Pelaku Teror Masjid Selandia Baru Beli 4 Senjata Secara Daring

Rachmat Fahzry, Okezone · Senin 18 Maret 2019 17:59 WIB
https: img.okezone.com content 2019 03 18 18 2031707 pelaku-teror-masjid-selandia-baru-beli-4-senjata-secara-daring-rLdoLcCn2e.jpg Brenton Tarrant, teroris yang menyerbu masjid di Selandia Baru saat dibawa ke pengadilan. Foto/Reuters

CHRISTCHURCH - Pemilik salah satu toko senjata di Selandia Baru mengatakan pelaku teror penyerangan brutal masjid di Christchurch membeli senjata api beserta amunisi dari tokonya secara daring.

Pemilik toko Gun City, David Tipple mengatakan Brenton Tarrant warga Australia membeli empat senjata dan amunisi pada Desember 2017 hingga Maret 2018.

"MSSA, senjata otomatis bergaya militer, yang dilaporkan digunakan pelaku tidak dibeli dari toko Gun City. Toko tersebut tidak menjual MSSA untuknya, hanya senjata api kategori A," kata Tipple saat konferensi pers di Christchurch mengutip Reuters, Senin (18/3/2019).

Sebanyak 50 orang tewas dan 42 lainnya terluka di dua masjid berbeda di Christchurch pada Jumat pekan lalu.

Foto/Reuters 

Menurut hukum persenjataan Selandia Baru, senjata kategori A dapat dimodifikasi menjadi senjata semi-otomatis namun dibatasi tujuh peluru. Namun dalam rekaman siaran langsung yang direkam pelaku,menunjukkan senjata semi otomatis berisikan banyak peluru.

BacaIngin Wakili Diri Sendiri, Pelaku Penembakan Masjid di Selandia Baru Pecat Pengacaranya 

BacaAustralia Ungkap Penyebab Penembak Dua Masjid di Selandia Baru Tak Masuk Daftar Hitam Kepolisian

Tipple menjelaskan bahwa pembelian daring mengikuti proses pemesanan melalui verifikasi polisi secara daring pula. Kemudian senjata-senjata tersebut dibeli dalam tiga atau empat proses pembelian.

"Kami tidak menemukan hal-hal khusus dalam pemegang lisensi. Pelaku merupakan pembeli baru dengan lisensi baru," kata dia.

Lisensi senjata api kategori A standar dikeluarkan setelah pemeriksaan polisi dan latar belakang. Tidak ada lisensi yang diharuskan untuk membeli senjata yang berisikan banyak peluru, yang secara ilegal dapat dimodifikasi untuk digunakan sebagai senjata.

Lisensi hanya diperuntukan bagi pemilik, bukan senjata. Oleh sebab itu, tidak ada pengawasan tentang berapa banyak senjata yang dimiliki seseorang.

Batas usia minimum pemegang lisensi senjata yakini 26 tahun. Sedangkan untuk senjata semi otomatis 18 tahun.

Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern akan merubah regulasi soal kepemilikan senjata.

Ardern mengatakan, tersangka mendapat lisensi senjata api "kategori A" pada 2017, dan mulai menimbun senjata secara legal pada saat itu.

Dia menambahkan, "faktanya" bahwa hal seperti ini terjadi berarti rakyat ingin melihat perubahan pada undang-undang senjata api, dan dia berkomitmen untuk mendukung perubahan tersebut.

(fzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini