nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Rektor UI Ungkap Tidak Meratanya Kualitas Pendidikan Menengah RI

Koran SINDO, Jurnalis · Selasa 19 Februari 2019 11:39 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 02 19 65 2019970 rektor-ui-ungkap-tidak-meratanya-kualitas-pendidikan-menengah-ri-E3lyKuIZOP.jpg Foto: Istimewa

DEPOK - Rektor Universitas Indonesia (UI) Muhammad Anis mengatakan, pihaknya sangat konsen memberikan fasilitas pendidikan bagi seluruh anak-anak di Indonesia. UI pun melakukan usaha maksimal agar anak-anak tersebut memiliki kesempatan sama sehingga bisa menikmati pendidikan berkualitas.

“Kita lebih pada aksesibilitas yang kita tingkatkan. Kita memang selalu mengalokasikan beberapa persen untuk daerah yang di luar Pulau Jawa. Hal itu tergantung pada bagaimana mereka melihatnya. Bisa dengan prestasi, bisa dengan afirmasi. Kuncinya adalah pemerataan,” katanya.

Dia menyadari bahwa kualitas pendidikan menengah di Indonesia tidak sama. Hal itu menjadi pertimbangan pihaknya memberikan kesempatan kepada anak dari luar daerah untuk bisa belajar di UI.

Baca Juga: UI Masuk Daftar Top 100 Universitas di Negara Berkembang

Misalnya dengan memberikan kesempatan bagi anak-anak daerah untuk masuk melalui jalur undangan yang kuotanya sudah ditentukan. Dia mencontohkan, kualitas pendidikan di wilayah di pelosok Sukabumi tidak akan sama dengan di Kota Sukabumi.

“Ini masuk dalam pemerataan, maka kita memberikan perhatian bagi mereka antara 3-5% (kesempatan) untuk bisa masuk UI. Misalnya untuk jurusan manajemen, kami memberikan kuota X% untuk IPS dan X% untuk IPA,” ungkapnya.

Dia menegaskan, mengenyam pendidikan di UI tidaklah sulit dan biaya bukanlah kendala untuk anak bisa belajar di UI.

“Beberapa tahun lalu, saya pernah mendapati kasus ada anak buruh cuci dari daerah yang terkendala biaya untuk datang ke sini (UI), padahal dia lulus. Saya komunikasi dengan sekolah setempat dan kami bantu untuk biaya transportasinya,” ujarnya.

Baca Juga: Rektor UI Lapor Progres Pembangunan RS Universitas Indonesia ke Presiden Jokowi

Di sisi lain, kata dia, masih ada ketakutan dari orang tua di daerah bahwa hidup di kota besar itu sulit. Karena itu, ketika ada anak lulus dan diterima di UI akhirnya tidak jadi daftar ulang karena tidak mendapat izin orang tua.

“Ini menjadi persoalan lain. Namun, perlahan kami melakukan sosialisasi untuk mereka agar ada pencerahan mengenai apa yang mereka takutkan itu tidak benar. Ini bagian lain yang harus diedukasi,” ungkapnya.

Untuk memberikan pencerahan bagi para orang tua, biasanya UI bekerja sama dengan Sahabat Mahasiswa Baru (Samaba) dan paguyuban mahasiswa. Mereka datang ke daerah tertentu memberikan kesaksian bahwa belajar di UI dan hidup di kota besar tidak seperti yang ditakutkan.

“Biasanya, kita melakukan sosialisasi dengan bekerja sama bersama paguyuban mahasiswa. Mereka yang akan memberikan penjelasan mengenai UI dan BOPB,” ujarnya.

UI, kata dia, tidak ingin ada anak bangsa terkendala pendidikan karena alasan apa pun. Karena seluruh anak bangsa ini memiliki kesempatan sama untuk bisa mengenal UI dan mengenal beragam kebudayaan di UI. “Kalau ada problem harus dikomunikasikan. Kalau ada calon mahasiswa yang tidak register, kita akan kejar apa masalahnya. Kalau masalahnya adalah keuangan, maka kita akan bantu,” ujarnya.

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini