Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Pencapaian Hampir 100%, Daerah Dukung KIP Berbasis ATM

Susi Fatimah , Jurnalis-Selasa, 12 Februari 2019 |19:25 WIB
Pencapaian Hampir 100%, Daerah Dukung KIP Berbasis ATM
Presiden Joko Widodo ketika membuka Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan. Foto: Susi Fatimah/Okezone
A
A
A

DEPOK – Presiden Joko Widodo (Jokowi) meresmikan Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan (RNPK) 2019 yang digelar oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) di Pusdiklat Kemdikbud, Bojongsari, Sawangan, Depok, Jawa Barat, pada Selasa (12/2/2019).

Dalam kesempatan tersebut, Presiden menegaskan pentingnya upgrade skill bagi guru-guru di Indonesia. Menurutnya, saat ini guru terampil khusus untuk pendidikan vokasi masih minim bila dibandingkan dengan guru normatif. Oleh karenanya, Presiden meminta kepada kepala dinas yang hadir dalam RNPK 2019 untuk menambah skill para guru-guru tersebut.

“Sekolah vokasi hati-hati, guru terampil harus lebih banyak dari guru normatif. SMK harus lebih banyak guru-guru terampilnya yang bisa melatih anak-anak. Yang saya terima laporanya, guru normatif 65%, sisanya 35% guru terampil. Ini jadi tugas bapak-ibu sekalian agar guru-guru terampil dan produktif lebih banyak,” ujar Presiden dalam pidatonya.

Selain itu, Presiden juga mengingatkan pentingnya memberikan materi-materi pelajaran kepada siswa terkait teknologi, sebab saat ini sudah masuk dalam era Revolusi Industri 4.0, sehingga penting untuk melakukan lompatan dalam peningkatan sumber daya manusia (SDM).

“Revolusi Industri jilid empat ini kita harus memberikan pelajaran digitalisasi, bahasa-bahasa koding ini anak-anak harus mengerti, karena media baru nanti ada di sana. Anak-anak dan guru-guru harus mengerti ini. Persaingan antar negara sangat ketat, kuncinya ada pada SDM kita,” tutur Presiden.

Di sela-sela pidatonya, Presiden meminta perwakilan kepala dinas pendidikan untuk maju ke atas panggung. Mereka adalah perwakilan dari Dinas Pendidikan Kota Sabang, Desi dan Kepala Dinas Boven Digoel, Matias. Keduanya diminta untuk menyampaikan persoalan yang ada di wilayah mereka. Persoalan keduanya sama yaitu kekurangan tenaga guru sehingga diisi oleh guru honorer.

 

Senada dengan Presiden, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendibud) Muhadjir Effendy mengatakan, sebagai negara besar Indonesia harus memiliki SDM unggul dan produktif. Untuk mewujudkan itu tentu menjadi kewajiban semua pihak. Oleh karenanya, wajib bagi negara untuk memastikan layanan pendidikan tersedia tidak hanya secara merata tetapi berkualitas.

“Perlu ditekankan bahwa kita tidak hanya ingin penduduk Indonesia lama sekolahnya, tetapi yang tak kalah penting adalah memastikan apa yang diperoleh dari proses pembelajaran, memadai dan bermakna,” tutur Muhadjir.

Reward untuk Guru

Kemdikbud bertekad untuk menyelesaikan berbagai permasalahan yang timbul di sektor pendidikan. Salah satu masalah pelik yang dihadapi saat ini adalah masalah guru. Melalui RNPK, pengangkatan dan pemetaan guru menjadi salah satu pokok bahasan pada forum terbesar di bidang pendidikan dan kebudayaan itu.

“Jadi ke depan kita menjadikan guru sebagai ibu pendidikan,” ujar Staf Ahli Mendikbud Bidang Inovasi dan Daya Saing sekaligus sebagai Ketua Steering Comittee RNPK 2019, Ananto Kusuma Seta.

 

Mengenai pengangkatan guru, sambung dia, saat ini guru yang pensiun setiap tahunnya mencapai 40.000 sampai 50.000 guru setiap tahunnya. Hal ini dapat berdampak pada sistem belajar mengajar di sekolah sehingga tidak ada pilihan lain selain mengangkat guru PNS baru. Oleh karena itu, dibutuhkan diskusi untuk menindaklanjuti masalah penataan dan pengangkatan guru.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement