nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Cerita Mbah Turus, Penyapu Makam Tanpa Gaji Bulanan

Taufik Budi, Jurnalis · Sabtu 12 Januari 2019 15:31 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 01 12 512 2003547 cerita-mbah-turus-penyapu-makam-tanpa-gaji-bulanan-XW6DxS9P3k.jpg Mbah Turus, Salah Satu Penyapu di TPU Bergota, Semarang, Jawa Tengah (foto: Taufik B/Okezone)

SEMARANG – Mbah Turus menjadi salah satu penyapu di kompleks makam terbesar di Kota Semarang, yakni TPU Bergota. Meski usianya sudah berkepala 7, namun semangatnya tetap tinggi untuk membersihkan makam. Padahal, dia tak mendapatkan gaji rutin tiap bulan.

“Saya merawat satu makam di Bergota ini, sebenaranya hanya dua makam yang dipasrahkan ke saya yakni kakak beradik. Tapi ya, kalau menyapu sekalian saja di blok sini biar bersih semua,” kata Mbah Turus mengawali perbincangan.

Infografis Lahan Makam (foto: Okezone) 

“Anak-anak mereka kerja semua, jadi saya merawat makamnya. Kalau di sini ya belum lama, tapi enggak apa-apa sekalian biar bersih makam di sini,” tambahnya sambil masih memegang sapu lidi.

(Baca Juga: Biaya Pemakaman di Semarang Paling Murah Rp3 Juta) 

Bapak empat anak itu menyampaikan, biasanya hanya mendapatkan uang dari peziarah. Jumlahnya tak menentu yakni berkisar Rp15 ribu hingga Rp20 ribu. Dia mengaku tak pernah meminta, sehingga jika peziarah tidak mengulurkan uang, Turus pun hanya bisa berlapang dada.

“Kalau untuk bersih-bersih ya sebenarnya enggak tentu waktunya. Kalau pas banyak daun berserakan, disapu. Bisa sehari dua kali, atau malah dua hari sekali. Karena memang saya tidak digaji jadi tidak ada kewajiban yang mengikat,” terangnya.

“Jika ada orang mau nyekar (berziarah) ya saya bersihkan. Biar yang ziarah juga nyaman, tidak banyak sampah. Karena di blok N ini ada pohon nangka yang besar, jadi daunnya sering berguguran,” tukasnya sambil menata kacamata.

Mbah Turus menuturkan, meski tidak mendapatkan gaji bulanan tetapi ketika membersihkan makam juga atas seizin juru kunci makam. Dia mengaku menerima uang dari juru kunci jika dianggap kawasan yang ‘dikuasainya’ terlihat bersih dan rapi.

“Dari ahli waris kadang ngasihnya (uang) ke juru kunci. Terus saya dikasih oleh juru kunci, nilainya ya nggak pasti. Kami kan tidak ikut kantoran, jadi ya memang mengandalkan dari ahli waris saja ketika mereka ngasih,” beber dia.

“Jadi memang enggak tentu per bulan dapatnya. Kalau ada orang nyekar, dan enggak dikasih ya kosong (tidak mendapat penghasilan). Meskipun begitu tapi saya tetap nyapu, karena banyak daun berjatuhan saya lihat kok kotor. Makanya kalau dibersihkan gini kan jadi terang, jadi bersih,” ujarnya bersemangat.

Mbah Turus, Salah Satu Penyapu di TPU Bergota, Semarang, Jawa Tengah (foto: Taufik B/Okezone)	Mbah Turus, Salah Satu Penyapu di TPU Bergota, Semarang, Jawa Tengah (foto: Taufik B/Okezone) 

Di Blok N tedapat ratusan bahkan ribuan makam. Meski demikian, tidak seluruhnya disapu oleh Mbah Turus karena areanya terlalu luas. Area makam Bergota Randusari Kota Semarang ini memang dikenal sangat padat, sehingga hampir tak ada jarak antarmakam.

“Kalau makam di sini ya penuh sudah penuh. Mulai dari sana bagian atas hingga ke timur sudah penuh semua sampai jalan,” cetusnya.

Namun ternyata, makam-makam yang sudah dipenuhi batu nisan itu tak sepenuhnya berizi jenazah. Terdapat nisan tanpa nama, yang berarti lahan makam telah dipesan. Makam fiktif itu baru digunakan ketika pemesan meninggal dunia.

“Seperti yang di atas itu ada dua makam kosong. Ada nisan dan kotak, tapi itu sebenarnya kosong belum terisi,” terang Mbah Turus di dekat makam fiktif.

Namun demikian, dia mengaku tidak mengetahui pasti besaran tarif untuk memesan lahan makam. Sebab, biasanya pemesan langsung berhubungan dengan juru kunci. Sehingga ketika ada warga yang hendak memesan lahan makam, langsung diarahkan bertemu dengan sang juru kunci.

“Harganya saya enggak tahu, itu juru kunci (yang tahu),” singkatnya.

Mbah Turus, Salah Satu Penyapu di TPU Bergota, Semarang, Jawa Tengah (foto: Taufik B/Okezone)Mbah Turus, Salah Satu Penyapu di TPU Bergota, Semarang, Jawa Tengah (foto: Taufik B/Okezone) 

Selain menerapkan sistem pesan lahan makam, juga ada aturan lain yakni sewa lahan makam per tiga tahun. Jika ahli waris tidak melakukan pembayaran perpanjangan, maka makam leluhurnya itu bakal dibongkar untuk diganti dengan jenazah lain.

“Iya ada iurannya per tiga tahun, kalau enggak ya disetip (dihapus), dibongkar. Jadi ahli waris ini harus bayar perpanjangan. Kalau enggak ya hilang,” terangnya tanpa menyebut biaya perpanjangan sewa lahan makam.

(Baca Juga: Tanah Kosong Makin Langka, Biaya Pemakaman Kian Mahal) 

Mbah Turus kembali melanjutkan pekerjaannya menyapu makam. Satu persatu daun yang menutup makam diambilnya dengan tangan untuk dimasukkan keranjang. Sementara jika duan berada di sela-sela makam disapu.

Daun-daun kering itu kemudian dikumpulkan pada tempat di bagian ujung area makam. Terdapat lahan kosong yang cukup untuk menaruh sampah dan dibakar. Hingga menjelang sore, pria berusia lanjut itu belum terlihat mau berhenti.

Tangannya masih saja menyapu, meski lokasi tersebut baru saja dibersihkan. Sebab, daun-daun kering juga berjatuhan akibat tertiup angin.

(fid)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini