nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kasus Tewasnya Taruna ATKP Makassar karena Adanya Budaya Patron Klien, Apa Itu?

Sarah Hutagaol, Jurnalis · Kamis 07 Februari 2019 06:36 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 02 07 609 2014659 kasus-tewasnya-taruna-atkp-makassar-karena-adanya-budaya-patron-klien-apa-itu-s3S6eiDvVy.jpg Aldama Putra, taruna ATKP Makassar tewas karena dianiaya seniornya. Foto/Facebook

JAKARTA - Baru-baru ini, dunia pendidikan tanah air berduka lantaran Aldama Putra, taruna Akademi Teknik dan Keselamatan Penerbangan (ATKP) di Makassar tewas. Diduga, korban tewas akibat dianiaya oleh senior di dalam kampus itu.

Pengamat Sosial Universitas Indonesia (UI), Devie Rahmawati memandang kasus tersebut karena ada budaya patron klien.

Devie Rahmawati menjelaskan patron klien adalah budaya yang memiliki hubungan tidak sejajar antara pemimpin (patron) dengan sejumlah bawahannya (klien atau pengikut).

“Jadi memang budaya patron klien, di mana orang yang lebih tua atau lebih senior itu dianggap menempati posisi atau hierarki di dalam masyarakat. Dia menjadi orang menjadi pemimpin,” ujar Devie Rahmawati kepada Okezone, Rabu (6/2/2019).

Foto/Okezone 

Oleh sebab itu, ketika budaya patron klien diterapkan, maka senior akan mengharuskan bawahannya atau juniornya untuk taat kepada aturan mereka. Budaya ini akan menjadi bagus jika dilakukan positif, namun kalau tidak, akan menimbulkan tekanan.

Baca: Sebelum Tewas, Aldama Curhat ke Sahabatnya soal Kekerasan di ATKP Makassar 

Baca: Tewas Dikeroyok Senior, Kampus Beri Kabar ke Orangtua Aldama Jatuh dari Kamar Mandi

“Dalam budaya patron klien dan komunal atau kepatuhan ketaatan terhadap orang yang dianggap senior atau lebih tinggi itu menjadi sebuah keharusan. Tapi kemudian keharusan tersebut dimanfaatkan untuk melakukan penekanan-penekanan atau dominasi yang tidak produktif,” tuturnya.

“itu menjadi hal yang disayangkan. Intinya budaya ini kemudian yang masih terus terpelihara walaupun dalam konteks modern, sebenarnya budaya hierarki mulai pelan-pelan terkikis. Artinya tidak ada lagi tingkatan orang kemudian sudah mulai sejajar satu sama lain,” tambah Devie.

(fzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini