nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

TNI Sebut Penembakan Penjaga Kios di Puncak Jaya Papua Termasuk Tindakan Kriminal

Muhamad Rizky, Jurnalis · Rabu 06 Februari 2019 16:33 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 02 06 340 2014442 penembakan-warga-di-papua-tni-penyelesaian-harus-dengan-penegakan-hukum-FoMRnDOX7m.jpg Penembakan (Ilustrasi)

JAKARTA - Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Mayjen Sisriadi menilai, penembakan oleh orang tak dikenal yang terjadi di Papua hingga menewaskan warga sipil hanya untuk mendapatkan perhatian dari dunia internasional.

"Karena kita mempelajari, mereka ingin mendapatkan perhatian Internasional, sehingga mereka melakukan hal-hal yang seperti itu," kata Sisriadi dalam diskusi bersama wartawan di Balai Media TNI, Salemba, Jakarta Pusat, Rabu (6/2/2019).

 Baca juga: Penjaga Kios yang Tewas Ditembak di Puncak Jaya Papua Akan Diterbangkan ke Probolinggo

Dalam menangani kasus itu sendiri lanjutnya, pemerintah telah menetapkan bahwa masalah yang terjadi di Papua merupakan kriminal. Sehingga penyelesaiannya dilakukan dengan penegakan hukum.

 https://img-k.okeinfo.net/content/2018/08/18/340/1938132/begini-kondisi-korban-teror-penembakan-kkb-papua-di-area-freeport-BCNAjEiPRQ.jpg

"Maka ketika bicara penegakan hukum maka itu adalah fungsi utama Polri. TNI memang membantu di Papua, cuma di sana ada dua operasi yang kita gelar, yaitu operasi pengamanan perbatasan yang murni dilakukan oleh TNI, tapi operasi penegakan hukum dilaksanakan oleh Polri," tuturnya.

 Baca juga: Menteri PUPR Terkejut Dengar 31 Pekerja Jembatan Trans Papua Dibunuh Kelompok Bersenjata

Untuk itu lanjutnya, TNI tidak bisa bertindak semena-mena untuk memberantas kelompok kriminal di Papua tersebut dan tetap menggunakan jalur hukum.

"Dalam hal TNI membantu Polri maka ketika bicara TNI kemampuannya kemampuan tempur dan kemampuan nontempur yang kita punya, Panglima menggunakan istilah kinetik dan nonkinetik artinya tempur dan non tempur," ujarnya.

Lebih jauh, Mantan Sesditjen Kuathan Kementerian Pertahanan (Kemhan) ini menjelaskan, kinetik yang dimaksud Panglima artinya menggunakan kekuatan senjata seperti pasukan yang ada di Kodam untuk membantu polisi.

 Baca juga: TNI Kembali Baku Tembak dengan OPM di Papua, 2 Orang Tewas

"Kita juga kirim pasukan dari Jawa untuk menutup kekurangan, karena kalau mereka semua yang ada di Papua beroperasi semua maka ada markas-markas yang kosong dan itu rawan sehingga ada beberapa pasukan yang dikirim dari beberapa Kodam bukan hanya di Jawa, Sumatera dan lainnya secara bergiliran untuk membantu tugas Polri dalam penegakan hukum di Papua," tambahnya.

Sementara lanjut Sisriadi, untuk nonkinetik, antara lain pihaknya mengirimkan tim satgas penerangan TNI yang bertugas untuk membuat opini di masyarakat. Hal itu dilakukan agar mendapatkan informasi yang benar.

"Karena mereka juga menggunakan cara yang sama mempengaruhi penduduk bahkan dengan sudah intimidasi, kita tidak memggunakan intimidasi kita menggunkan opini publik yang istilah Panglima operasi psikologi jadi mempengaruhi psikologi massa tapi yang dikirm adalah kami dari Puspen dari Dispen angkatan darat, laut, udara menjadi satu tim," terangnya.

Sebelumnya, salah seorang warga Sugeng Efendi, menjadi korban penembakan orang tak dikenal (OTK) di Kampung Wiyukwi, Distrik Mulia, Kabupaten Puncak Jaya, Papua.

Sugeng yang sehari-hari berjualan di kios di Kampung Wiyukwi tewas ditembak OTK, pada Sabtu 2 Februari kemarin. Saat itu, korban dan temannya sedang dalam kios sambil menonton film di ponsel.

Korban selanjutnya dievakuasi ke rumah sakit dan kejadiannya dilaporkan ke pos TNI terdekat di lokasi. Anggota TNI lalu membawa korban ke RSUD Mulia dan Sugeng dinyatakan meninggal dunia.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini