nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Marak Berita Hoaks, Masyarakat Wajib 'Melek Media'

Ade Rachma Unzilla , Jurnalis · Kamis 17 Januari 2019 13:15 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 01 17 65 2005712 marak-berita-hoaks-masyarakat-wajib-melek-media-eMWjn2WDhQ.jpeg Dosen Universitas Muhammadiyah Malang Nurudin (Foto: Dok. UMM)

JAKARTA - Media sosial telah bertumbuh pesat hingga sangat menentukan sikap dan perilaku masyarakat milenial. Semakin berkembang, semakin marak juga berita bohong atau hoaks yang beredar.

Bahkan, menurut salah satu Dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Nurudin, ini berkembang atau sengaja dikembangkan seolah sebagai agama. Karenanya, masyarakat cenderung mengaca pada media sosial, layaknya ajaran agama tersebut.

“Padahal sebagian pesan media sosial perlu diyakini sebagai sebuah kebohongan yang dilegalkan,” kata dosen program studi (Prodi) Ilmu Komunikasi UMM ini, Selasa (16/1/2019).

Baca Juga: Dorong Regulasi Antisipasi Hoaks, Polri Ingin Libatkan Pemilik Platform Medsos

Tentu saja, sambung Nurdin, beredarnya hoaks di mana-mana juga membuat suasana saling membenci, mencaci, dan menghujat antar sesama. Media sosial telah mengancam disintegrasi bangsa. Bahkan, telah menciptakan komunikasi di masyarakat berjalan dengan tidak tulus, katanya.

Sementara itu, penyebaran hoaks bisa dilakukan siapa pun. Tak dipungkiri, masyarakat tengah dimabuk dan dimudahkan dengan teknologi. Mayoritas menyebarkan berita bukan berdasarkan benar-salahnya. Melainkan sesuai dengan kecenderungan dirinya.

“Otak kita seringkali kalah cepat dari jempol kita. Apalagi di tengah situasi politik saat ini, tidak bisa dipungkiri hoaks menjadi sangat politis,” ungkapnya.

hoax

Untuk itu, Nurudin berpesan kepada seluruh masyarakat untuk ‘melek’ media. Melek media yang dimaksud adalah sadar bahwa media selalu punya dampak yang negatif. Jika sudah sadar, otomatis akan cenderung berhati-hati.

“Inilah yang kita sebut dengan praktik media literasi. Meskipun disadari, menangkal penyebaran hoaks itu sangat sulit,” tuturnya.

Adapun menurutnya, media mainstream hoaks dapat ditekan karena terduri dari sistem kemediaan yang dituntut profesional. Jika menyebarkan berita hoaks, bisa diingatkan oleh aparat hukum.

“Mereka punya karyawan, punya pembaca, punya penonton, sehingga kalau menyebar hoaks, ya, mesti hati-hati. Kalau tidak, akan diingatkan oleh aparat hukum. Konsekuensi terberatnya, media itu bakal bubar,” bebernya.

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini