nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Filipina Keluar dari Pengadilan Kriminal Internasional Karena Penyelidikan Terhadap Duterte

Rahman Asmardika, Jurnalis · Sabtu 16 Maret 2019 17:28 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 03 16 18 2030900 filipina-keluar-dari-pengadilan-kriminal-internasional-karena-penyelidikan-terhadap-duterte-AiEn0YKJGs.jpg Presiden Filipina, Rodrigo Duterte. (Foto: Reuters)

MANILA – Filipina akan keluar dari perjanjian yang membentuk Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) mulai Minggu, 17 Maret.

Penarikan Filipina itu dari Statuta Roma terjadi setahun setelah Presiden Rodrigo Duterte mengeluh tentang apa yang dia lihat sebagai "upaya bersama" oleh para pejabat PBB untuk menggambarkannya sebagai " pelanggar hak asasi manusia yang kejam dan tak berperasaan".

Dia mengecam apa yang dia anggap sebagai "serangan tak berdasar yang belum pernah terjadi sebelumnya dan keterlaluan pada dirinya secara pribadi". Demikian diwartakan Straits Times, Sabtu (16/3/2019).

BACA JUGA: Diancam Diseret ke ICC terkait Perang Narkoba, Duterte Ledek Barat

Diadopsi dan ditandatangani oleh 123 negara selama konferensi diplomatik di Roma pada 1998, Statuta Roma membentuk ICC dan memberinya yurisdiksi atas pengadilan genosida, kejahatan terhadap kemanusiaan dan kejahatan perang.

Filipina menandatangani Statuta Roma pada tahun 2000, dan meratifikasi serta mengesahkannya pada tahun 2011.

Pada Februari 2018, ICC memulai penyelidikan pendahuluan terhadap kebijakan keras dan kontroversial Duterte terkait perdagangan narkotika di Filipina.

Kebijakan itu dilaporkan telah menewaskan lebih dari 5.000 tersangka dalam baku tembak dan penggerebekan narkotika sejak Juni 2016, saat Duterte mulai menjabat sebagai Presiden Filipina. Dua pertiga dari mereka yang tewas diyakini telah dibunuh oleh pembunuh bayaran yang didukung oleh polisi.

ICC menuduh Duterte telah melakukan "kejahatan terhadap kemanusiaan" karena pembunuhan di luar proses hukum itu.

BACA JUGA: Presiden Filipina Rodrigo Duterte Diadukan ke Mahkamah Pidana Internasional

Keluarnya Filipina dari ICC tidak mencegah pengadilan itu untuk melakukan penyelidikan terhadap kasus Duterte. Namun, Juru Bicara Kepresidenan Filipina mengatakan bahwa ICC tidak dapat berbuat apa pun dan Manila tidak akan bekerja sama dengan penyelidikan tersebut.

"Mereka tidak bisa melakukan apa pun terhadap kita," katanya.

Burundi adalah negara pertama yang meninggalkan ICC pada 2017 di tengah investigasi atas "kejahatan bersejarah terhadap kemanusiaan" di negara Afrika tengah itu.

(dka)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini