Sempat Tegang, India dan Pakistan Saling Ancam Tembakkan Rudal

Rahman Asmardika, Okezone · Senin 18 Maret 2019 16:30 WIB
https: img.okezone.com content 2019 03 18 18 2031653 india-dan-pakistan-hampir-bertukar-tembakkan-rudal-ditengah-ketegangan-bulan-lalu-kx7ZseDJzc.jpg Ilustrasi. (Foto: Reuters)

NEW DELHI – Konflik antara India dan Pakistan bulan lalu hampir berkembang menjadi tidak terkendali jika tidak ada intervensi dari pejabat Amerika Serikat (AS), termasuk Penasihat Kemanan Nasional, John Bolton. Hal Itu diungkapkan oleh lima sumber yang mengenal baik rangkaian kejadian tersebut.

Menurut beberapa diplomat Barat dan sumber pemerintah di New Delhi, Islamabad dan Washington, pada satu kesempatan, India sempat mengancam akan menembakkan sedikitnya enam rudal ke Pakistan yang ditanggapi Islamabad dengan ancaman serangan rudal tiga kali lipat lebih banyak.

Ketegangan yang memuncak berpotensi memicu perang antara kedua negara berkekuatan nuklir tersebut. Untungnya, saling ancam itu tidak berkembang lebih jauh lagi dan tidak ada petunjuk yang menyiratkan bahwa rudal yang dilibatkan memiliki kekuatan nuklir, tetapi kejadian tersebut sempat memunculkan kekhawatiran di lingkaran pemerintahan di Washington, Beijing dan London.

Berdasarkan laporan Reuters, Senin (18/3/2019), ketegangan memuncak pada 27 Februari setelah Pakistan menembak jatuh jet tempur India dan menangkap pilotnya.

Video yang memperlihatkan pilot India yang berdarah, diborgol dan ditutup matanya, muncul di media sosial, mengidentifikasikan dirinya kepada para interogator Pakistan, memperbesar kemarahan warga India.

Sumber pemerintah India dan diplomat Barat mengatakan kepada Reuters, pada sore hari setelah insiden tersebut, Penasihat Keamanan Nasional India, Ajit Doval, berbicara melalui saluran yang aman kepada Kepala Intelijen Antar Layanan Pakistan (ISI), Asim Munir. Doval memberitahu Munir bahwa India tidak akan mundur dari operasi "kontra terorisme" baru mereka, meski seorang pilotnya ditangkap.

Seorang menteri pemerintah Pakistan dan seorang diplomat Barat di Islamabad secara terpisah mengonfirmasi ancaman khusus India untuk menggunakan enam rudal untuk menghantam sasaran di wilayah Pakistan. Mereka tidak menentukan siapa yang memberikan ancaman atau siapa yang menerimanya, tetapi menteri itu mengatakan badan intelijen India dan Pakistan "berkomunikasi satu sama lain selama pertempuran, dan bahkan sekarang mereka berkomunikasi satu sama lain".

Menteri yang berbicara secara anonim itu mengatakan, Pakistan menyatakan akan membalas serangan rudal India dengan tiga kali lipat dengan rudalnya sendiri.

"Kami mengatakan jika Anda akan menembakkan satu rudal, kami akan menembakkan tiga. Apa pun yang akan dilakukan India, kami akan merespons tiga kali lipat untuk itu, "kata menteri Pakistan tersebut.

Untungnya krisis tersebut tidak berlanjut menjadi lebih serius. Pada 27 Februari malam, Penasihat Keamanan Nasional AS, John Bolton berbicara di telepon dengan Doval hingga dini hari, 28 Februari dalam upaya untuk meredakan situasi.

Belakangan, Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo, yang berada di Hanoi, juga menghubungi kedua belah pihak untuk mencari jalan keluar dari krisis itu.

"Sekretaris Pompeo memimpin keterlibatan diplomatik secara langsung, dan itu memainkan peran penting dalam mengurangi ketegangan antara kedua belah pihak," kata Wakil Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS, Robert Palladino dalam sebuah briefing di Washington pada 5 Maret.

Paladino mengatakan, Pompeo berbicara dengan Doval, dan Menteri Luar Negeri dari India dan Pakistan, Susma Swaraj dan Shah Mahmood Qureshi. Seorang pejabat Departemen Luar Negeri menolak berkomentar ketika ditanya apakah mereka mengetahui ancaman dari kedua negara untuk menggunakan rudal.

Upaya yang dilakukan AS termasuk berusaha membujuk Pakistan untuk membebaskan pilot India yang ditahan.

Menteri Pakistan mengatakan, selain AS, intervensi untuk meredakan ketegangan juga datang dari China dan Uni Emirat Arab. India belum memberikan detailnya, tetapi mengatakan pihaknya berhubungan dengan negara-negara besar selama konflik.

Kedua negara telah berperang tiga kali sejak keduanya memperoleh kemerdekaan pada 1947, dengan perang terakhir terjadi pada 1971. Kedua pasukan saling tembak-menembak di sepanjang garis kontrol yang memisahkan mereka di Kashmir, tetapi ketegangan tampaknya terkendali untuk saat ini.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini