nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kemenristekdikti Berencana Beri Insentif Pengajar Vokasi dari Industri

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Rabu 23 Januari 2019 18:56 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 01 23 65 2008472 kemenristekdikti-berencana-beri-insentif-pengajar-vokasi-dari-industri-AckB0CoBzO.jpeg Indonesia Leaders Forum 2019 (Foto: Yohana/Okezone)

JAKARTA - Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) akan memberikan insentif bagi pengajar pendidikan vokasi yang berasal dari industri. Memang, pemerintah berencana melibatkan tenaga ahli dari industri untuk mengajar pendidikan vokasi, sehingga bukan hanya dari kalangan akademik.

Menristekdikti Mohamad Nasir mengatakan, rencana ini masih akan dikoordinasikan dengan Kementerian Keuangan. Kata dia, tenaga pengajar yang berlatarbelakang pelaku industri sangat diperlukan.

"Ke depan, supaya dari industri bisa menjadi dosen, insentif apa yang diberikan? Nah ini akan saya bicarakan dengan Menteri Keuangan. Apakah perlu diberikan tunjangan, nanti akan kita detailkan," ujarnya di Hotel Westin, Jakarta, Rabu (23/1/2019).

Baca Juga: Pendirian Kampus Baru Harus Sesuai Potensi

Dia menjelaskan, tenaga pengajar di pendidikan vokasi rata-rata berasal dari kalangan akademik yaitu berpendidikan S2 dan S3. Oleh sebab itu, dibutuhkan tenaga pengajar dari industri guna memfasilitasi pembelajaran praktek yang ada di industri.

"Bagi pendidikan vokasi dosennya harus dari industri paling tidak 50%," imbuhnya.

Menurutnya, kendala terbesar dari ketenagakerjaan di Indonesia saat ini, yakni terbatasnya keahlian tenaga kerja dan ketidakcocokan antara kebutuhan industri dengan ketersediaan tenaga kerja. Kata dia, industri juga perlu berperan dalam peningkatan kualitas dan keahlian tenaga kerja.

menristek

"Jadi sangat penting berkolaborasi (pemerintah dengan industri). Mau tidak mau industri harus masuk di dalamnya yang selama ini tidak pernah dipikirkan," katanya.

Selain itu, Nasri menyebutkan, jurusan pendidikan vokasi yang disediakan nantinya harus sesuai dengan kebutuhan industri saat ini yang melek teknologi atau dikenal dengan era industri 4.0.

"Jangan sampai membuka prodi yang tidak dibutuhkan oleh industri," kata dia.

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini