARANG – Fitur Global Positioning System (GPS) yang tertanam pada ponsel pintar diakui sangat membantu pengendara agar tak menyasar. Tak heran, bila banyak pengemudi ojek online (ojol) yang memasang ponsel pintarnya di atas speedometer sebagai penunjuk jalan.

Meski demikian, bukan tanpa risiko. Mereka tetap harus berhati-hati menjaga ponsel itu agar tak jatuh. Terutama ketika melaju dengan kecepatan tinggi, dan kebetulan jalan tak rata atau berlubang. Ponsel jutaan rupiah itu bakal jatuh, pecah, atau bahkan hilang.

“Saya sudah dua kali HP jatuh. Sayang juga kan harganya jutaan rupiah. Ya ditaruh di depan sini, di atas speedometer, biar mudah untuk dilihat. Meski sudah ada guritanya, tapi tetap jatuh juga,” kata seorang driver ojol, Maskur Afifudin.

(Baca Juga: Makin Diminati Masyarakat, Ojek Online Kerap Timbulkan Kemacetan) 

Setelah peristiwa tersebut, Maskur mengaku sangat jarang memasang ponsel di atas speedometer. Warga Ungaran Semarang itu juga tak suka berkendara dengan satu tangan, sementara tangan lainnya untuk memegang ponsel.

“Enggak lah, kalau nyetir pakai satu tangan. Bahaya. Palingan, HP ditaruh di saku. Terus untuk rute bila enggak tahu ya tanya kepada penumpang atau customer kita. Biasanya mereka juga menjawab dengan baik, asaal kita nanyanya juga baik-baik,” terangnya.

Seorang Driver Ojek Online Menggunakan GPS (Taufik Budi)	Seorang Driver Ojek Online Menggunakan GPS (Taufik Budi)

Maskur menyampaikan, fitur GPS di layar monitor ponsel hanya dilihat ketika awal menerima order. Setelah dipastikan titik penjemputan, dia juga bisa menjalin komunikasi dengan konsumen melalui layanan pesan singkat atau telefon.

“Saya sekarang lihat GPS itu hanya ketika mau jemput. Selebihnya HP masuk kantong. Untuk Kota Semarang dan sekitarnya ini saya cukup tahu lah jalan-jalannya. Sudah dua tahun ini berkeliling sebagai ojek online,” tukas dia.

Selain takut ponsel jatuh bila dipasang di atas speedometer, dia mengungkapkan kekhawatirannya bila tepergok polisi. Menurut informasi yang diterimanya, memasang ponsel di atas speedometer bakal terkena tindakan langsung (tilang).

“Kata teman-teman begitu (ditilang). Katanya sampai Rp500 ribu. Makanya mending sekarang disimpan saja dalam saku jaket, aman tak jatuh juga tak terkena tilang. Kalau ditegur penumpang sih enggak pernah, karena sekarang saya jarang pakai GPS,” beber dia.

Pengamat transportasi Theresiana Tarigan menyampaikan, berkendara di jalan tak hanya membutuhkan keterampilan tetapi juga konsentrasi tinggi. Untuk itu, setiap pengendara wajib menghindari pengoperasian ponsel dengan tangan karena bakal mengganggu konsentrasi.

Dia pun menekankan pengemudi ojol tetap memperhatikan batas kecepatan aman berkendara. Semakin cepat laju kendaraan, maka risiko dampak kecelakaan lalu lintas kian besar. Terlebih bagi pengendara yang tak kehilangan konsentrasi karena mengoperasikan ponsel.

“Sebenarnya itu tidak apa-apa (melihat GPS) ketika dia masih dalam ke batas kecepatan yang wajar. Ketika tidak dalam kecepatan tinggi dan melirik handphone yang ada di atas speedometer, itu tidak masalah. Jadi tergantung pada kecepatan dia,” kata Theresiana.

Infografis Kontroversi Penggunaan GPS Ojek Online (foto: Okezone)	 

Menurutnya, keselamatan merupakan salah satu prinsip dasar penyelenggaraan transportasi. Namun, prinsip ini seringkali tidak sejalan dengan praktik di lapangan. Rambu-rambu lalu lintas juga dinilai masih sangat minim.

“Untuk kecepatan kendaraan bermotor di jalan lingkungan jangan melebihi batas kecepatan yang aman yaitu 30 kilometer per jam. Tapi di jalan perkotaan sering ditemui kendaraan roda dua melaju melebih batas kecepatan 50 kilometer per jam,” tukas dia.

Perempuan yang tinggal di kawasan Sampangan Semarang ini menambahkan, sering kali pengemudi ojol yang melaju cepat karena melayani permintaan penumpang. Kondisi inilah yang membahayakan hingga berpotensi terjadi kecelakaan lalu lintas.

“Justru yang minta cepat-cepat itu adalah konsumen, bukan dari drivernya. Sehingga bila driver melaju cepat dan kerap melihat GPS itu yang berbahaya. Sementara jika driver tanya terus-terusan ke konsumen, nanti malah dikasih bintang satu. Kan apes itu drivernya,” tutur dia.

“Jadi untuk driver ojek online yang suka melihat atau mengoperasikan GPS di ponsel, lebih baik tidak dilakukan mengingat risiko lebih tinggi. Karena pengendara tanpa pelindung sebagaimana mobil,” kata Theresiana.

 

Tere pun mengimbau perusahaan jasa ojek online tak hanya memberikan edukasi keselamatan lalu lintas kepada pengemudi tetapi juga bagi para penumpang. Termasuk arti pemberian umpan balik tanda bintang untuk pengemudi.

“Saya sering komunikasi dengan para driver online ini. Mereka mengaku kalau baru saya mendapat bintang satu, dua, tiga. Gara-garanya sering tanya ke konsumen. Nah dari itu si driver bakal menerima sanksi dari perusahaan, bisa di-suspend,” jelas perempuan yang akrab disapa Tere itu.

Sementara itu, Kasatlantas Polrestabes Semarang, AKBP Yuswanto Ardi, mengatakan, tak ada larangan pengendara untuk melihat fitur GPS baik di sepeda motor maupun mobil. Dengan catatan, tak mengganggu organ gerak yang berakibat kurangnya konsentrasi pengendara.

“Fitur GPS dewasa ini sudah menjadi sebuah kebutuhan bagi pengendara. Sepanjang dia dalam pengoperasiannya tidak mengganggu anggota badan yang lain seperti tangan, kaki, dan sebagainya, kita tidak mempersoalkan hal tersebut,” tegas ardi.

Polisi juga tidak akan memberikan sanksi tilang kepada pengendara yang memasang ponsel pintar di atas speedometer. Selama pengendara tidak mengoperasikan ponsel secara langsung dan sekadar melihat, maka tidak akan dikejar polisi karena dianggap melakukan pelanggaran.

“Sekarang driver online roda dua menempelkan handphone-nya di speedometer. Saya pikir itu fine-faine saja, karena itu sudah cukup aman. Dan yang penting tangan kiri-kanan masih pegang stang, bisa mengoperasionalkan kendaraan tersebut,” terangnya.

“Enggak benar (akan ditilang jika melihat GPS). Kecuali itu (ponsel) dipegang, dioperasionalkan, itu enggak boleh,” tandasnya.

(Baca Juga: Minim Perlindungan, Driver Ojol Bertahan dengan Berbagai Macam Alasan) 

Ardi juga menuturkan, pelanggaran lalu lintas tidak hanya akibat penggunaan HP yang dipegang tangan secara langsung. Jika pengemudi mulai kehilangan konsentrasi karena organ gerak tangannya digunakan untuk aktivitas lain juga akan diberikan tilang.

Kejar Target Pajak Kendaraan Bermotor, Petugas Gabungan Gelar Razia di Jakarta Utara Ilustrasi Ojek Online Ditilang (Koran SINDO) 

“Substansi permasalahannya bukan pada melihat GPS. Atau bahkan ketika ada ibu-ibu yang mengemudikan motor sambil menyisir rambutnya pun juga akan kita lakukan penindakkan,” tuturnya memberi contoh.

“Kalau GPS sendiri, kita bisa memahami itu sebagai satu kebutuhan bagi masyarakat saat ini. Kendaraan yang baru-baru terutama mobil juga ada fitur GPS. Yang penting tidak mengganggu mengganggu anggota gerak kita,” pungkasnya.

(fid)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini