nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Sosok Pahlawan Penyu Muncul dari Pantai Pekik Nyaring di Bengkulu

Demon Fajri, Jurnalis · Kamis 10 Januari 2019 16:22 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 01 10 340 2002667 sosok-pahlawan-penyu-muncul-dari-pantai-pekik-nyaring-di-bengkulu-WtK7fPOags.jpg Zul Karnedi, Pahlawan Penyu (Foto: Demon/Okezone)

BENGKULU - Bengkulu Tengah adalah satu dari 10 kabupaten/kota di Provinsi Bengkulu. Di daerah ini memiliki salah satu objek wisata pantai, memang tak begitu populer di kalangan pelancong, baik domestik maupun manca negara.

Di balik ketidakpopuleran tersebut, siapa sangka pantai satu ini menjadi salah satu lokasi persinggahan penyu. Bahkan, dijadikan lokasi penangkaran penyu. Penyu hijau (Chelonia mydas), penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu lekang (Lepidochelys olivacea), contohnya.

Dari pantai ini-lah ribuan tukik atau anak penyu telah dilepasliarkan di sejumlah pantai di Bengkulu. Penyelamatan penyu itu tidak lepas dari sosok pahlawan penyu asal pantai Pekik Nyaring, desa Pekik Nyaring Kecamatan Pondok Kelapa Kabupaten Bengkulu Tengah. Zul Karnedi, namanya. Pria kelahiran 52 tahun lalu itu sukarela merawat satwa migran itu.

Hari itu, cuaca di daerah ini cerah berawan. Sinar mentari mulai merasuki sela-sela pori-pori kulit terik. Pria yang bekerja sebagai nelayan itu baru pulang dari lokasi penangkaran penyu. Tepi pantai Pekik Nyaring, persisnya. Tak jauh dari rumah-nya. Berjarak 70 meter, kira-kira.

Baca Juga: Nasib Penyu di Raja Ampat Melawan Tradisi Lokal

Pahlawan Penyu

Penyu sudah menjadi bagian hidup dari pria kelahiran, Bengkulu, 7 Juli 1967 ini. Terhitung 2011, bapak enam orang anak ini sudah bergelut dengan penyu. Kecintaanya terhadap penyu dibuktikan dengan membeli telur penyu dari nelayan dan masyarakat setempat yang menemukan telur penyu dari kawasan pantai Pekik Nyaring.

Zul, panggilan akrab pria ini pun rela mengeluarkan uang hasil dari melaut untuk membeli telur penyu, seharga Rp8.000 per butir.'Kegilaannya' itu bukan tidak ada alasan. Ia hanya ingin satwa ini masih bisa di lihat anak cucu-nya nanti serta tidak langka di sepanjang pantai Bengkulu.

Penyelamatan penyu di pantai Pekik Nyaring, ia tidak sendiri. Namun, melibatkan istri dan keenam anaknya. Bahkan, rumah pribadi-nya menjadi lokasi penyelamatan sekaligus penangkaran penyu. Perlengkapan dan peralatan seadaanya, terbatas. Hal tersebut tidak membuat mereka sekeluarga mundur.

''Telur penyu saya beli dari nelayan yang menemukan telur di pantai,'' kata suami dari Mulyana, Selasa 8 Desember 2019.

Selamatkan Penyu, Zul Rela Beli Telur Penyu

Di tahun 2011, dirinya sempat melakoni jual-beli telur penyu. Telur itu ia peroleh dari penemuan di sekitar pantai dan pembelian dari kalangan nelayan. Pekerjaan itu sempat ia lakoni tidak kurang dari lima tahun, terhitung 2011 hingga 2016.

Selama lima tahun itu, pria berkumis ini mulai sadar. Apa yang ia lakoni itu tidak benar. Sebab, dirinya berpikir jika pekerjaan tersebut berlanjut keberadaan penyu menjadi langka dan menghilang. Kesadarannya itu diiringi suport dari Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Bengkulu.

Di mana dari DKP membeli telur penyu yang ditemukan di tepi pantai, seharga Rp15 ribu per butir. Nominal itu termasuk biaya penangkaran penyu. Mulai dari pengeraman telur, tukik (anak penyu), biaya makan tukik, serta kebutuhan lainnya dalam perawatan satwa migran tersebut.

Penyu

Kesadaran Zul, tidak hanya sebatas pembelian telur dari DKP. Namun, penyu merupakan salah satu satwa yang di lindungi berdasarkan, Undang-Undang No 5 tahun 1990, tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem-nya. Bahkan, Zul berpikir jika penyu merupakan salah satu satwa petujuk bagi nelayan saat berada di tengah laut.

''Kalau cerita pendahulu kami, jika melihat penyu di permukaan laut dalam perjalan di tengah laut itu tandanya mau sampai ke pulau,'' cerita pria bapak dari enam orang anak ini.

Berangkat dari kesadaran tersebut, tahun 2016, ia mulai menangkarkan penyu. Pengeraman telur penyu menggunakan peralatan dan perlengkapan terbatas. Rumah pribadi, sebagai lokasi penangkaran-nya. Berbekal ilmu seadanya, Zul se-keluarga merawat tukik (anak penyu) dengan ikhlas.

''Saya belajar merawat penyu secara otodidak,'' aku, pria berkumis itu.

Merawat Penyu Tanpa Bayaran

Pengeraman telur penyu hasil temuan dan pembelian dari nelayan di pantai Pekik Nyaring, dipindahkan kedalam ember berisi pasir pantai, berlobang. Kemudian, telur tersebut dimasukkan kedalam ember dengan posisi berdiri. Hanya dalam pengeraman telur tersebut tidak bisa dengan suhu terlalu dingin dan panas. Kira-kira, 30 hingga 35 derajat.

Sembari menunggu masa inkubasi atau penetasan telur, Zul tetap bekerja sebagai nelayan. Begitu juga dengan anggota keluarga lainnya. Kondisi tersebut juga diiringi dengan jadwal bulan pendaratan induk penyu di kawasan pantai Pekik Nyaring, pada bulan April, Mei, Juni dan Juli.

Sejak menangkarkan penyu tiga tahun terakhir, terhitung 2016 hingga 2018. Zul bersama keluaraga telah menemukan 29 sarang penyu di pantai pekik nyaring, sepanjang 2,5 km. Dengan total telur yang ditemukan tidak kurang dari 3.260 butir telur. Rinciannya, pada tahun 2016, sarang penyu ditemukan 5 sarang. Dari lima sarang itu ditemukan 531 telur penyu lekang.

Pahlawan Penyu

Di tahun 2017, tak jauh beda dengan tahun 2016. Mereka sekeluarga menemukan lima sarang. Lima sarang itu ditemukan sebanyak 539 butir telur penyu lekang. Sementara, pada tahun 2018, Zul menemukan 19 sarang penyu di tepi pantai. Dari 19 sarang itu ditemukan 2.190 butir telur penyu. Jenis, sisik, lekang dan hijau.

''Telur menetas selama 60 hari. Dari 100 hingga 120 butir telur yang dieramkan hanya 50 butir yang menetas. Kadang ada 80 butir, ada juga yang menetas 90 butir,'' kata suami dari Mulyana.

''Satu ekor penyu bisa bertelur dari 80 hingga 120 butir telur sekali bersarang di tepi pantai,'' sambung Zul.

Setelah menetas, tukik atau anak penyu di beri makan sabut kelapa. Pengetahuan tersebut Zul peroleh dari pengetahuan nenek moyang mereka terdahulu. Namun, tukik juga diberi pakan udang rebon. Sementara, tukik berumur dua minggu diberi pakan ikan yang di cincang, dan tukik berumur satu bulan di kasih ikan segar.

''Perawatan penyu sama sekali tidak ada di gaji,'' sampai Zul.

Ribuan Tukik Dilepasliarkan

Penangkaran tukik yang dilakoni Zul juga telah melestarikan keberadaan penyu di sepanjang pantai Bengkulu. Tercatat, tukik telah dilepasliarkan tidak kurang dari 1.850 ekor tukik, selama tiga tahun terakhir. Pelepasan tukik itu sejumlah kawasan.

Seperti, pantai Pekik Nyaring, Teluk Sepang Kota Bengkulu, Berkas, Panjang dan Pulau Tikus Kota Bengkulu. Tukik yang dilepasliarkan itu berbagai jenis. Mulai dari Lekang, Sisik, Belimbing dan Hijau. Di mana, pada tahun 2016 tukik dilepas sebanyak 600 tukik. Tahun 2017, 400 tukik dan 2018 sebanyak 850 tukik.

Setiap pelepasan tukik, Zul selalu mengambil sample satu ekor tukik untuk di pelihara di penangkaran. Hal tersebut sebagai perbandingan tukik yang dilepasliarkan.

''Tukik dilepasliarkan di sejumlah kawasan pantai di Bengkulu. Setiap pelepasan tukik, satu di ambil sebagia sample untuk di pelihara di penangkaran,'' sampai pria kelahiran 1967 ini.

Penyu

Angkut Air Pantai untuk Tukik, Zul Dibilang 'Gila'

Pekerjaan sosial yang dilakoni Zul beserta tidak serta merta di terima oleh masyarakat setempat. Sebab, dirinya sempat diejek-ejek dan dibilang 'gila' atas pekerjaan tersebut. Bagaimana tidak, pekerjaannya tersebut sama sekali tidak sama sekali menghasilkan uang. Melainkan mengeluarkan uang untuk merawat tukik atau anak penyu.

Ejekan tersebut tidak dihiraukan, pria bertubuh kurus ini. Ia terus beraktivitas, merawat telur penyu. Ejakan itu juga muncul ketika Zul mengangkut air laut dari tepi pantai ke lokasi penangkaran penyu, dikediamannya. Pengangkutan air itu sebanyak 7 ember berukuran besar. Hingga beberapa ulang, yang dilakukan seta hari.

Tidak sampai di situ, ''kegilaan'' Zul terhadap penyu dengan rela mengambil air pantai di kawasan pantai Malabero Kelurahan Malabero Kecamatan Teluk Segara Kota Bengkulu, berjarak 8 kilometer (KM), kira-kira. Hal tersebut Zul lakukan lantaran air pantai di pantai Pekik Nyaring tidak bagus dan layak untuk tukik.

''Air laut atau air pantai di ambil dari pantai Malabero, di sana air pantai-nya lebih bagus dari pada air laut di sini (Pantai Pekik Nyaring). Ketika air laut tidak keruh maka air laut di ambil dari pantai Pekik Nyaring. Air laut di ambil setiap hari,'' sampai Zul.

Mimpi Besar Zul

Setelah berjuang tidak selama tiga tahun, Zul mendapatkan bantuan bangunan lokasi penangkaran penyu di kawasan pantai Pekik Nyaring. Bantuan bangunan permanen itu di bangun, tidak jauh dari rumahnya. Sekira 70 meter, tepi pantai Pekik Nyaring, persisnya.

Bantuan bangunan tersebut diperoleh Zul melalui Kelompok Pelestari Penyu Alun Utara, yang ia dirikan. Di mana bantuan bangunan permanen berikut tempat penangkaran penyu itu berasal dari Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut (BPSPL), Serang, Banten, Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut, Kementerian Kelautan Perikanan.

Bangunan berukuran sekira 6 x 4 meter itu dilengkapi dengan tiga kolam penangkaran yang berada di dalam bangunan serta tempat pengeraman telur penyu.

''Bangunan itu baru tiga bulan ini (Oktober 2018), banguann dari BPSPL, Serang,'' ujar Zul.

Zul memiliki mimpi, jika lokasi penangkaran penyu yang ia lakoni saat ini bisa menjadi wahana konservasi dan edukasi penyu masyarakat Bengkulu, khususnya. Hal tersebut guna menumbuhkan kecintaan terhadap penyu dan kelestarian penyu hingga anak cucu-nya nanti.

''Saya punya mimpi pantai ini bisa menjadi lokasi wahana konservasi penyu yang bisa memberikan edukasi kepada masyarakat,'' harap Zul.

1 / 4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini