PSI Dorong Pemanfaatan Teknologi Digital secara Optimal

Muhamad Rizky, Jurnalis · Sabtu 12 Januari 2019 06:47 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 01 12 605 2003450 psi-dorong-pemanfaatan-teknologi-digital-secara-optimal-ed8ZPpfEYx.jpg ilustrasi.

JAKARTA - Partai Solidaritas Indonesia (PSI) mendorong agar teknologi digital yang semakin berkembang di Indonesia dapat dimanfaatkan secara optimal. Dorongan ini disampaikan Ketua Umum PSI, Grace Natalie, dalam pidato awal tahun di Trans Convention Center, Bandung, Jumat malam (11/1/2019).

Juru bicara PSI bidang Teknologi Informasi, Sigit Widodo, menekankan, PSI sebagai partai berisi anak-anak muda yang terbiasa dengan teknologi digital akan selalu berada di garda pemanfaatan teknologi yang tengah berkembang pesat ini.

loading...

Menurut Sigit, berdasarkan data satu tahun lalu saja, sekitar 55 persen warga negara Indonesia telah terkoneksi ke internet dan lebih dari 50 persen memiliki perangkat telepon pintar atau tablet.

“Peningkatan penetrasi dan kecepatan internet serta adopsi teknologi digital sangat menggembirakan di era pemerintahan Presiden Jokowi. Sekarang saatnya kita maju satu langkah lagi dengan memanfaatkan teknologi itu secara optimal,” ujar Sigit, dalam keterangan tertulis yang diterima Okezone, Sabtu (12/1/2019).

Salah satu bidang yang akan didorong PSI untuk lebih memanfaatkan internet dan teknologi digital adalah pendidikan. “Di seluruh dunia, pedagogi sudah tidak bisa lagi lepas dari teknologi digital dan internet,” ujar Sigit.

Sigit mengatakan, di Indonesia internet sudah banyak digunakan sebagai alat pembelajaran di sekolah, terutama di sekolah-sekolah unggulan. “Namun pemanfaatannya belum merata, terutama di daerah dan perdesaan. Karena itu Sis Grace menekankan akan memperjuangkan internet gratis bagi pelajar dan mahasiswa. Untuk kepentingan pendidikan, seluruh siswa dan mahasiswa di Indonesia harus memiliki akses ke internet,” tegas Sigit.

Sigit yang sebelum bergabung dengan PSI menjabat sebagai direktur operasional Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI) selama tujuh tahun ini mengatakan, teknologi digital yang sudah banyak digunakan di Indonesia namun belum dimanfaatkan secara optimal untuk pendidikan adalah komputer tablet.

“PSI ingin mendorong pemerintah untuk sesegera mungkin mengganti buku cetak dengan tablet yang dibagikan gratis kepada siswa-siswa di seluruh Indonesia. Langkah ini akan sangat membantu siswa mendapatkan buku secara murah dengan isi yang selalu update,” ujar Sigit.

PSI. (Foto: Fadel Prayoga/Okezone)

Menurut pria kelahiran Purwokerto, Jawa tengah, ini, biaya produksi komputer tablet berkualitas standar bisa ditekan hingga di bawah Rp1 juta jika dibuat secara massal.

“Kebijakan ini juga akan menghidupkan industri gawai di Indonesia. Wajibkan saja produsen yang bisa mengikuti tender harus memiliki pabrik di Indonesia dan menggunakan minimal 50 persen komponen lokal, misalnya,” ujar Sigit.

Jika digunakan secara normal, masih menurut Sigit, sebuah tablet bisa digunakan selama tiga tahun. Artinya, siswa tidak perlu diberi perangkat baru setiap tahun dan tablet bisa digunakan untuk enam semester.

“Saat ini, siswa harus membeli buku setiap semesternya dengan harga ratusan ribu hingga satu jutaan. Jika program ini dijalankan, siswa tidak perlu lagi membeli buku. Pemerintah cukup menyediakan konten yang bisa diunduh gratis di Internet. Ini akan sangat membantu orangtua siswa,” jelas Sigit.

Sigit mengakui, kebijakan semacam ini memerlukan kemauan politik yang kuat. “Syaratnya tidak boleh ada korupsi dalam proses pengadaan gawai, dan pasti akan ada yang kehilangan uang terima kasih yang selama ini dinikmati dari pengadaan buku cetak,” kata Sigit.

Selain di bidang pendidikan, PSI juga mendorong pemanfaatan internet dan teknologi digital untuk pemberdayaan desa. “Sebagai praktisi TI, saya bersama teman-teman penggiat desa sudah sekitar tujuh tahun melakukan pemberdayaan desa dengan memanfaatkan teknologi informasi. Hasilnya, banyak desa yang menjadi sangat maju dan berkembang setelah memanfaatkan teknologi informasi. PSI ingin menduplikasi keberhasilan ini ke seluruh desa di Indonesia,” kata Sigit.

Grace Natalie. (Foto : Fadel Prayoga/Okezone)

Pada acara #Festival11 di Bandung, Grace Natalie menekankan setiap desa bisa bertransformasi menjadi desa digital dan warga dapat mengakses internet secara gratis. “Beberapa desa berhasil bertransformasi menjadi desa digital secara swadaya, bayangkan kecepatan duplikasinya apabila program ini dijadikan program nasional dengan dibiayai oleh pemerintah,” ungkap Sigit.

Konsep desa digital yang digagas oleh PSI, menurut Sigit tidak terlalu berat untuk dijalankan. “Kuncinya pada akses internet yang bisa digunakan oleh pemerintah desa dan seluruh masyarakat desa, serta Sistem Informasi Desa berbasis internet. Ini bukan program yang mahal dan bisa dijalankan dengan menggunakan sebagian kecil dana desa,ujar Sigit. “Kalau ada yang bilang mahal, pasti terbiasa dengan anggaran yang lebih banyak digunakan untuk focus group discussion dan biaya perjalanan dinas pejabat pelaksananya,” tambah Sigit lagi.

Dengan Sistem Informasi Desa yang terintegrasi secara nasional, desa dapat memberikan berbagai layanan kependudukan yang cepat untuk warganya. “Selain itu, pemerintah, baik pemerintah pusat, provinsi, maupun kabupaten, dapat melihat secara riil kebutuhan masyarakat di tiap desa,” kata Sigit yang juga caleg DPR-RI daerah pemilihan Kabupaten Banyumas dan Kabupaten Cilacap ini.

Yang menurut Sigit juga tak kalah penting, desa digital berarti juga desa transparan. “Semua anggaran desa, mulai dari perencanaan hingga pertanggungjawaban pelaksanaannya akan dapat diakses terbuka secara online. Ini akan menghilangkan kekhawatiran sementara orang pada penyelewengan dana desa yang jumlahnya tujuh puluhan triliun rupiah itu,” pungkas Sigit.

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini