nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Haiti Memanas, Rakyat Berdemonstrasi Tuntut Presiden Mundur

Rahman Asmardika, Jurnalis · Selasa 12 Februari 2019 16:53 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 02 12 18 2016908 haiti-memanas-rakyat-berdemonstrasi-tuntut-presiden-mundur-FMAi2iFQJX.jpg Foto: VOA.

PORT AU PRINCE – Situasi di Haiti tengah memanas setelah ribuan orang turun ke jalan di Ibu Kota Port Au Prince dan kota-kota lainnya di seantero negeri pada Senin, menuntut Presiden Jovenel Moise untuk mundur dari jabatannya. Para demonstran meneriakkan slogan-slogan kemarahan saat bergerak melakukan unjuk rasa di ibu kota negara Karibia itu.

Foto-foto dan video yang diambil jurnalis VOA memperlihatkan ban terbakar dan barikade darurat di Port Au Prince,Cape Haitian, Jacmel, Hinche, Mirebalais dan Jeremie.

"Kami keluar (untuk berdemonstrasi) pada 17 Oktober, 18 November, dan tidak ada yang mendengarkan. Pada 7 Februari, kami mengatakan ini harus berakhir. Kami telah memutuskan untuk terus memprotes sampai pemerintah Moise-Ceant mengundurkan diri," kata Michel Junior Blot, pemimpin dari gerakan Sitwayen Debou di Cape Haitian

"Dan kami tidak hanya ingin mereka mengundurkan diri, kami ingin mereka tetap di negara ini dan diadili atas kejahatan yang telah mereka lakukan. Kejahatan terhadap rakyat."

Presiden Haiti, Jovenel Moise.

Inflasi dan korupsi adalah sumber utama kemarahan yang diekspresikan oleh pengunjuk rasa yang menurut mereka merupakan harus dipertanggungjawabkan oleh presiden dan perdana menteri. Pemerintah dituduh melakukan korupsi sehubungan dengan kesepakatan minyak yang ditandatangani dengan Pemerintah Venezuela.

Selama berbulan-bulan, pengunjuk rasa menuntut transparansi dari pemerintah terkait dugaan penyalahgunaan dana sebesar USD3,8 miliar. Uang itu, di bawah aliansi minyak PetroCaribe yang ditandatangani antara Venezuela dan negara-negara Karibia mulai Juni 2005, telah diperuntukkan bagi proyek-proyek infrastruktur dan sosial dan ekonomi.

Moise dituntut untuk mundur setelah namanya muncul di sebuah laporan korupsi terkait kesalahan pengaturan dana PetroCaribe .

"Tidak ada tempat bagi Jovenel di negeri ini lagi. Yang dia lakukan hanyalah berbohong. Kita membutuhkan listrik 24/7. Kita membutuhkan makanan di meja kita bukan seorang pemimpin yang mengisi kantongnya sendiri dengan uang tunai. Inflasi meningkat —‘kita telah mencapai 100 Gourtian Haiti dengan dolar Amerika. Jovel harus pergi! " kata Nathaniel Lerine, seorang pengacara yang ikut serta dalam demonstrasi.

Para anggota parlemen mengusulkan agar Moise digantikan oleh pemerintahan transisi yang ditugaskan untuk memperbaiki kondisi kehidupan masyarakat Haiti, mengorganisir konferensi kedaulatan nasional, termasuk para peserta dari semua lapisan masyarakat, dan mengorganisir persidangan bagi para pelanggar PetroCaribe.

Sejauh ini pemerintah Haiti lebih banyak diam, kecuali peringatan yang disampaikan oleh Menteri Kehakiman Jean Roody Ally pada 7 Februari bahwa siapa pun yang berpartisipasi dalam penjarahan atau perusakan properti akan dihukum.

"Kami mendukung semua warga yang melakukan demonstrasi sesuai dengan hukum sebagaimana hak Demokrasi mereka. Tetapi siapa pun yang berpartisipasi dalam membakar properti, merusak mobil, akan ditemukan dan dihukum. Kami tidak dapat menerimanya. Kami memiliki langkah-langkah untuk mengidentifikasi dan menemukan pelakunya dan menangkap mereka, " kata Ally.

Pada Senin malam, pengunjuk rasa telah bubar, setelah polisi menembakkan gas air mata untuk mencegah mereka menyebabkan lebih banyak kerusakan di ibukota dan pinggiran kota.

(dka)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini