Isu Ketenagakerjaan Dibedah Jelang Debat Ketiga Pilpres

Achmad Fardiansyah , Jurnalis · Jum'at 15 Maret 2019 21:59 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 03 15 605 2030687 isu-ketenagakerjaan-dibedah-jelang-debat-ketiga-pilpres-e0tHrlN5Wm.jpg Diskusi Revolusi Industri 4.0 vs Ketenagakerjaaan (Foto: Ist)

JAKARTA - Debat ketiga pemilihan presiden (Pilpres) 2019 yang hanya melibatkan calon wakil presiden bakal digelar pada 17 Maret 2019. Salah satu tema yang akan diangkat adalah soal ketenagarkerjaan.

Direktur Eksekutif Jenggala Center, Syamsuddin Radjab lebih menyoroti tentang roadmap Industri 4.0 yang masih belum jelas. Padahal, road map itu penting untuk melindungi sektor ketenagakerjaan.

"Apalagi, serbuan tenaga asing tak bisa hindarkan. Makanya, diperlukan regulasi yang ketat untuk melindungi hak-hak warga negara," katanya dalam diskusi Jenggala Center bertajuk "Revolusi Industri 4.0 vs Ketenagakerjaan Kita” di Jakarta, Jumat (15/3/2019).

(Baca Juga: Prabowo Akan Lepas Saham Mayoritas Perusahaannya Jika Jadi Presiden)

Maruf Amin

Ia berharap presiden terpilih nanti dapat menempatkan isu ketenagakerjaan baik dalam maupun luar negeri sebagai bagian penting untuk menentukan kebijakan nasional untuk menambah devisa. "Outsourcing perlu dipertimbangkan untuk dievaluasi karena lebih banyak merugikan hak-hak tenaga kerja kita," tuturnya.

Mantan Ketua Umum APINDO, Sofjan Wanandi menilai dalam menghadapi revolusi 4.0, harus lebih menekankan penguatan Sumber Daya Manusia (SDM). Sehingga, program yang dicanangkan pemerintah untuk menguatkan SDM harus didukung.

"Tanpa SDM payah kita. Dan ini yang direncakan Pak Jokowi, bukan lagi infrastruktur, tapi SDM," katanya.

Beberapa negara bisa dicontoh, misalnya China dan Jepang, dan Indonesia bisa menjadi seperti kedua negara itu tergantung dari kesiapan SDM dalam mengelola sumber daya alam Indonesia. Sebab, Indonesia kaya sumber daya alam, dan penduduk.

Menurut Sofjan, adapun tantangan yang dihadapi Indonesia dalam menghadapi industri 4.0, selain SDM, adalah tidak adanya kerjasama antara pengusaha. "Di mana-mana di dunia ini kita berkelahi dengan manusia, bersaing bukan dengan besi. Besi-besi itu bisa kita beli," ujarnya.

Ia pun mendorong pengusaha pemula (startup) lebih giat, terbuka, dan transparan melakukan kerjasama demi mendapat keuntungan bersama. Hal itu bisa menjadi cara startup bersaing dengan pengusaha besar.

"Jangan sendiri-sendiri, harus ada kerjasama untuk melawan (pengusaha) gede-gede. Itu enggak mungkin lagi bisa dilawan kalau tidak ada kerjasama," ujarnya.

(Baca Juga: Jokowi-Ma'ruf Kembali Dapat Dukungan dari Kalangan Pesantren)

Sandiaga

Pakar politik dan hukum Setya Arinanto menambahkan, kemajuan zaman seperti teknologi tak mungkin bisa menggantikan peran sentral manusia. Pasalnya, teknologi bisa berkembang karena manusia.

"Di China sudah ada pembaca berita perempuan, tapi itu robot. Dia baca teks berita-berita baru. Dia ngomong terus, tapi manusia tetang penting," ujarnya.

Setya menilai dari perpsektif hukum dan politik, implementasi industri 4.0 dan ketenagakerjaan tak akan terlepas dari kepentingan politik dan bisnis. Untuk itu, ada orang yang berusaha menghapus outsourcing tapi ada juga yang ingin mempertahankan.

"Ini karena kepentingan, walaupun sudah sudah ada keputusan MK, walaupun tinggal mengubah UU atau menerbitkan peraturan pemerintah," katanya.

Ada lima hal yang perlu disiapkan, kata Setya, dalam menghadapi industri 4.0 dan 5.0. Yakni, komunikasi, kepemimpinan, kreasi, keingintahuan dan literasi.

Debat ketiga Pilpres hanya akan melibatkan cawapres, yakni Ma'ruf Amin berhadapan dengan Sandiaga Uno.

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini