Ternyata 1 dari 10 Percakapan di Medsos Berisi Ajakan Golput

Kuntadi, Jurnalis · Senin 25 Februari 2019 14:59 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 02 25 605 2022529 ternyata-1-dari-10-percakapan-di-medsos-berisi-ajakan-golput-IUAHXbPWpb.jpg Ilustrasi (Foto: Dokumentasi Okezone)

YOGYAKARTA - Departemen Politik dan Pemerintahan (DPP) Fisipol, UGM melihat adanya potensi Golput dalam pemilu dan Pilpres 2019 mendatang. Dari data dan analisis yang dilakukan, 1 dari 10 percakapan di media sosial merupakan kampanye dan ajakan untuk Golput.

“2.840 percakapan, ditemukan 9,5 persen percakapan untuk mengkampanyekan golput. Atau 1 dari 10 percakapan untuk mengkampanyekan golput,” jelas Dosen Fisipol UGM, Arya Budi dalam pers Rilis Peta Potensi golput 2019, di digilib Café, fisipol UGM, Senin (25/2/2019).

Data tersebut merupakan hasil penelitian melalui Laboratorium Big Data Analytics tentang isu golput menjelang pemilu 2019. Data ini diperoleh dari percakapan di media social (Twitter) dan pemberitaan di sejumlah media online, dalam kurun waktu 27 januari sampai dengan 19 Februari.

Menurutnya, pemetaan geografis isu Golput masih terpusat di Pulau Jawa. Dari analisis data Twitter yang bekerjasama dengan Telkomsel, diketahui Jawa Barat tertinggi dengan 21,60%. Kebanyakan berada di Kota Bandung. Peringkat kedua ada di DKI Jakarta dengan 14,94% yang didominasi dengan sebaran di Jakarta Pusat. Sedangkan peringkat ketiga ada di Jawa Timur dengan 14,64%, dan mayoritas berada di Kota Malang.

“Yogyakarta itu sekitar 10% lumayan besar,” terangnya.

Dalam penelitian, juga diketahui ada waktu-waktu tertentu yang menjadikan isu dan percakapan golput meningkat secara massif. Ini bisa dilihat dari peningkatan hingga 500 percakapan dibanding hari biasa yang hanya 50 percakapan saja. Yakni ketika ada account besar yang memulai perbincangan. Ini kerap dimunculkan dari account media nasional seperti yang terjadi pada 5 Februari. Namun ada pula peningkatan yang terjadi pada 18 Februari lalu, setelah ada momentum politik debat presiden.

“Ada akun khusus yang sengaja dibuat untuk mengampanyekan Golput atau mengajak tidak berpartisipasi dalam pemilu ataupun pilpres,” terangnya.

Sementara itu Wakil Dekan Fisipol UGM, Wawan Mas’udi mengatakan potensi golput ini muncul karena ada perasaan dari masyarakat yang tidak puas. Baik kepada incumbent maupun oposisi yang dianggap tidak bisa memberikan harapan baru. Sementara itu para pemilih tidak memiliki alternatif calon yang bisa mengakomodir harapan mereka.

“Ini perlu disikapi, karena ada persepsi pemilu dan pemerintahan yang tidak legitimate,” jelasnya.

Penanganan kasus korupsi misalnya, menjai salah satu potensi penyumbang, hingga adanya upaya menarik kembali TNI ke dalam penyelenggaraan pemerintahan.

(kha)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini