Share

Januari-Maret Terjadi 21 Kecelakaan di Perairan Jambi, 18 Orang Meninggal

Azhari Sultan, Okezone · Kamis 28 Maret 2019 10:37 WIB
https: img.okezone.com content 2019 03 28 340 2035995 januari-maret-terjadi-21-kecelakaan-di-perairan-jambi-18-orang-meninggalkan-9d2GVkGjQg.jpg Ilustrasi evakuasi korban kecelakaan kapal laut. (Foto: Okezone)

JAMBI – Basarnas Provinsi Jambi mencatat angka musibah kecelakaan pada Januari hingga Maret 2019 mencapai 21 kasus. Hal ini sebagaimana diungkapkan Kepala Basarnas Jambi Ibnu Harris Al Hussain.

Ia mengatakan, dalam 21 kasus kecelakaan itu terdapat korban selamat 150 orang, 18 meninggal dunia, 1 luka berat, dan 1 luka ringan.

"Dalam operasi tersebut lebih dominan pada kondisi membahayakan manusia, yaitu kecelakaan di sungai," ujar Ibnu, Kamis (28/3/2019).

(Baca juga: Kapal Terbalik Diterjang Ombak, Nelayan Hilang di Perairan Tanakeke)

Dia menuturkan, laporan kecelakaan ataupun korban tenggelam di wilayah Provinsi Jambi cenderung meningkat setiap tahunnya.

Ilustrasi mayat. (Foto: Shutterstock)

Berdasarkan data Basarnas Jambi selama tiga tahun mencatat pada 2017 terdapat 36 kasus, 2018 meningkat hingga 60 kasus, sementara awal 2019 pada Januari hingga Maret ada 21 kasus.

(Baca juga: Speedboat Berpenumpang 20 Orang Kecelakaan di Sungai Musi, 4 Korban Tewas)

Terkait kecelakaan kapal di perairan Jambi, pada 2017 ada 2 kasus, 2018 ada 7 kasus, sedangkan 2019 ada 1 kasus pesawat mendarat darurat yakni Malaysia Airlines.

Korban jiwa akibat kecelakaan maupun korban tenggelam cukup tinggi selama tiga tahun ini. Pada 2017 terdapat 27 orang meninggal dunia, 2018 ada 40 orang meninggal dan 4 hilang, sedangkan 2019 sejak Januari hingga Maret ada 18 orang meninggal dan 1 hilang.

"Korban jiwa cukup tinggi selama tiga tahun ini. Paling banyak korban tenggelam," kata Ibnu.

Guna mencegah terjadinya korban kecelakaan, Ibnu mengimbau masyarakat, termasuk kapal angkutan laut nelayan, untuk menggunakan beacon radio.

"Radio beacon ini untuk memudahkan pencarian petugas, karena memancarkan sinyal emergency. Kalau dinyalakan perorangan, di hutan atau di laut sinyalnya tetap terbaca. Bagi nelayan baiknya menggunakan alat ini," imbuh dia.

Ilustrasi kapal tenggelam. (Foto: Okezone)

Menurut Ibnu, harga alat ini di pasaran tidak mahal dan sangat penting digunakan untuk aktivitas di pelayaran.

Selain itu, ia mengimbau pemilik kapal atau perusahaan yang memiliki kapal agar meregistrasi beacon atau epirb (emergency possitioning indacator radio beacon).

"Ini dilakukan agar semua kapal yang ada di Provinsi Jambi terdata, di mana apabila terdapat emergency kita bisa dapat tahu informasi pemilik kapal tersebut," tutur Ibnu.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini