nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pelindung Smartphone dari Sari Buah Inovasi 5 Mahasiswa Universitas Brawijaya

Avirista Midaada, Jurnalis · Senin 11 Maret 2019 17:43 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 03 11 65 2028542 pelindung-smartphone-dari-sari-buah-inovasi-5-mahasiswa-universitas-brawijaya-wk5YoO9pNF.jpg Foto: Okezone

MALANG - Lima orang mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) menciptakan inovasi produk anti bakteri pada smartphone dari bahan buah.

Kelima mahasiswa yakni M. Kiki Saputra (FP), Grandy Zovanca (FP), RevinYohanes Abraham (FP), Cynthia Ayu Dwi Lestari (FMIPA), dan Rininta Arifianingsih (FK), berinovasi menggunakan sari kelapa dan sari apel ke dalam pelindung smartphone yang diberi nama protect magic.

Baca Juga: Universitas Brawijaya Sabet Akreditas A dari BAN-PT

Menurut salah seorang pembuat pelindung smartphone Grandy Zovanca, produk ini dibuat mengingat semakin meningkatnya kebutuhan manusia akan teknologi dan dunia mobile.

"Manusia itu sekarang tidak bisa lepas dari satu alat komunikasi berupa smartphone yang berpotensi berbahaya bagi kesehatan karena bisa membawa sejumlah mikroorganisme patogen ke manusia," jelasnya, Senin (11/3/2019).

Di bawah bimbingan dari dosen bernma Afifuddin Latief Adijedjo, produk unik ini diminati beberapa investor asing dari luar negeri, yakni UPMSTEM, School of Education & Social Sciences, dan Leading Edge NDT Technology (LENDT) Industrial Technology Division, untuk dikembangkan secara massal.

Baca Juga: Moeldoko: Daya Saing Tinggi Indikator Kemajuan Indonesia

Yang membanggakan produk kelima mahasiswa ini berhasil menjuarai ajang Asian Youth Innovation Awards (AYIA) - Malaysia Technology Expo (MTE 2019), yang berlangsung 21 - 23 Februari 2019 lalu di Putra World Trade Centre, Kuala Lumpur, Malaysia, Protect Magic berhasil menyingkirkan 19 negara.

"Semoga dengan inovasi lima mahasiswa ini dapat membawa manfaat bagi khalayak umum, menarik investor dan pengembang agar dapat bekerjasama dan dikembangkan lebih lanjut untuk dapat diproduksi massal yang berlangsung dalam jangka waktu panjang," terang dosen Fakultas Pertanian (FP) Afifuddin Latief Adijedjo.

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini