nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kisah Mahasiswa yang Dapatkan Pekerjaan Impian setelah Drop Out

Minggu 10 Februari 2019 07:51 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 02 08 65 2015234 kisah-mahasiswa-yang-dapatkan-pekerjaan-impian-setelah-drop-out-np10FX5IFu.jpeg Milenial (Ilustrasi: Shutterstock)

JAKARTA - Banyak orang mengejar gelar sarjana demi mendapat pekerjaan yang lebih baik. Banyak perusahaan mencantumkan syarat titel S1 untuk kandidat tenaga kerja yang ingin mendapat posisi mentereng di kantor, fasilitas komputer terbaik dan kesempatan lebih besar untuk mengikuti pelatihan pimpinan perusahaan.

Namun, apa jadinya bila seorang calon sarjana gagal menyelesaikan studinya? Di luar negeri, Bill Gates dan Mark Zuckerberg menjadi contoh mereka yang sukses meskipun drop-out dari universitas. Di Indonesia, cap sebagai mahasiswa drop out memang bukan hal yang bagus. Tapi, apakah mereka harus putus harapan untuk mendapat pekerjaan impian? Tentu saja tidak. Seseorang yang hanya memegang ijazah SMA tidak berarti berakhir menjadi “pesuruh” selamanya. Dia bisa saja belajar di luar institusi agar bisa dapat posisi di kantor yang setara dengan para sarjana.

Baca Juga: 5 Soft Skill yang Sulit Dipelajari di Bangku Kuliah

Dilansir dari laman Qerja.com, Reza Fajar punya cerita bagaimana mendapat pekerjaan impian tanpa menyandang gelar sarjana. Menjelang semester akhir, dia mengalami masalah ekonomi. “Sebelum mendapat ijazah S1 pertanian, saya magang di berbagai perusahaan. Tapi, memang tidak bisa menjadi karyawan tetap di sana,” kata Reza. Akhirnya, dia benar-benar harus drop out dari kampus.

Namun, Reza tidak berhenti berusaha. Dia mencoba melamar kerja ke satu lembaga zakat. Tempat ini menerima pegawai tanpa harus punya titel S1. Ternyata, Reza menikmati pekerjaanya sebagai funding retail atau kolektor zakat. “Saya menemukan passion saat bekerja di sini,” kata Reza yang sudah mendapat promosi dan kini mengemban tugas menangani mitra corporate di lembaga zakat tersebut. Selain bekerja di lembaga zakat, kini Reza juga sedang merintis usaha di bidang perancangan furniture untuk interior rumah.

kampus

Setelah menata kembali kehidupan dan perekonomiannya, Reza meneruskan kuliah dan berhasil mendapat gelar sarjana pada 2013. “Karena orangtua menginginkan saya punya gelar sarjana,” kata Reza. Namun, titel tersebut tidak berpengaruh pada jenjang kariernya. “Pengalaman, keterampilan dan kepatuhan (pada organisasi) yang membuat seseorang bisa mendapat promosi,” kata dia.

Selain Reza, ada pula kisah dari Adi, seorang manajer di perusahaan e-commerce yang tidak pernah menyelesaikan skripsi dan menebus ijazah S1-nya. Dia mengaku tidak menyelesaikan studi hukum di salah satu universitas negeri karena merasa kehilangan minat pada bidang tersebut. Maka, sejak masih berstatus mahasiswa, dia malah menyibukkan diri untuk bekerja sebagai sms content producer di sebuah media.

Setelah drop out dari kampus, Adi melamar kerja di berbagai perusahaan tanpa gelar sarjana. Dia berani mengajukan diri untuk posisi yang mensyaratkan kandidat tenaga kerja harus punya ijazah S1. “Tapi, saya tetap nekat melamar kerja dengan modal pengalaman,” kata Adi. Pada saat wawancara pun Adi selalu jujur menyatakan tidak menyandang gelar sarjana.

Suatu kali, Adi tidak bisa melanjutkan tahap seleksi kerja karena terganjal masalah ijazah. Tapi di lain waktu, dia akhirnya bisa diterima bekerja di perusahaan lain. Hingga saat ini, Adi pernah masuk dan bekerja di empat perusahaan bermodal pengalaman saja. Dia sempat menjadi penulis dan editor. Namun, Adi menganggap hal ini bukan sebuah keberuntungan. Selain itu, tidak ada campur tangan “orang dalam” juga. “Saya percaya mereka cukup fair menilai kualitas calon pegawai berdasarkan kemampuan, bukan degree,” ujarnya.

Sampai hari ini, Adi belum berencana sekolah lagi. Sebenarnya dia menganggap gelar sarjana itu penting, salah satunya untuk melamar kerja. Tapi, bagi Adi, kemampuan lulusan universitas untuk menjadi problem solver di tempat kerja adalah hal yang terpenting. Keahlian ini bisa diasah di luar institusi.

Pengalaman sebagai mahasiswa drop out mungkin menjadi noda dalam perjalanan hidup. Tapi, hal itu bukan akhir dari segalanya. Orang-orang seperti Reza dan Adi mau bekeja keras, belajar tanpa henti di luar kampus, dan mendapat pekerjaan impian dengan caranya sendiri.

kampus

Kita juga bisa meneladani kisah mahasiswa drop out yang sukses mencapai puncak karier bahkan berada di pucuk pimpinan perusahaan. Di Indonesia, ada Sofian Hadiwijaya, Co-founder Pinjam.co.id yang hanya merasakan bangku kuliah di jurusan Teknik Industri Universitas Bina Nusantara selama dua semester. Dia mengalami masalah ekonomi sehingga harus putus sekolah dan bekerja untuk bertahan hidup di ibukota.

Kejadian buruk yang menimpa Sofian justru membuatnya menjadi “mahasiswa” di luar kampus. Dia belajar ilmu informatika secara otodidak dengan mengerjakan tugas kuliah orang lain. Sofian juga belajar sambil mengajar IT di Binus Center.

Setelah drop out dari kampus, Sofian sering mendapat tawaran pekerjaan karena dianggap mampu menjadi instruktur IT yang baik. Namun selalu terganjal masalah ijazah. Akhirnya, Sofian mendapat pekerjaan di perusahaan yang tidak mempermasalahkan titel dan percaya dia mampu bekerja sebagai pegawai handal. Pelajaran dari pengalaman bekerja dijadikan modal untuk membangun perusahaan startup.

Pengalaman pernah drop out dari kampus tidak menghalangi Sofian untuk terus bekerja dan berkarya. Dia percaya setiap orang punya rezeki masing-masing. “Mungkin saya memang ditakdirkan menjadi pengusaha. Bill Gates pun pernah bilang tidak masalah kalau pernah DO, tapi bisa mempekerjakan orang-orang yang pernah lulus kuliah,” kata Sofian. Menurut Sofian, hal yang terpenting adalah bagaimana kita melihat diri sendiri. “Jangan pernah minder. Ketika berhadapan dengan orang besar, lulusan universitas ternama dan dari luar negeri, kita bisa ajak mengobrol, bertukar pikiran. Jadi kita akan dianggap setara,” kata dia.

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini